Bupati Menulis

PSHT Bermakna Besar atau Kecil

DUA minggu yang lalu, saya bertemu Mas Taufik di Pendopo Surya Graha Magetan. Pertemuan informal disertai jamuan makan malam sederhana tersebut diikuti Mas Kapolres Magetan dan Mas Dandim 0804 Magetan serta beberapa kepala dinas. Tidak ada rencana pembicaraan hal yang khusus dalam pertemuan informal tersebut. Namun semata-mata untuk silaturahmi.

Kedatangan Mas Taufik mampir ke Magetan dalam rangka memenuhi undangan Kapolda Jatim. Dan tampaknya undangan tersebut juga bersama dengan Mas Moerdjoko. Karena kemudian saya menerima kiriman informasi hasil pertemuan tersebut berupa nota kesepakatan antara PSHT hasil Parluh 2016 dengan PSHT hasil Parluh 2017.

Tentu dalam kesempatan tersebut saya juga sampaikan harapan saya bersama forkompimda dan masyarakat Magetan agar saling menjaga kemanan dan stabilitas khususnya di Magetan di bulan Suro ini. Saya juga sampaikan bahwa energi kita akan habis kalau setiap tahun di bulan Suro diliputi rasa waswas terus menerus, karena semua potensi dikerahkan untuk menjaga keamanan bila waktu pengesahan tiba.

Bukankah ajaran PSHT itu sangat luhur. Namanya saja persaudaraan. Sebagai ajaran utama. Sedang pencak itu sebenarnya sebagai kuda penarik agar setiap orang tertarik masuk di PSHT. Sudah sewajarnya kalau ikatan persaudaraan sebagai warga PSHT menjadi sangat mengedepan.

Saya mencoba tengok ke belakang, bagaimana dulu PSHT di tahun 1970-an. Awal perguruan ini mulai berkembang. Di Madiun dan juga di kabupaten sekitar. Ketika saya tahun 1971 masuk ikut latihan di PSHT, di Kabupaten Magetan belum ada tempat latihan yang terstruktur dengan baik. Satu-satunya tempat latihan yang terstruktur adalah di Maospati. Secara kebetulan saya lahir dan sekolah sampai di sekolah menengah di Maospati.

Ketika kelas dua mau naik kelas tiga SMP Negeri Maospati (sekarang SMPN 1 Maospati), dibuka latihan PSHT dan saya masuk ikut latihan. Tempat latihan ada di ST Kimia-Keramik (sekarang SMPN 3 Maospati) yang halamannya ketika itu sangat luas. Karena memang ruangan kelasnya sangat terbatas. Dan muridnya juga tidak banyak.

Pada waktu latihan pertama yang ikut banyak. Menurut hemat saya lebih dari dua ratus siswa ketika itu. Waktu latihan pertama ya cukup pakai celana pendek dan kaus. Namun, dalam perjalanan seragam latihan pakai baju latihan warna kuning. Karena memang pada waktu itu masih masa sulit ekonomi. Namun bahan yang dipakai hampir semua peserta seragam latihannya, dibuat dari bekas karung terigu (cap Segitiga Biru). Kemudian diwenter warna kuning. Sedang penjahit cari yang murah di pasar.

Yang melatih hampir semua adalah dari TNI-AU yang banyak ikut PSHT ketika itu. Sehingga yang melatih adalah orang-orang dewasa. Yang menurut saya cukup matang, baik penguasaan ilmu pencak silatnya maupun cara mendidiknya. Memang keras, namun cukup terstruktur. Karena kematangan itulah, ketika masuk dalam ke-SH-an cukup menarik cara penyampaiannya. Dan karena kita semua kebanyakan murid-murid sekolah, banyak petuah-petuah yang diberikan. Salah satu di antaranya, bagaimana mencapai cita-cita. Bagaimana menjadi manusia berbudi luhur tahu benar dan salah. Kemudian kalau sudah berkarir baik, kira-kira kontribusi ikut PSHT itu di mana. Itu semua yang kemudian memantapkan saya ikut latihan dengan tekun.

Mungkin bagi teman-teman satu angkatan saya ketika ikut latihan PSHT, berasal dari berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda. Dan sudah tentu cara menyerap ilmu yang diberikan akan berbeda. Bagi yang melulu ingin mencari semata-mata ilmu kanuragan, akan berbeda dengan saya misalnya. Dan itu sah-sah saja. Dan pada akhirnya dari perguruan yang sama. Gurunya sama. Ilmu yang diberikan sama. Namun hasil akhirnya bisa berbeda-beda. Tergantung pada fokus apa yang akan diambilnya.

Waktu itu latihan dilaksanakan dengan ketat dan disiplin. Tidak heran, setiap naik tingkat dari polos ke jambon pesertanya banyak yang berguguran. Istilah yang umum waktu itu dikatakan “mrothol.” Sedang orangnya disebut “protolan.” Dari lebih dua ratus orang, ketika naik tingkat ke tingkat jambon, tinggal separo yang masih ikut latihan. Sebab-sebab mereka mrothol, karena tidak dapat izin orang tuanya. Memang latihannya malam hari sehingga dianggap mengganggu belajar. Alasan yang lain, takut ketika sambung. Atau tidak kuat, karena memang latihan fisiknya cukup keras.

