Proyek Puskesmas Punung-Kalak Amburadul

278

PACITAN – Kualitas proyek pembangunan Puskesmas Punung dan Kalak amburadul. Komisi II DPRD Pacitan pun hanya bisa geleng-geleng saat inspeksi mendadak ke proyek yang dikerjakan rekanan PT Noor Lina Indah itu kemarin (4/1). ‘’Banyak temuan yang memang kurang pas,’’ kata Sekretaris Komisi II DPRD Pacitan Dandung Wahyu Wibowo.

Antara lain kanopi tidak terpasang sempurna. Sehingga harus ditambah penyangga. Pun pemasangan pagar tangga dan pengecatan tidak rapi. Kanopi tidak sempurna itu ditemukan di Puskesmas Kalak. Kanopi cor-coran semen itu disangga papan. Dandung menuding kondisi tersebut tidak sesuai detail engineering design (DED).

Sedangkan di Puskemas Punung pemasangan pagar tangga asal-asalan. Terutama pengelasan pagar yang tidak rapi. Termasuk pengecatan bangunan. ‘’Pengerjaan semuanya terburu-buru, kualitas cat dan sebagainya juga harus dievaluasi,’’ pintanya.

Pihaknya minta rekanan serius menyelesaikan pekerjaannya. Temuan hasil sidak harus diperbaiki. Dia menduga biang keladinya waktu pekerjaan yang mepet. Puskesmas Kalak misalnya, pekerjaan senilai Rp 3,2 miliar itu hanya diberi waktu 145 hari. Itu disebut tidak ideal.  ‘’Kalau sudah berani menawar ya harus bertanggung jawab. Tidak bisa banyak alasan,’’ sergahnya.

Lantaran hanya dijatah 145 hari, tidak heran rekanan dicibir. Bahkan, pemkab pun diminta tidak lepas tanggung jawab. Selain pekerjaan lemot, kualitas bangunan buruk juga akibat perencanaan eksekutif kurang matang. ‘’Secara makro, pemkab seharusnya juga memperhitungkan skedul awal mulai pendanaan sampai penawaran. Kalau dimulai sejak awal, mungkin waktu pelaksanaan juga bisa diperhitungkan,’’ kritiknya.

Komisi II tidak ingin mendapat temuan serupa di lain waktu. Kejadian tersebut, kata dia, harus jadi pembelajaran agar pemkab melakukan perhitungan matang dalam rencana penggunaan anggaran. Terutama, pembangunan fisik yang memerlukan perhatian sejak perencanaan. ‘’Jangan sampai mepet dengan tutup tahun. Nanti akan memengaruhi kualitas bangunan. Sebaiknya, diperhitungkan sejak awal,’’ ujarnya.

Endro, pelaksana proyek Puskesmas Kalak,  juga berdalih kontrak kerjanya terlalu mepet. Sementara pekerjaannya pun banyak. Sehingga, waktu 145 hari itu tidak cukup untuk merampungkan pekerjaan tersebut. Dia pun beralasan musim penghujan jadi penyebab lain molornya pekerjaan. ‘’Cuaca memengaruhi. Hujan terus,’’ dalihnya.

Namun, pihaknya sudah menerima konsekuensi. Salah satunya denda kontrak yang mencapai Rp 3 juta per hari keterlambatan. Sedangkan keterlambatannya sekitar 15 hari. Dia pun menerima kerugian akibat denda itu. ‘’Bagaimana lagi, sudah jadi kontrak,’’ tuturnya. (odi/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here