Proyek Jalan Layang Terang Benderang

135

MADIUN – Rencana pembangunan flyover turut menjadi pembahasan saat Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menggelar rapat kerja (raker) di Bakorwil I Madiun kemarin (28/3). Pada dasarnya, mantan menteri sosial (mensos) itu mendukung rencana yang diusung oleh Pemkot Madiun tersebut. ’’Tentunya ada kajian-kajian. Saya mendorong pemkot berkomunikasi dengan pemerintah pusat,’’ kata Khofifah kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Gubernur menambahkan, pemprov siap memfasilitasi komunikasi antara pemkot dengan pemerintah pusat. Sekalipun rencana pembangunan jalan layang yang difungsikan untuk mengurai kemacetan pasca-jalur ganda (double track) kereta api itu memakan jalan nasional. Yang notabenenya bukan merupakan wewenang pemprov. ’’Intinya kami fasilitasi,’’ ujarnya.

Sebelum menyampaikan usulan itu ke gubernur, pemkot bersama DPRD Kota Madiun sebenarnya sudah lebih dulu berkonsultasi ke Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Mereka menyodorkan dua usulan. Yakni, pembangunan flyover dan underpass (jalur bawah tanah). Hanya, dari pembicaraan awal, yang paling memungkinkan konstruksinya adalah untuk jalan layang. Bahkan, pada tahun ini memasuki tahap studi awal.

Pada pertemuan itu pemkot juga menyampaikan analisis dampak awal terkait pembangunan double track di Kota Madiun. Terutama di pintu lintasan kereta api Jalan Pahlawan sisi utara dan Sukosari. Untuk di Jalan Pahlawan, keberadaan double track dikhawatirkan makin membuat arus lalu lintas kendaraan dari Jalan Yos Sudarso maupun Jalan Kompol Sunaryo menjadi crowded.

Belum lagi, keberadaan rel kereta api serong yang dipakai oleh PT KAI mengangkut bahan bakar minyak (BBM) dari Depo Pertamina Madiun kerap menyebabkan pengendara celaka saat musim penghujan. Sementara, kondisi paling parah terjadi di pintu perlintasan kereta api Sukosari.

Di lokasi tersebut, titik kemacetan hampir terjadi setiap hari. Terutama pada saat pagi dan sore. Volume kendaraan yang bergerak dari ruas Basuki Rahmat maupun Letjend S. Parman terbilang tinggi. Pasalnya, ruas tersebut menghubungkan kendaraan lintasdaerah. Bus dan kendaraan berat melintas di sana.

Menyikapi hal tersebut, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Bina Marga Jatim Gatot Sulistyo Hadi menyatakan pihaknya belum mendapat surat usulan pembangunan flyover dari Pemkot Madiun. Seandainya ada usulan seperti halnya pembangunan flyover Gedangan dan Aloha di Surabaya, pemprov bakal memfasilitasi pengajuan usulan tersebut ke pemerintah pusat. ’’Kalau memang itu diperlukan, kami akan garap dan diskusikan seperti apa baiknya,’’ katanya.

Bahkan, Hadi menambahkan pemprov bakal mendukung dari sisi anggaran melalui mekanisme dana sharing apabila proyek itu memang dianggap penting setelah adanya hasil kajian. Kendati demikian, dia menekankan apabila rencana pembangunan itu berdampak pada pemanfaatan lahan warga, pemkot bertanggung jawab atas proses pembebasan lahannya. ’’Karena kami tidak mampu. Jadi, pembebasan lahan itu tanggung jawabnya pemda,’’ ungkapnya.

Sementara, berdasar hasil kajian Satlantas Polres Madiun Kota, jumlah kendaraan roda dua (R2) yang melintas di ruas tersebut tercatat mencapai 220 unit per 60 detik. Pun, dalam rentang waktu yang sama, tercatat ada 105 unit kendaraan roda empat (R4) yang melintas. Kajian itu dilakukan pada saat jam-jam padat, pagi dan sore.

Sebelumnya, Kasatlantas Polres Madiun Kota AKP Affan Priyo Wicaksono mengatakan perlu adanya solusi pemecahan masalah kemacetan yang terjadi di pintu perlintasan kereta api Sukosari. Sebab, lebar jalan kurang dari sepuluh meter. Alhasil, banyaknya kendaraan yang melintas bertumpuk di perlintasan itu. Apalagi ketika kereta api melintas.

Sejumlah solusi sempat pihaknya usulkan bersama Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Madiun. Untuk jangka pendek, pihaknya perlu menerapkan rekayasa di jam-jam tertentu. Sedangkan, jangka panjangnya, pelebaran jalan atau pembangunan flyover mutlak dibutuhkan untuk mengakomodasi tingginya volume kendaraan yang melintas. ‘’Untuk opsi pembangunan flyover itu tentunya perlu ada pembahasan lebih lanjut di tingkat pusat,’’ katanya. (her/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here