Proyek Tol ’’Bunuh’’ 5 Km Saluran Air

262

PILANGKENCENG – Pembangunan ruas tol Ngawi–Wilangan menyulitkan para petani di Desa Purworejo, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun. Saluran irigasi yang terdampak pembangunan nasional itu tak kunjung diperbaiki. Panjangnya sekitar lima kilometer! Membentang mulai Desa Purworejo sampai Desa Krapyak.

Saluran irigasi itu kini tak teraliri air. Bahkan sudah terlihat mendangkal. Parahnya lagi, hampir sepanjang satu kilometer saluran itu berada di dalam right of way (ROW) tol. Itu pun dipagar duri. Sehingga warga kesulitan merawat saluran irigasi tersebut. Mereka khawatir ROW itu menjadi area terlarang untuk dimasuki warga. ’’Ini mengganggu aktivitas para petani,’’ kata Kades Purworejo Bambang Sumitro, Kamis (7/6).

Saluran itu, diakui Bambang, sangatlah vital. Sebab, untuk mengairi sawah tidak cukup hanya mengandalkan air dari sumur pompa. Namun juga ditopang oleh air dari Waduk Notopuro. Dengan kondisi saluran yang mulai mendangkal, jelas alirannya tidak maksimal. Sementara sekarang sudah memasuki musim kemarau. ’’Kami berharapnya saluran ini kembali difungsikan seperti semula,’’ ucapnya.

Selama ini, Bambang sudah sering melayangkan surat kepada PT Jasa Marga Ngawi-Kertosono-Kediri (JNK). Namun, hanya janji-janji yang diberikan kepada warga Desa Purworejo. Hingga jalan bebas hambatan sepanjang 52 kilometer itu dioperasionalkan, belum ada upaya untuk memperbaiki saluran tersebut. ’’Semula sebagian saluran ini sudah dipelengseng, tapi sekarang rusak,” ungkapnya.

Pun, warga kini kehilangan bahu saluran. Padahal, sebelum terdampak tol, bahu saluran itu bisa digunakan untuk lewat sepeda dan sepeda motor. Namun, kini sudah tiada. Warga juga keberatan jika saluran yang berada di dalam ROW itu dikeluarkan. Pastinya, akan memakan lahan milik warga lagi. Sementara ROW itu tidak mungkin akan ditarik ke dalam karena sudah ada ketentuan ukurannya. ”Warga bertanya-tanya. Kenapa desa lain tidak seperti ini, dan hanya desa kami,” keluhnya.

Tak hanya saluran irigasi, underpass juga tak sesuai dengan perencanaan. Underpass itu menjorok ke dalam. Sehingga lokasi jalan lebih tinggi dibandingkan underpass. Alhasil, jika hujan underpass itu tidak bisa dilewati. Pasalnya, air menggenangi seluruh underpass. Air buangan dari jalan tol juga langsung turun ke bawah. ”Tidak ada saluran air pembuangannya,” terang Bambang.

Underpass itu juga sangat sempit dan pendek. Truk tidak bisa lewat. Padahal, jalan itu menjadi akses warga untuk mengangkut hasil pertanian. Alhasil, sekarang warga mengangkut hasil pertanian sedikit demi sedikit menggunakan pikap. Jelas, warga harus menambah ongkos angkut. ”Biasanya satu kali angkut, sekarang jadi berkali-kali,” jelasnya.

Warga juga dijanjikan bakal dibuatkan frontage. Dari sawah bakal diarahkan ke overpass Krapyak. Itu sebagai alternatif lantaran underpass yang sempit. Sayangnya, itu semua hanya janji. Sampai sekarang belum juga terealisasi. Dengan terpaksa, warga tetap menggunakan underpass yang sempit tersebut. ”Selama ini janji itu hanya untuk meredam emosi warga. Supaya tidak demo dan menggelar aksi,” pungkasnya. (bel/c1/ota)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here