Madiun

PR KAI Pasang CCTV di Semua Perlintasan Jalur KA

MADIUN –  PT Kereta Api Indonesia (KAI) tak ingin kecolongan selama angkutan Lebaran 2019. Kesiapan di masing-masing daerah operasional (daop) terus dicek. ’’Pasti ada lonjakan penumpang, inspeksi untuk menyakinkan apakah seluruh daop sudah siap atau belum,’’ ujar Direktur SDM dan Umum  PT KAI R. Ruli Adi, di  Daop VII, kemarin (24/4).

Dia menjelaskan, inspeksi dengan melibatkan tim dari KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) untuk jalur lintas selatan Jawa. Perjalanan panjang kemarin memantau kesiapan jalur, stasiun, pelayanan sampai dengan SDM. ’’Pantauan awal untuk Daop VII mantap, sudah dipresentasikan oleh kadaop. Insyaallah nanti di angkutan lebaran ketepatan waktu akan lebih terjamin bahkan bisa lebih cepat dari yang dijadwalkan,’’ jelasnya.

Dalam perjalanan ini, kata dia, juga dilakukan identifikasi titik rawan yang harus dijaga ekstra. Mengingat arus perjalanan kereta api melonjak di momen Lebaran. Titik rawan mulai dari daerah rawan banjir, tanah longsor, hingga pelemparan dan vandalisme.

Lanjutnya, selama masa angkutan Lebaran terhitung dari tanggal 26 Mei sampai  dengan 16 Juni mendatang jajaran direksi dan SDM bakal stay di lapangan. PT KAI menyiapkan 406 perjalanan selama angkutan Lebaran 2019. Angka tersebut sudah termasuk 50 perjalanan KA Lebaran tambahan. ’’Di daop VII Madiun akan ada 10  KA angkutan Lebaran yang akan melintasi Daop VII Madiun,’’ terangnya.

Untuk memastikan perjalanan KA aman sampai tujuan, rencananya di tahun ini KAI akan memfasilitasi camera circuit television (CCTV) di seluruh perlintasan kereta api. Berapa jumlah CCTV yang akan dipasang, Ruli enggan menyampaikan secara detail. Namun, untuk gambaran awal bakal dipasang di perlintasan kereta api yang besar. ’’Dengan teknologi itu jarak 2 kilometer masinis sudah ketahuan, semisal disana ada truk mogok, 2 kilometer masinis sudah tahu antisipasi pengereman,’’bebernya.

’’Teknologi itu kami datangkan bulan Juli, teknologi gabungan dari Indonesia dan luar. Diharapkan, lama-lama nanti Indonesia bisa produksi sendiri,’’ ungkap Ruli.

Ruli mengakui perlintasan sebidang masih menjadi permasalahan sampai saat ini. Sejatinya, perlintasan sebidang juga bagian dari tanggung jawab dari pemerintah daerah setempat. ’’Antisipasinya, koordinasi dengan pemda setempat, bagaimana menghadapi perlintasan yang tidak legal untuk segera ditutup. Sebenarnya yang jadi masalah itu perlintasan ilegal. Di luar negeri tidak ada loh perlintasan sebidang,’’ imbuh Ruli. (dil/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close