Pulang dari Pengungsian, Rumah Tinggal Kenangan

157

Banjir telah usai. Di saat pengungsi kembali ke rumahnya masing-masing, Rumiyati kehilangan rumahnya. Banjir yang menerjang kelurahan Paju itu merobohkan rumahnya. Kini, dia harus tidur di rumah anaknya yang sama mengenaskannya.

RUMIYATI pasrah memandangi rumahnya yang porak-poranda. Dinding bagian timurnya ambrol. Reruntuhan batu bata masih berantakan. Terendam lumpur yang masih lekat di lantai. Dia tak tahu harus berbuat apa. Sebagian warga bahu-membahu memasang tiang sementara dari bambu. Agar, atap rumah nenek 65 tahun itu tidak roboh total. ‘’Sementara numpang ke rumah anak dulu. Gak bisa ditempati lagi,’’ kata Rumiyati.

Sebenarnya Rumiyati mendengar bunyi gemuruh dari arah rumahnya saat mengungsi. Namun, ketinggian air menghalanginya untuk menengok apa yang terjadi di rumahnya. Dia memilih bertahan di rumah tetangganya yang berlantai dua. Apalagi malam itu penerangan mati total. Baginya, menyelamatkan diri dan menjaga suaminya yang mulai melemah akibat usia lebih penting. Saat itu, dia hanya bisa pasrah dan memanjatkan doa. ‘’Bisanya nyebut (istighfar, Red) waktu ngungsi di rumah tetangga,’’ lanjutnya.

Ketinggian air bertambah setiap detiknya. Memaksa seluruh warga setempat harus mengungsi di posko pengungsian Masjid Agung Ponorogo. Namun warga harus cukup bersabar lantaran harus antri. Bersamaan itu pukul 01.00 Kamis dini hari (7/3) terdengar bunyi gemuruh. Sekitar pukul 03.00, Rumiyati bersama keluarganya mendapat giliran diangkut menggunakan perahu karet sebelum dipindahkan ke truk TNI menuju posko pengungsian. Sehari selamam, dia menjalani aktivitas bersama para pengungsi lainnya. Tidak mengetahui bahwa rumahnya telah roboh. ‘’Gak tahu, meski waktu mau ngungsi dengar suara gemlegar,’’ ungkapnya.

Setelah mendapat informasi air mulai surut, Rumiyati bersama para pengungsi lain kembali ke rumah masing-masing. Betapa terkejutnya dia mendapati rumahnya sudah porak-poranda. Selain tertimbun lumpur, dinding bagian timur ambrol. Pun atapnya roboh. Warga yang juga mengetahui hal itu meluangkan waktu turut membersihkan rumah Rumiyati. Sembari menunggu bantuan dari pemerintah. ‘’Belum ada bantuan, kemarin ada petugas sudah melihat tapi baru diberi sembako,’’ sambungnya.

Rumah anaknya sejatinya masih tersambung dengan kediaman Rumiyati. Terletak di belakang rumahnya. Konstruksi rumah yang gandeng itu pun cukup berisiko. Sewaktu-waktu, rumah anaknya bisa ikutan ambrol. Ketua RT setempat telah melaporkan persoalan yang merudung Rumiyati ini ke pemerintah desa dan diteruskan ke dinas terkait. ‘’Pak RT yang sering bantu,’’ ucapnya. *** (fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here