Ngawi

Problem Afifudin Khoir Menghadapi Santrinya yang Kecanduan Gadget

Lain zaman, lain pula kepribadian santri. Perubahan itu dirasakan pengasuh Ponpes Darul Quran Afifudin Khoir terhadap sejumlah santrinya. Perkembangan zaman telah menggeser perilaku mereka.

 ————————–

DENI KURNIAWAN, Ngawi

BELASAN tahun menjadi pengasuh, Afifudin Khoir sanggup membaca perubahan perilaku para santri. Banyak yang rajin, tapi tidak sedikit yang nakal. Terbawa arus perkembangan zaman. Tidak terkecuali anak didiknya di Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Quran yang dikelola sejak 2006. ‘’Salah satunya ketergantungan terhadap gadget,’’ kata Gus Afif –sapaan Afifudin Khoir.

Keberadaan handphone tidak diharamkan di Ponpes Darul Quran. Selain sebagai media komunikasi, perantik elektronik itu untuk menunjang pendidikan para santri. Sebab pesantren yang berada di Desa Beran, Ngawi ini tidak hanya melayani pembelajaran agama Islam, tapi juga pendidikan formal. Namun, meski waktu penggunaan sudah dibatasi, santir bisa menggunakan gadget dengan sembunyi-sembunyi. ‘’Kalau dulu santri nggak tidur karena belajar kitab, sekarang karena main HP,’’ herannya sembari menyebut dampak main gadget itu membuat santri sulit bangun untuk salat subuh.

Perbedaan lain yang dirasakan pria kelahiran Kendal, Jawa Tengah, 44 tahun silam adalah motivasi yang dimiliki para santri. Semestinya, dengan kemudahan yang ada, mereka punya semangat dan motivasi tinggi. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan eranya dulu. Uang kiriman orang tua yang pas-pasan, dicukupi dengan mencari tambahan. Salah satunya memasak untuk teman-temannya. ‘’Tapi, tidak masalah, beda zaman beda santri. Persoalan ini menjadi tanggung jawab kami,’’ tutur Gus Afif.

Kehidupan Gus Afif di Ponpes Lirboyo Kediri, tempatnya mondok setelah lulus SD 1991 penuh keprihatinan. Kamar berukuran 4×6 meter, dipakai 20 santri. Kondisi tidur malam selalu berdesakan itu berlangsung hingga dirinya lulus 10 tahun kemudian. Selanjutnya, dia dipercaya mengurus beberapa santri junior. Tabarukan atau ngalap berkah ke sejumlah pondok di Pati, Kendal, dan Banten setiap Ramadan. ‘’Mencari berkah ke kiai-kiai sepuh masing-masing pondok,’’ ujarnya sembari menyebut melanjutkan kuliah di Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri pada 2002. ***(cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close