Program Infrastruktur Jokowi dan Kritik JK

39

Beberapa waktu yang lalu ramai, ketika JK yang juga wakil presiden mengkritik pembangunan infrastruktur. Khususnya pembangunan rel kereta api di Sulawesi Selatan. Tentu masyarakat terkejut sebagai wakil presiden mengkritik pemerintahan sendiri. Kalau tidak mengenal JK dari dekat akan terkejut. Begitulah Pak JK kalau bicara langsung. Dan juga sering kali menjawab pertanyaan media dengan argument yang sangat rasional dan “cospleng.” Kalau memakai istilah orang Jawa.

Dulu saya sering ikut rapat dengan beliau. Cara berpikir dan bertindak, selalu cepat.  Dalam mengambil keputusan, kelihatan jiwa bisnis beliau. Oleh sebab itu, ketika beliau melakukan kritik terhadap pembangunan infrastruktur tersebut tentu dilatarbelakangi latar belakang beliau. Saat ini, dipandang belum perlu terkait infrastruktur yang menjadi perhatian beliau seperti rel kereta untuk Sulawesi.

Bukankah dalam pengambilan keputusan, sikap dan keputusan menghadapi masalah setiap orang salah satunya, akan sangat dipengaruhi oleh latar belakang hidupnya. Namun yang menarik, Pak Jokowi dan JK sama-sama mempunyai latar belakang dan dibesarkan dari dunia bisnis. Namun mengapa berbeda cara pandang dalam pembangunan infrastruktur tersebut.

Menurut hemat saya JK bukannya tidak setuju. Namun menurut pandangan beliau, hanya waktunya saja belum tepat. Tidak  saat ini. Pandangan Pak Jokowi, pembangunan infrastruktur tersebut salah satu jawaban persoalan hari ini dan utamanya antisipasi perkembangan ke depan. Belajar dari sekarang, dalam membangun infrastrukur utamanya jalan tol dan rel kereta selalu menghadapi masalah. Bagaimana tidak. Baru menghadapi pembebasan lahan saja akan sulit. Sebagai contoh bagaimana proyek jalan tol menjadi tersendat karena persoalan tanah yang mesti dibebaskan. Apalagi daerah yang dibebaskan sudah sangat padat. Sedang pembangunan infrastruktur rel, jalan tol tersebut memerlukan lahan yang relatif sangat luas. Dan lahan biasanya dimiliki orang banyak. Oleh sebab itu, tak bisa ditunda-tunda lagi.

Saya ingat beberapa dekade yang lalu. Ketika teknologi jaringan telekomunikasi belum berkembang seperti sekarang. Komunikasi jarak jauh harus menggunakan jalur tilpon kabel tembaga. Mau tilpon ke luar kota saja harus minta sambungan ke Telkom. Karena itulah komunikasi yang masih lambat belum terlalu memerlukan infrastruktur seperti jalan, bandara yang memadai. Jalan cukup jalan umum dengan dua jalur sudah cukup.

Namun ketika teknologi jaringan atau network sudah mulai berkembang sekitar tahun 1990-an dari 1G (first generation) ke 2G ( second generation) di awal 2000-an jaringan telepon selular dan yang pertama menggunakan enkripsi digital dalam suatu percakapan. Juga sudah bisa mengirim SMS. Perkembangan ini tentu menambah kecepatan komunikasi dengan biaya relatif sangat murah. Dan saat itu jaringan 2G sudah hampir menjangkau 70 persen wilayah di tanah air. Apa yang terjadi. Perubahan kecepatan komunikasi tidak segera diimbangi dengan infrastruktur. Yang terjadi kemudian adalah terjadinya kendala pengiriman barang dan mobilitas manusia.

Kita bisa melihat kemacetan dimana-mana. Baik dalam pengiriman barang dan mobilitas manusia. Setiap libur panjang apalagi hari raya Idhul Fitri luar biasa kemacetannya. Apalagi kita lihat  teknologi jaringan sudah berubah di era 3G. Dan mulai diperkenalkan di Indonesia 2005 dan selanjutnya mulai marak digunakan. Dengan teknologi generasi ini kecepatan dan kualitas semakin baik.

