Prabowo Idolakan Gubernur Soerjo

71

MAGETAN – Calon presiden (capres) Prabowo Subianto berkunjung ke Magetan kemarin (31/10). Ketua umum Partai Gerindra itu nyekar ke makam Gubernur Jatim Soerjo di Jalan Salak, Kelurahan Kepolorejo, Magetan. Kehadiran Prabowo menjadi catatan sejarah bagi warga di Bumi Ki Mageti. Karena menjadi capres pertama yang mengunjungi Magetan. ’’Gubernur Soerjo adalah sosok pahlawan panutan,’’ kata Prabowo.

Menurut Prabowo, gubernur yang memimpin Jatim pada periode 1945–1947 itu sosok yang tenang, sejuk, dan mengabdi pada rakyat. Dia juga tidak tunduk, tidak takluk, dan tidak takut meski diancam oleh bangsa lain. Gubernur yang pernah menjadi bupati Magetan pada 1938–1943 itu memilih untuk mempertahankan harga diri bangsa. ’’Baliau adalah idola saya. Saya terharu dengan kepemimpinannya beliau, meskipun beliau tidak kenal saya,’’ ujarnya.

Dikatakan Prabowo, apa jadinya bangsa Indonesia jika masa penjanjahan Gubernur Soerjo takluk pada penjajah. Saat itu, Inggris pernah memberi ultimatum kepada rakyat Indonesia yang diwakili jatim, khususnya di Surabaya. Inggris memerintah Indonesia untuk angkat tangan dan menyerahkan senjata. Namun, itu tak pernah dilakukan oleh Gubernur Soerjo. ’’Tetap tenang dan mengatakan, lebih baik hancur daripada dijajah kembali,’’ tuturnya.

Ultimatum bangsa Eropa itu bukannya tanpa alasan disampaikan kepada Gubernur Soerjo. Sebab, Soerjo merupakan pemimpin yang dituakan di Jatim. Sebelum menjawab ultimatum itu, Soerjo terlebih dahulu meminta petunjuk kepada Presiden RI Soekarno. Rupanya, presiden pertama RI itu menyerahkannya kepada rakyat Jatim. ’’Jadi, bagi kami Gubernur Soerjo itu mewakili kemerdekaan RI. Kalau beliau menyerah, bagaimana harga diri Indonesia,’’ ucapnya.

Prabowo mengatakan, sosok Gubernur Soerjo harus menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia. Pun, dimasukkan dalam mata pelajaran sekolah. Kebanggaan kepada gubernur Jatim itu harus ditanamkan pada generasi muda. Selain terkenal dengan sikapnya yang tak pernah gentar, dia juga sosok pemimpin yang sederhana dan merakyat. Sebagai warga Magetan, dikatakan Prabowo, semestinya bangga memiliki sosok mantan bupati seperti Soerjo tersebut. ’’Mengerti arti kemerdekaan,’’ ungkapnya.

Selesai nyekar di makam Gubernur Jatim Soerjo, Prabowo melanjutkan safarinya ke Pondok Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM) Takeran. Di sana, dia disambut oleh pimpinan PSM Miratul Mukminin. Perjalanan pasangan cawapres Sandiaga Uno itu juga berkunjung ke Desa Temboro, Karas. Yakni, ke Ponpes Al Fatah. ’’Terima kasih warga Magetan, sudah menerima saya dengan baik. Sudah lama saya ingin berziarah ke sini,’’ ucapnya.

Ingin Kutip Mars PSM

Pondok pesantren masih jadi rebutan dalam pesta demokrasi lima tahunan. Capres Prabowo Subianto juga berusaha menggaet suara para santriwan dan santriwati, salah satunya dengan berkunjung ke Pondok Pesantren Sabilil Muttawien (PSM) Takeran.

Kedatangan Prabowo ke PSM disambut dengan ramah. Para santri menyambutnya dengan antusias. Namun, pimpinan PSM Takeran Miratul Mukminin memastikan pondok pesantren tidak terlibat dalam kegiatan praktis politik. ’’Politik di dalam pesantren itu hanya sebatas arti kebangsaan,’’ katanya.

Gus Amik –sapaan Miratul Mukminin– mengatakan, pihaknya akan mem-back up dan menjelaskan pada masyarakat, apa yang harus diketahui masyarakat. Sehingga, jati diri ponpes tetap terjaga. Karena pada hakikatnya keberadaan ponpes untuk kemaslahatan umat. Oleh karenanya, dia tidak mempermasalahkan siapa pun capres yang datang ke ponpesnya. Tak terkeculi capres nomor 2 tersebut. ’’Fastabiqul khairat amar ma’ruf nahi munkar,’’ ucap Gus Amik.

Menurut dia, ada masa di mana ponpes harus siap dan menerima siapa saja yang menjadi tamu. Tidak pernah ada penolakan. Namun, sikap ponpes sudah ditentukan. Dia juga sudah merapatkan dengan internal ponpes. Berturut-turut, Gus Amik menerima kunjungan. Yakni, dari gubernur Jatim terpilih Khofifah Indar Parawansa bersama rombongan Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) yang menyosialisasikan pemenangan tim Jokowi-Ma’ruf Amin (30/10). Disusul Prabowo pada keesokan harinya. ’’Siklus politik tidak memengaruhi sikap kami,’’ ujarnya.

Namun, bagaimana Gus Amik memisahkan antara pengurus ponpes dengan JKSN yang meletakkan dukungan pada pasangan Jokowi–Ma’ruf Amin? Mengingat dia menjadi salah satu wakil ketua JKSN. Dikatakan Gus Amik, yang namanya jaringan memang butuh bersinergi antarpesantren. Apa yang sudah baik seharusnya dilanjutkan dan dikembangkan. ’’Pesantren kan punya alumni, isinya kegiatan dakwah,’’ jelasnya.

Namun, yang lebih penting yakni silaturahmi. Dikatakan Gus Amik sebagai istilah silprod (silaturahmi produktif). Namun, bukan silaturahmi biasa yang hanya bertatap muka lalu berpisah. Melainkan ada sesuatu produktif yang dihasilkan dari kegiatan silaturahmi tersebut. Salah satu kegiatan positif itu yakni supaya pesantren tidak tertinggal dengan lembaga nonpesantren lainnya. ‘’Silaturahmi itu wajib,’’ tegasnya.

Baik Khofifah maupun Prabowo, keduanya sama-sama mengagumi perkembangan PSM Takeran. Khofifah mengacungkan jempolnya pada inovasi siswa SMK Takeran dengan sepeda motor listrik Take-Run-nya. Sedangkan Prabowo kagum dengan pendidikan PSM yang begitu besar dengan banyak cabang. Ada setidaknya 155 lembaga yang kini berada di bawah naungan PSM. Prabowo juga memiliki ketertarikan dengan mars PSM, bahkan berencana mengutipnya. Kekaguman itu juga karena eksistensi PSM sebagai ponpes yang miliki nilai historis, karena menjadi salah satu korban PKI 1948. (bel/c1/ota)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here