Produk Suparjianto Rambah Amerika-Eropa

70

TAK pernah terlintas di benak Suparjianto dirinya bakal menjadi perajin batu alam yang moncer. Maklum, pria itu pernah hidup susah sebagai kuli proyek di Jakarta. Sebelumnya, dia bekerja di penyamakan kulit LIK Magetan selama delapan bulan.

Pintu rezeki mulai terbuka saat ayah dua anak itu dipertemukan dengan Sukoco Cokro Suwarno, seorang perajin batu kondang di Bogor. ‘’Awalnya sekadar ngobrol di warung. Tahu saya asli Pacitan dan dia juga sering ke Pacitan, saya ditawari untuk ikut kerja dengannya,’’ kenang Parji, sapaan akrab Suparjianto.

Di rumah Sukoco, Parji dilatih memoles batu alam. Berbekal keterampilan itu, dia memberanikan diri membuka usaha sendiri. Seiring waktu, usaha yang kala itu hanya dijalankan bersama istrinya terus berkembang. ‘’Bank-bank akhirnya menawarkan pinjaman, ada yang sampai Rp 500 juta,’’ tuturnya.

Selain menerima pesanan dari perorangan, Parji kerap mengikuti pemeran. Lewat itu pula Ani Yudhoyono –istri Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono- menjadi pelanggan tetapnya.

Namun, bukan berarti perjalanan usahanya selalu mulus. Pengalaman pahit pernah dialaminya. Bermula dari adanya penelepon yang berniat membeli kerajinan batu alam. Dengan alasan sudah mengirimkan uang muka, istrinya diminta segera mengecek saldo rekeningnya.

Bukannya terisi, uang tabungan Rp 11 juta hanya tersisa sekitar Rp 50 ribu akibat kena gendam. ‘’Saya sampai rumah sudah ramai. Istri saya pulang diantar polisi karena pingsan lihat isi tabungan,’’ bebernya.

Kini, Parji memiliki puluhan karyawan. Meski begitu, pria asal Desa Wareng, Punung, Pacitan, ini sesekali mendampingi pekerjanya. Itu dilakukan untuk memastikan kualitas batu mulia maupun batu alam produksi rumah kerajinannya memenuhi standar yang diinginkan. ‘’Buyer ada yang dari Solo, Jogja, dan Bali. Oleh mereka dieskpor ke luar negeri. Persisnya tidak tahu, tapi katanya Benua Amerika dan Eropa,’’ ungkap suami Diana Setiawati ini.

Dari usaha tersebut, dalam sebulan Parji mampu meraup omzet Rp 20 juta hingga Rp 30 juta. Nominal tersebut berasal dari hasil produksi kerajinan batu alam sebanyak 2 ribu hingga 3 ribu buah. Pesanan terbanyak justru bukan dari perajin aksesoris dan akik. Melainkan dari produsen kenop pintu, coaster (tatakan gelas), bottle stopper (penutup botol), dan lainnya. ‘’Waktu booming akik saya tidak begitu merasakannya, karena menyelesaikan pesanan yang ada saja sudah kebingungan,‘’ imbuhnya.

Bagi Parji, sesama perajin batu alam bukanlah saingan. Melainkan mitra kerja. Itu dibuktikan dengan kerap men-sub-kan order kepada mereka. ‘’Banyak karyawan yang keluar dan membuka usaha sendiri. Tidak masalah, saya justru bangga,’’ ujarnya. (odi/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here