Demikian juga ketika naik ke tingkat hijau, juga semakin sedikit, tinggal lima puluh orang. Malahan ketika tingkat putih tinggal sekitar dua puluh orang. Ketika tingkat putih itulah saya sudah kelas satu Magetan akan naik kelas dua SMAN Magetan (sekarang SMAN 1 Magetan). Latihan seminggu tiga kali. Sehingga saya harus bersepeda berdua dengan teman kosan -sama-sama asli Masopati- ke Maospati setiap latihan. Selesai latihan sekitar jam 02.00 dini hari. Sampai di kos tidur sebentar kemudian masuk sekolah.

Ternyata tidak semua yang sudah tingkat putih disahkan menjadi warga. Ada beberapa yang harus mrothol. Ketika saya awal naik kelas dua SMAN Magetan, saya disahkan sebagai warga PSHT tepat pada ulang tahun saya 3 Februari 1974. Sebagai tebusan istilah waktu itu, waktu pengesahan kita bayar dengan uang tidak laku. Baik itu pakai uang benggol, sen, maupun uang tidak laku lainnya. Memang PSHT jauh dari komersial ketika itu.

Waktu pengesahan, kita bersama dengan warga baru seluruh Indonesia yang dipusatkan di Madiun. Waktu itu belum ada perguruan pencak silat yang lebih eksis di madiun selain PSHT. Sehingga ketika bulan Suro, waktu pengesahan Kota Madiun tenang saja. Tidak ada yang namanya aparat keamanan berjaga-jaga. Malahan waktu kita  mau disahkan, semua ziarah ke makam Eyang Suro di Winongo dengan berjalan kaki di waktu malam, juga tidak apa-apa.

Setelah disahkan sebagai warga PSHT, dan sebagai bentuk tanggung jawab untuk menyebarkan ajaran PSHT yang memang luhur tersebut, saya berserta teman-teman mendirikan PSHT di Kota Magetan. Yang memang ketika itu baru di Maospati yang sudah ada. Dan tempat lainnya belum ada yang terstruktur. Harapan saya, ketika saya nanti lulus SMAN Magetan, sudah bisa mengesahkan warga baru sehingga PSHT akan berkembang.

Alhamdulillah sambil belajar saya melatih bersama teman-teman. Banyak siswa teman sekolah saya di SMAN Magetan ketika itu. Karena ketika saya mendirikan PSHT di Magetan sudah banyak berdiri perguruan lain. Namun ketika terjadi gesekan sedikit, cukup kita yang memimpin, duduk bersama, dan selesai. Tidak pernah terjadi gesekan.

Ketika saya lulus SMAN Magetan tahun 1975, akhirnya kita bisa mengirim atau mengesahkan sekitar tujuh orang warga yang dipusatkan di Madiun. Tentu saya sangat gembira. Artinya, setelah saya tinggal kelak bersama teman-teman untuk meneruskan kuliah, PSHT akan berkembang menjadi besar. Karena saya yakin sudah ada yang akan meneruskannya. Sampai-sampai waktu itu kita pelatih punya nazar, bila kelak bisa mengesahkan warga baru, akan jalan kaki dari Magetan sampai Solo. Dan itu kemudian saya lakukan bersama teman-teman.

PSHT Magetan semakin lama semakin besar. Dan tidak hanya di Magetan. Sekarang PSHT menjadi organisasi pencak silat yang sangat besar. Namun apakah yang besar ini kemudian bermakna besar. Ada sebuah pesan yang mungkin patut kita renungkan bersama. Dan khususnya bagi warga PSHT yang di bulan Suro seperti saat ini sedang mengesahkan warga barunya.

Sesuatu yang besar itu bermakna besar adalah sebuah kewajaran. Demikian juga sesuatu yang kecil, bermakna kecil itu juga  sebuah kewajaran. Sebaliknya sesuatu yang kecil namun bermakna besar itulah kecerdasan. Tetapi ada juga, sesuatu yang besar justru bermakna kecil itulah kebodohan.

PSHT menurut saya adalah sebuah organisasi yang demikian besar. Bahkan amat besar. Namun bermakna besar atau kecil, terpulang kepada semua warga sendiri. Mau memilih yang mana. Kalau memilih yang bermakna besar, tentu segera mengubah haluan. Tidak menimbulkan kekhawatiran setiap bulan Suro tiba. Tidak menimbulkan kekhawatiran ketika pengesahan tiba. Alangkah sayangnya organisasi luhur yang demikian besar, kalau harus memilih tidak bermakna besar ketika terjadi masalah internal dalam organisasinya. Mengapa tidak ”rukun” jalan yang diambil.

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close