PPDB Sistem Zonasi, SMPN 1 Pacitan Trauma Kekurangan Murid

75
BIKIN WASWAS: Papan pengumuman di SMPN 1 Pacitan yang menunjukkan alur PPDB 2019.

PACITAN – Pendaftaran peserta didik baru (PPDB) 2019 tingkat SMP sistem zonasi di Pacitan telah memasuki tahun kedua. Namun SMPN 1 Pacitan masih menyisakan trauma. Tahun lalu, pagu di sekolah berlabel unggulan ini tidak terpenuhi. ‘’Kami menyayangkan opini di masyarakat seolah-olah ada batasan nilai ujian nasional (NUN) untuk masuk ke sini. Image ini membuat calon siswa takut mendaftar,’’ kata Kepala SMPN 1 Pacitan Cahya Herlambang, Minggu (23/6).

Cahya memastikan pihaknya tak mematok NUN minimal untuk mendaftar ke SMPN 1. Pun PPDB dilaksanakan sesuai aturan yang ada. Seperti SMP lainnya, tahun ini pihaknya juga membuka tiga jalur pendaftaran. Yakni 5 persen jalur prestasi, 5 persen perpindahan kerja orang tua, serta sisanya masuk jalur zonasi satu kecamatan. ‘’Jalur prestasi dari kuota 14 terisi 13 siswa, satu kursi kosong akan kami alihakan ke jalur reguler atau zonasi,’’ ungkapnya.

Dia menambahkan pagu di sekolahnya 288 kursi untuk seluruh jalur. Per kelas 32 siswa dan 9 rombongan belajar (rombel). Diharapkan kuota tersebut dimanfaatkan para wali murid untuk mendaftar ke sekolahnya. Termasuk fasilitas jalur perpindahan orang tua yang berbarengan dengan reguler. ‘’Bila peserta didik terancam posisinya saat mendaftar, besok bisa langsung mencabut berkas tanpa menunggu pengumuman,’’ jelasnya.

Cahya menambahkan sejak beberapa pekan terakhir, banyak warga dari luar daerah yang menanyakan cara mendaftar ke sekolahnya. Mereka berharap ada kelonggaran pada sistem tersebut. Sehingga, seluruh siswa di Kabupaten Pacitan leluasa mendaftar seperti semula. ‘’Saat ini sistem zonasi seperti jadi kambing hitam,’’ keluhnya.

Tak hanya tingkat SMP, di tingkat SMA lalu dia juga menyayangkan salah seorang siswanya tak dapat masuk SMA tertentu lantaran masalah jarak. Padahal nilainya tinggi. Alhasil suara sumbang atas sistem PPDB ramai didengar. ‘’Banyak yang bilang tak perlu pandai asal rumahnya dekat sekolah, ini tentunya jadi pecut untuk kami,’’ tuurnya.

Terkait kualitas siswa hasi sistem zonasi tahun lalu Cahya belum dapat menyebutnya. Sebab, sistem tersebut baru berjalan dua tahun. Hingga jika dibandingkan dengan NUN, tahun ini peserta didik masih berasal dari siswa nonzonasi. ‘’Untuk kelas IX NUN tahun ini meningkat. Kelas VIII seluruhnya bagus saat lomba akademik dan nonakademik masih mendominasi,’’ paparnya. (gen/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here