PPDB SMP: Nilai Rendah Bisa Nangkring di Sekolah Favorit

73
DAFTAR: Wawali Inda Raya juga mendaftarkan anaknya di SDN 95 Madiun Lor.

MADIUN – Sistem satu zona di tingkat SMP membuat persaingan berebut masuk ke sekolah favorit kian seru. Sebab, selain nilai hasil ujian sekolah berstandar nasional (USBN) yang dipakai, juga ada pertimbangan jarak rumah dengan sekolah yang dituju.

Pantauan Jawa Pos Radar Madiun di laman ppdb.madiunkota.go.id pukul 20.54, untuk SMP 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 11, dan 13, semua pagu yang tersedia sudah langsung penuh. Selain jalur zonasi, pada jalur prestasi akademik, non-akademik serta perpindahan di sejumlah sekolah juga terisi. Persaingan tampak terlihat dari nilai USBN dengan jarak yang bervariasi. Nilai USBN yang rendah juga masih nangkring di sejumlah sekolah favorit. Tapi, jarak rumahnya memang dekat. ’’Zonasi ini bisa untuk pemerataan pendidikan,’’ ujar Kepala SMPN 9 Kota Madiun Yuni Egawati.

Dia menambahkan, pertimbangan jarak rumah dengan sekolah yang dituju menjadi vital pada PPDB di Kota Madiun tahun 2019. Memang terkadang orang tua justru merasa gengsi jika anaknya tidak bersekolah di sekolah yang dianggap favorit. Padahal jaraknya lebih dekat. ’’Kualitas pendidikan di Kota Madiun itu juga semakin merata dan bagus, jadi sebenarnya tidak masalah sekolah di mana saja,’’ jelas mantan guru SMPN 2.

Apa yang disampaikan Yuni ada benarnya. Jevicka F, salah seorang pendaftar yang rumahnya di Kelurahan Sogaten justru memilih mendaftar ke SMPN 2 Kota Madiun untuk pilihan pertama. Sebab, sekolah itu sudah didambannya sejak SD.  ’’Saya tetap pilih ke SMPN 2, sebenarnya kalau rumah ya dekat di SMPN 9,’’ ujar Jevicka F.

Dia mengaku, dibuat pusing dengan adanya sistem zonasi. Sejak lama mendamba masuk sekolah favorit. Karena itu, memutuskan untuk belajar segiat mungkin. Namun, ternyata jarak rumah dengan sekolah yang dituju jadi acuan pula. ’’Teman-teman sekolah saya yang rumahnya deket SMPN 2 Madiun senang aja bisa daftar,’’ paparnya.

Agung Sugiharto, tim Humas SMPN 2 Madiun saat dikonfirmasi mengamini hari pertama PPDB SMPN 2 Madiun masih banjir peminat. Sebagai sekolah bekas RSBI diakuinya SMPN 2 Madiun memiliki sarana prasarana yang unggul. Karena menyesuaikan persyaratan dari RSBI waktu itu Bukan hanya itu, terlepas dari pandangan dari favorit dan non-favorit, salah satu pemicu seorang anak mendaftar sekolah karena latar belakang pendidikan keluarganya juga berasal dari sekolah yang sama. ’’Bapak lalu kakak-kakaknya di SMPN 2 semua, akhirnya anak ini juga termotivasi untuk mendaftar,’’ paparnya.

ASN Pemkot Madiun Kebingungan Aturan Zonasi

SEMENTARA, justru sistem zonasi di tingkat SD yang membuat bingung. Di tingkat SD yang diberlakukan tiga zonasi. Itu berdasar wilayah kecamatan. Mulai dari Taman, Kartoharjo, dan Manguharjo. Lambannya input data juga dikeluhkan.

Asrifani, salah seorang orang tua pendaftar di SDN 05 Madiun Lor mengaku datang sejak pukul 08.40. Selanjutnya, dirinya sudah mengambil nomor antrian. Lalu dilanjutkan dengan tes fisik dan administrasi. Namun, hingga menjelang duhur belum dipanggil. ’’Lumayan lama proses input datanya, tidak tahu apa karena internetnya lemot, web-nya, atau kurang SDM-nya,’’ ujar perempuan 48 tahun itu.

Fani –sapaan akrab Asrifani- mengaku mendaftarkan putranya ke SDN 05 Madiun Lor bukan karena rumahnya berada di Manguharjo. Sebab dia tinggal di Rejomulyo.’’Saya memang melangkah zona. TK anak saya di Al Irsyad satu zona dengan sekolah yang dituju, jadi tetap daftar dan ini menunggu hasilnya,’’ ujarnya.

Retno, salah seorang orang tua pendaftar juga sempat diskusi lama dengan petugas input data. Sebab, awalnya tidak diperbolehkan mendaftar di SDN 05 Madiun Lor lantaran domisili di Kecamatan Taman. SDN 05 Madiun Lor itu berada di zona Kecamatan Manguharjo. Namun, dia tetap mendaftar lantaran tempat kerjanya berada di wilayah Manguharjo. ’’Saya tunjukkan perwalinya, tidak ada aturan bahwa yang berdasar tempat kerja orang tua itu harus berasal dari luar kota,’’ ujarnya.

Sementara itu, Kepala SDN 05 Madiun Lor Hariyati mengatakan sejauh ini proses PPDB berjalan lancar dan kondusif. Tetapi, banyak pertanyaan karena adanya zonasi. ’’Terutama mereka-mereka yang ASN di lingkungan pemkot, tapi KK-nya masih dalam kota, beda kecamatan dengan sekolah yang dituju,’’ ujarnya.

Hariyati menambahkan, ada yang lucu pula. Dari pilihan 1, 2, dan 3 ada yang dituliskan semua di SDN 05 Madiun Lor. Sebenarnya sudah diberi penjelasan. Namun, tetap ngotot dengan pilihan itu. ’’Inginnya tetap saja pilihannya,’’ ucapnya. (dil/mgd/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here