Madiun

PT JNK Cari Tahu Penyebab Genangan

MADIUN – Selain membuat tanggul darurat di Km 603 hingga 604, PT Jasamarga Ngawi Kertosono (JNK) menganalisis ulang pergerakan air di Desa Glonggong, Balerejo, Kabupaten Madiun. Lokasi meluapnya banjir aliran Kali Jerohan Rabu lalu (6/3). ‘’Survei ulang hidrologi untuk evaluasi dan mengetahui konklusi penanganan permanen banjir tol,’’ kata Direktur Utama PT JNK Iwan Moedyarno kemarin (12/3).

Iwan belum punya gambaran final terkait bentuk permanen pencegahan banjir di Km 603–604. Sebab, konsultan belum menuntaskan survei pergerakan air di kawasan tersebut. Hasil kajian dari pihak ketiga yang dulu turut memberikan masukan atas desain jalan bebas hambatan itu memuat sejumlah solusi. Kelak hasil rekomendasi yang ditarget keluar dalam 14–20 hari ke depan ini bakal dikomunikasikan ke Kementerian PUPR. Sebab, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo melakukan analisis serupa. ‘’Supaya solusinya terarah,’’ ujarnya dihubungi via telepon seluler.

Iwan menegaskan bahwa survei ulang tidak berkaitan dengan adanya masalah pada desain bangunan yang pembangunannya dimulai empat tahun lalu. Alasannya, Glonggong diketahui sebagai daerah langganan banjir. Artinya, ada tidaknya jalan bebas hambatan, kawasan tersebut tetap terendam air ketika debit air tinggi. Malah, dia menilai dalam kejadian banjir kali ini, posisi lembaganya juga sebagai korban. ‘’Ibaratnya kami ini sama dengan warga. Punya rumah yang terendam di sana (Glonggong, Red),’’ tuturnya.

Desain tol Km 603-604 yang dibangun di kawasan rawan banjir itu diklaim telah memenuhi standar. Lokasinya berjarak sekitar 300 meter dari bibir Kali Jerohan. Konsultan yang digandeng PT JNK telah melakukan analisis hidrologi dengan mengambil kronologi kejadian dalam kurun 50 tahun ke belakang. Seperti tingkatan tertinggi mulai curah hujan, kedalaman banjir, serta tempo mengalir dan surutnya air. Hasil analisisnya dinyatakan aman hingga dijadikan acuan menghindari. Karenanya, PT JNK kaget mendapati air bisa menggenang hingga kedalaman 80 sentimeter di jalan bebas hambatan. ‘’Selain solusi, survei ulang untuk mencari tahu mengapa kondisinya berbeda dengan hasil analisis awal. Apakah pengaruh anomali cuaca atau sebab lainnya,” papar Iwan.

Iwan tidak memungkiri terjadi kasak-kusuk publik ihwal tol menjadi salah satu biang penyebab banjir. Resapan air tanah berkurang drastis karena dibendung bangunan beton. Namun, dia menepis pandangan tersebut. Kemungkinan itu sudah diantisipasi sejak awal melalui pembuatan drainase di sepanjang tol. Gorong-gorong dibangun di bawah bangunan yang ditembuskan ke area sebelahnya. Berfungsinya sistem pengairan itu bisa dilihat pada banjir di Km 603-604. Yakni, luapan air masuk dari sebelah selatan dan menggenang di jalur B atau arah Surabaya ke Madiun. Meski debitnya tidak setinggi sebelah selatan, air menggenang di sisi utara. ‘’Artinya, tidak ada problem di drainase. Tol ini bukan bendungan,’’ tekannya.

Lantas, mengapa air tidak bisa mengalir merata? Iwan berdalih karena tanah di titik tersebut cekung. Sisi sebelah utara jauh lebih tinggi ketimbang selatan. Akibatnya, air tidak bisa keluar dengan sempurna. Selain mengarah ke sisi sebaliknya, drainase juga diarahkan ke aliran Kali Jerohan. Namun, skema itu tidak berjalan lantaran volume sungai sudah overload. ‘’Penampang sungai maksimal menampung air sebanyak 894 meter kubik per detik. Tapi, yang terjadi 1.100 meter kubik per detik,’’ paparnya sambil menyebut kurang hafal jumlah dan ukuran gorong-gorong di Km 603–604.

Sembari menunggu hasil survei, PT JNK telah mengantongi sejumlah opsi yang memungkinkan menjadi solusi permanen. Di antaranya membuat tanggul beton yang tinggi, peningkatan gorong-gorong, dan membangun long storage atau penampungan air. ‘’Selain menunggu survei, tidak bisa mengandai-andai kapan bisa direalisasikan. Yang jelas secepatnya,’’ tandas Iwan. (cor/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close