Proyek Double Track Meleset dari Target

361

MADIUN – Proyek pembangunan double track kereta api (KA) Madiun–Jombang memasuki extra time. Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memberi tambahan waktu pengerjaan hingga pertengahan tahun 2019. Sebelumnya, proyek pembangunan rel ganda tersebut ditarget tuntas akhir 2018. ‘’Ada adendum kontrak pekerjaan,’’ kata Pengawas Balai Teknik Perkeretaapian Jawa Bagian Timur Sudarto kemarin (1/1).

Tambahan waktu itu karena pembangunan jalur KA anyar sepanjang 84 kilometer belum tuntas. Meliputi konstruksi rel ganda, jembatan, dan wesel di sejumlah stasiun. Pihaknya menilai rekanan telah berusaha maksimal menyelesaikan tanggung jawabnya sesuai kontrak kerja. Namun, karena berbagai faktor, target itu meleset. ‘’Kemudian diambil keputusan dilanjutkan 2019. Maret nanti semoga sudah bisa selesai,’’ harapnya.

Sudarto mengungkapkan, ada persoalan cukup genting yang berdampak pekerjaan molor di ruas Walikukun-Madiun. Persisnya masuk Kota Madiun dan Ngawi. Konstruksi rel belum sepenuhnya terpasang dan jembatan belum selesai dibangun. Rekanan juga harus menggeser bangunan pos penjagaan perlintasan KA yang lahannya terdampak. Yakni, pos perlintasan Jalan Yos Sudarso sebelah barat Stasiun Madiun dan sebelah timurnya di Jalan Basuki Rahmad. ‘’Sepertinya sudah satu diselesaikan, yang sebelah timur,’’ ujarnya sembari mengklaim ruas Madiun-Nganjuk progresnya sudah 90 persen.

Pantauan Radar Mejayan, titik rel KA anyar dibangun di sisi selatan jalur lama atau existing. Lokasi dua pos penjagaan di Kota Madiun digeser karena berada di sisi selatan. Sedangkan pengerjaan konstruksi rel dan bantalan terkonsentrasi di wilayah Madiun hingga Ngawi. Lokasinya antara lain masuk kawasan Stasiun Madiun hingga perlintasan KA di Geneng, Ngawi. Sementara di Stasiun Paron dan Babadan, konstruksi jalur ganda itu telah terpasang. ‘’Konsentrasi 2019 adalah ruas Walikukun-Madiun,’’ sebutnya.

Sudarto menyebut belum tergarapnya pekerjaan double track bukan karena kinerja rekanan buruk. Melainkan karena faktor nonteknis. Menurut dia, pembangunan jalur KA tidak bisa disamakan dengan jalan tol. Jalur KA tidak bisa menerapkan sistem pengerjaan dikebut hingga larut malam. Sebab, area yang dibangun bersinggungan lalu lintas angkutan KA penumpang. ‘’Pada momen tertentu pekerjaan harus berhenti sementara. Misalnya, Lebaran dan Nataru (Natal dan tahun baru, Red),’’ paparnya.

Selain itu, lanjut dia, rekanan juga terkendala pasokan wesel. Konstruksi menyambung rel itu baru tersedia 30 unit. Jumlah tersebut habis dipasang untuk tiga stasiun di Nganjuk. Yakni, Baron, Sukomoro, dan Nganjuk. Serta ada sisa dua unit dipasang di Stasiun Babadan. ‘’Masih kurang puluhan unit wesel,’’ ungkap Sudarto.

Sudarto tidak bisa memastikan wesel kapan bisa tersedia kembali. Sebab, pengadaan peranti yang harus diimpor dari Tiongkok itu di-handle pemerintah pusat. Pihaknya sebatas mengeksekusi. ‘’Kalau sudah tersedia langsung dipasang sesuai titik yang sudah selesai dibangun,’’ tandasnya. (cor/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here