Madiun

PT INKA Jatuh Hati Banyuwangi karena Punya Pelabuhan

MADIUN PT INKA di Kota Madiun memang masih menjadi kantor induk. Namun, secara konseptual, pabrik yang selama ini dikenal sebagai ikonnya Kota Pecel “kalah” dengan Banyuwangi. Mulai dari aspek luas bangunan, fasilitas pelengkap, proyeksi kapasitas produksi, hingga sektor pemasaran. ’’Karena Banyuwangi fokus pasar luar negeri tentu ada modernisasi,’’ kata Senior Manajer Humas Sekretariat dan Protokol PT Inka Hartono, 10 April pekan lalu.

Lokasi “adik” Inka Kota Madiun berada di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro. Berjarak tiga kilometer dari Pelabuhan Peti Kemas Tanjung Wangi. Dibangun di lahan seluas 83 hektare. Empat kali lipat dari luasan pabrik di Kota Gadis yang hanya sekitar 22,5 hektare. Namun, baru lahan 30 hektare yang digunakan untuk tahap awal. Sisanya sebagai pengembangan secara bertahap. Investasi yang bakal ditanamkan perusahaan pelat merah ini mencapai Rp 1,6 triliun.

Tahap awal, dikucurkan Rp 600 miliar untuk pembangunan gedung workshop atau produksi. Juga akuisisi lahan seluas 83 hektare dari PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII. Negosisasinya klir pertengahan tahun lalu. Dana miliaran tersebut bagian dari penyertaan modal negara (PMN) 2016 sebesar Rp 1 triliun. Pembangunan yang sedang berlangsung saat ini ditarget kelar tahun depan.‘’’Kekurangan Rp 1 triliun kelak untuk pengembangan seperti kelengkapan alat produksi dan uji,’’ ujarnya sembari menyebut pabrik Kota Madiun mendapat porsi pengembangan internal dan peremajaan mesin menggunakan sisa dana PMN 2016 sebesar Rp 400 miliar.

Salah satu pengembangan itu pembuatan test track. Di Kota Madiun, fasilitas penguji rem dan sistem mesin itu tidak ideal karena panjangnya 800 meter. Selama ini penggunaan sebatas maju dan mundur demi mengetahui kereta yang diproduksi berfungsi. ‘’Test track sepanjang empat kilometer yang sekaligus untuk akselerasi dan deselerasi,’’ ungkapnya.

Sedangkan kapasitas produksi pabrik Inka di Banyuwangi diproyeksikan mencapai empat unit kereta per hari. Asumsinya ketika kelak pabrik sudah beroperasi secara penuh. Kapasitas tersebut dua kali lipat dibandingkan Kota Madiun yang rata-rata dua kereta per hari. ’’Meski tidak bisa dijadikan acuan karena banyak tidaknya produksi berdasarkan pesanan,’’ ucap Hartono kepada Radar Madiun.

Wacana Inka melebarkan sayap mencuat pertengahan 2016. Perusahaan negara itu menyadari masalah pelik dengan beban kerja produksi 24 jam nonstop. Perluasan di lingkup Kota Madiun yang sempat muncul tidak bertahan lama. Terbentur kondisi geografis sekeliling pabrik yang sempit dan tidak ada lahan kosong.

Lurah Madiun Lor Lina Febriana Hapsari pernah mendapati pemandangan ruas Jalan Yos Sudarso macet. Kendaraan mengular dari arah selatan dan utara akibat truk kontainer melintangi jalan. Tepat di depan pintu masuk Inka. Kendaraan yang besarnya melebihi bus itu kesulitan keluar karena sempitnya ruang pintu pabrik dengan badan jalan. ‘’Bisa saja membangun di titik lain area Kota Madiun. Tapi, kembali lagi, orientasi kami pengembangan produksi ekspor,’’ beber Hartono yang sudah bekerja di Inka sejak 1992 silam.

Sebelum jatuh hati ke Banyuwangi, Inka telah meneropong tiga daerah lain sebagai lokasi ekspansi sepanjang 2017. Yakni, tiga titik di Gresik, Kabupaten Pobolinggo, dan Lampung. Hasil akhir penjajakan, ketiga daerah tersebut kurang visible. Gresik dicoret lantaran estimasi biaya investasi dan operasional sangat tinggi. Sedangkan kondisi infrastruktur jalan yang kurang memadai melatarbelakangi pengabaian Lampung. ’’Banyuwangi jauh lebih strategis dan prospektif karena pelabuhannya,’’ katanya.

Mengapa pelabuhan? Hartono menyebut lembaganya ingin memangkas biaya operasional pengiriman kereta lewat jalur darat. Selama ini kereta diangkut menggunakan truk kontainer menuju Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Paling tidak butuh dua hari untuk sekali antar via jalur arteri sepanjang 180 kilometer. Bergantung pula dengan berat barang serta ramai lancarnya arus lalu lintas. Keberadaa tol Trans Jawa tidak cukup efektif. Jalan bebas hambatan hanya memangkas waktu tinggal delapan jam. ‘’Bandingkan dengan Banyuwangi cuma tiga kilometer sudah sampai pelabuhan. Dermaga Pelindo III juga cukup luas untuk menampung banyak peti kemas,’’ ucap Hartono.

Kendati demikian, dia belum bisa memastikan biaya operasional yang bisa dihemat kelak atas peralihan jalur pendistribusian itu. Sekalipun dalam estimasi persentase. Alasannya, tim yang dulu melakukan survei lokasi tidak mengkaji detail efisiensi. Sehingga perlu dihitung dengan membandingkan antara biaya di Kota Madiun dan Banyuwangi. Berdasar laporan rencana jangka panjang perusahaan (RJPP) 2015–2019, biaya operasional membengkak selama periode tersebut. Tahun ini proyeksi naik Rp 2,9 triliun dari sebelumnya Rp 2,3 triliun (selengkapnya lihat grafis, Red). ‘’UMR (upah minimum regional) Banyuwangi juga tidak beda jauh dengan Kota Madiun,’’ ujarnya. (*/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close