Madiun

Pro-Kontra Sertifikasi Pranikah

‘’Harus ada payung hukum yang menjadi landasan,’’ Ahmad Munir, Kepala Kantor Kemenag Kota Madiun

MADIUN, Radar Madiun – Pemerintah berencana memberlakukan sertifikasi pranikah. Dalilnya untuk menekan angka perceraian dan pernikahan dini. Sikap warga terdampak terbagi dua atas wacana itu. Ada yang setuju. Ada juga yang menolak.

Leonica Kautsara Setyawan misalnya. Warga Kelurahan Manisrejo, Kecamatan Taman itu berencana menikah tahun depan. Dia mengaku ketar-ketir kalau sertifikasi pranikah tersebut benar diberlakukan. Apalagi sistem kelulusannya seperti seleksi. ‘’Kalau seperti itu bisa mempengaruhi orang jadi ragu, dalam artian merasa dipersulit,’’ kata perempuan 26 tahun itu.

Persoalan tersebut, menurutnya, berbeda ketika sertifikasi pranikah diterapkan untuk pembekalan. Karena tanpa disertai hasil akhir sertifikat atau tanda lulus. Sehingga, dia menilai proses semacam itu dapat memberikan pemahaman hakiki tentang pernikahan. ‘’Kalau pembekalan seperti ini sangat setuju karena bagi yang masih sangat muda itu penting sekali,’’ terangnya.

Pendapat berbeda diutarakan Rudi Ardiansyah. Pria 28 tahun itu justru menilai sertifikasi diperlukan untuk memberikan wawasan merawat rumah tangga. Bagi calon istri misalnya, bisa menjadi bekal bagaimana cara menjadi istri yang baik. ‘’Tentu ada indikator kelulusan yang sudah melalui kajian, sehingga menurut saya ini penting. Tak beda jauh dengan sekolah, jika tidak lulus ada tahapan mengulang,’’ kata Rudi.

Kepala Kantor Kemenag Kota Madiun Ahmad Munir mengaku sertifikasi pranikah masih sebatas wacana. Kebijakan itu masih dalam tahap pembahasan di level kementerian koordinator PMK. Tapi, dia mengaku siap apabila sertifikasi pranikah itu diberlakukan. ‘’Hanya saja memang harus ada payung hukum yang menjadi landasan,’’ ujarnya.

Sertifikasi pranikah memang membutuhkan regulasi sebagai landasan hukum. Jika tidak, menurut Munir, hal itu sama saja dengan bimbangan perkawinan (bimwin) yang selama ini dijalankan kemenag. Sementara, selama ini banyak calon pengantin menganggap bimwin sepele. ‘’Mayoritas yang hadir perempuannya saja karena calon mempelai laki-laki bekerja,’’ ungkapnya. (kid/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close