Gambar dan audio visual sudah dikirim semakin baik. Pemesanan barang sudah bisa dengan contoh barang yang diinginkan. Hari ini dipesan diminta segera diminta segera dikirim barang yang diinginkan dan dipesan. Kecepatan teknologi jaringan ini tidak diikuti dengan infrastruktur jalan misalnya. Jalan tol baru sampai di Cikampek. Dan juga ke arah Bandung. Yang terjadi, langganan kemacetan selalu terjadi di jalan tol Jakarta-Cikampek. Demikian penyeberangan dari Merak-Bakahuni dan sebaliknya. Apalagi dihari libur. Yang kemudian bisa kemudian dilakukan salah satunya mengatur, truk tidak boleh lewat jalan tol tertentu di Jakarta. apalagi sekarang sudah generasi 4G akan berubah menjadi 5G. Lebih cepat.

Tentu sebagai pimpinan pemerintahan harus mempunyai visi ke depan dengan segala resiko keputusannya. Belajar dari perkembangan teknologi komunikasi tersebut, tentu harus diantisipasi ke depannya. Sedang di era digital saat ini, yang bisa bertahan adalah kecepatan. Kecepatan bertindak dalam menghadapi perubahan yang demikian cepat. Oleh sebab itu tentu di Jawa saja yang sudah ada jalan tol, kapal laut dengan pelabuhan besar setiap provinsi, jalan umum yang sudah terkoneksi sampai di setiap kecamatan dan juga rel kereta api mulau dari Anyer sampai denga Banyuwangi masih mengalami kendala pengiriman barang dalam hal kecepatan. Apalagi di luar Jawa. Tentu perkembangan luar Jawa tidak boleh terjadi seperti di Jawa saat itu. Oleh sebab itu perlu antisipasi. Pembangunan jalan tol dan rel kereta api di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi salah satunya dalam rangka mengantisipasi ini. sebuah kecepatan perubahan.

Kalau boleh saya menggambarkan ketika wangsa Syailendra membangun candi Borobudur. Perkembangan teknologi belum seperti sekarang ini tentu pembangunan candi yang demikian megah tersebut telah mengorbankan harta benda dan mungkin juga penderitaan rakyatnya yang harus bekerja. Rakyat yang kritis saat itu (kalau ada) mungkin akan berpikir mengapa harus membangun candi yang demikian besar.

Mengapa tidak membangun yang lebih kecil saja sehingga tidak memerlukan biaya dan pengorbanan harta benda juga penderitaan rakyatnya. Demikian ketika membangun candi Prambanan dan candi sewu. Namun saat ini bangunan tersebut menjadi maha karya bangsa, yang diwariskan kepada anak cucu sekarang.

Demikian juga ketika rezim Soekarno membangun Tugu Monas dan juga komplek olehraga Senayan. Pembangunan komplek oleh raga dalam rangka menjadi tuan rumah Asian Games tersebut mendapat tentangan dari beberapa kalangan. Malahan yang menentang salah satunya mantan Wakil Presiden Moh Hatta. Bagaimana mungkin ditengah ekonomi yang masih belum baik, kemiskinan yang demikian tinggi membangun proyek mercu suar seperti komplek olahraga Senayan.

Demikian juga ketika rezim Suharto pada tahun 1970 membangun Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Pembangunan TMII tersebut dianggap kurang tepat waktu. Di tengah penderitaan masyarakat Indonesia yang masih begitu banyak angka kemiskinan, pembangunan TMII tersebut juga dianggap mercu suar dan mendapat tentangan berbagai kalangan. Tentu tentangan utamanya darai kalangan mahasiswa. Gerakan mahasiswa yang dipimpin Arif Budiman bergerak menentang proyek TMII.

Kita semua bebas mengambil kesimpulan dari kasus ini. Namun hanya keberanian dan keteguhan pemimpin semua bisa terwujud. Kalau tidak, kita tidak akan melihat candi Borobudur, Prambanan, komplek olah raga Senayan (sayang sekarang banyak beralih fungsi) dan TMII. Dan mungkin lainnya. Malahan sebagai sifat kastriya, Arif Budiman kemudian minta maaf setelah kemudian TMII berkembang demikian pesat (waktu Orde Baru) dan membanggakan sebagai miniatur Indonesia dan keunggulan bangsa sebagai tempat wisata Budaya.

Kita bebas berpendapat. Seperti pembangunan rel kereta api, bandara. Apakah merupakan salah jawaban atas perubahan cepat di bidang teknologi komunikasi yang harus diikuti penyediaan infrastruktur untuk pergerakan barang dan manusia. Tentu perbedaan cara pandang itu sudah lumrah. Namun kita harus jernih melihatnya. Yang jelas pembangunan infrastruktur yang dilakukan presiden, secara ekonomi dampaknya pasti akan besar sekali baik masa kini maupun di masa depan. Semoga! (*/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here