PSK-Mucikari Baben Mbalela

4711

MAOSPATI – Lima tahun lalu, eks lokalisasi Madusari resmi ditutup Pemkab Magetan. Ternyata, geliat praktik esek-esek itu masih ada. Kondisi ini yang menyulut kemarahan warga di lingkungan sekitar eks lokalisasi yang kondang dengan nama Baben itu. ’’Bulan lalu ada pemeriksaan dari dinkes (dinas kesehatan, Red), ada delapan yang positif HIV,’’ kata Didik, salah seorang warga.

Parahnya lagi, setiap kali ada razia oleh pihak Satpol PP dan Damkar Magetan, hasilnya zonk. Dia pun bertanya-tanya apakah ada yang membocorkan informasi sebelum razia itu kepada para pemilik rumah dan para PSK. Sehingga, tidak ada yang terjaring. Kondisi itu bukan hanya di eks lokalisasi Madusari, melainkan juga di  kawasan Jalan Agung. ’’Seharusnya setiap hari diadakan patroli dari babinsa dan bhabinkamtibmas,’’ terang Didik.

Namun, ada pula warga yang tidak sependapat dengan Didik. Seperti Surono yang menginginkan agar keberadaan lokalisasi itu tetap dibiarkan. Dia merasa kasihan jika lokalisasi ditutup akan mengganggu mata pencarian para pedagang dari luar Kelurahan Maospati. Tak sedikit para lanjut usia (lansia) yang berjualan ke eks lokalisasi itu. ’’Yang namanya ada gula ada semut. Kalau mbak-mbaknya tidak ada lagi, rezeki mbah-mbah itu tidak di sini lagi,’’ jelas Surono.

Sedangkan Lurah Maospati Suwita Hadi mengatakan bahwa eks lokalisasi itu benar adanya masih beroperasi. Dia mendapati sendiri kegiatan itu bersama perangkatnya yang beberapa kali melakukan pemantauan. Padahal, keberadaannya sudah ditutup resmi sejak 31 Desember 2013 silam. Sehingga tak heran jika warga sekitar banyak yang mempertanyakan kesungguhan penutupan baben itu. ’’Sangat memprihatinkan kondisinya, karena masih ada,’’ ujarnya.

Mbalelanya para pemilik bangunan eks lokalisasi Madusari membuat ketakutan tersendiri bagi warga Kelurahan Maospati. Mereka khawatir insiden dibakarnya Lokalisasi Sadon bakal terulang di Madusari. Sehingga, untuk mengantisipasinya dia mencoba mengingatkan kembali warganya. Pun, jika sewaktu-waktu satpol PP dan damkar merazia mereka, pihak kelurahan tidak mau bertanggung jawab. ’’Karena sudah kami ingatkan,’’ katanya.

Suwita tidak akan memulangkan para PSK di sana. Sebab, setelah ditutup, para PSK sudah dipulangkan ke daerah asal. Mereka juga mendapatkan pesangon. Termasuk diberi pelatihan keterampilan, seperti menjahit beserta alat-alatnya. Seharusnya aktivitas bisnis esek-esek di sana sudah bersih. ’’Sudah ditutup kok masih ada, artinya ini ilegal bukan legal,’’ tegasnya.

Suwita pun sudah patah arang. Beberapa warga yang kena razia satpol PP dan damkar sudah dipulangkan setelah mendapat pembinaan. Memang, sebagai lurah menjadi tugasnya untuk membina warganya. Namun, warganya seakan tak menggubrisnya karena masih saja menjalankan usaha haram itu. ’’Sudah tidak ada faedahnya (membina, Red),’’ tandasnya. (bel/c1/ota)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here