Ponpes Arbai Qohar di Bawah Kepemimpinan Mochammad Rofiiqul Umam

45

NGAWI – Tidak ada prinsip aji mumpung dalam kamus hidup Mochammad Rofiiqul Umam, ketua Ponpes Arbai Qohar. Jabatan itu tidak diberikan hanya karena dirinya merupakan keturunan keempat pendiri pondes tersebut. Melainkan karena kemampuan dalam berinovasi dan penguasaan ilmu agama.

Kesan religius langsung terasa kala memasuki kompleks Ponpok Pesantren (Ponpes) Arbai Qohar. Sejumlah santri mengenakan peci dan sarung khusyuk membaca Alquran di serambi masjid bergaya Jawa klasik. Mochammad Rofiiqul Umam, ketua ponpes yang beralamat di Desa Jambangan, Paron itu muncul dari dalam masjid. ‘’Ya seperti ini kegiatan sehari-hari santri,’’ kata Rofiiq –sapaan akrabnya.

Rofiiq menjabat ketua Ponpes Arbai Qashar sejak dua tahun lalu. Dia merupakan keturunan keempat pendiri pondok yang diklaim berusia satu abad lebih tersebut. Namun, bukan garis keturunan yang mengantarkan pria 31 tahun itu sebagai ketua. Melainkan atas dasar ilmu agama Islam yang dikuasainya. Pengalamannya selama menjadi santri ponpes di Kecamatan Sarang, Rembang, Jawa Tengah juga menjadi faktor penting. Sebab, sekembalinya dari Kota Garam, dia menciptakan sejumlah inovasi untuk ponpes Arbai Qohar. ‘’Jadi tidak hanya menularkan ilmu agama ke para santri,’’ ujarnya.

Inovasi itu salah satunya mengubah sistem organisasi pondok. Bila dulu antara ponpes, madrasah, dan masjid dipegang satu kendali pimpinan. Kini diubah dengan menempatkan satu ketua di masing-masing organisasi kecil tersebut. Kebijakan itu dibuat Rofiiq demi mengantisipasi adanya praktik monopoli kekuasaan. Tidak hanya urusan internal pondok, bapak satu anak itu membuka pintu hubungan dengan instansi luar. ‘’Dulu pondok kebingunan dengan tempat pembuangan sampah. Sekarang bisa usul ke pemkab lewat pemdes,’’ bebernya.

Suami Wafiayyatun Namiah ini langsung merantau ke Sarang, Rembang pascalulus SD 2000 silam. Dia mondok di Ponpes Ma’hadul Ilmi Asy Syarie sembari tetap melanjutkan pendidikan di SMP selama tiga tahun. Selanjutnya, Roffiq memutuskan mendalami agama Islam dengan masuk ke Madrasah Ghozaliyyah Syafi’iyyah (MGS) yang masih ada di kompleks ponpes selama delapan tahun. ‘’Mempelajari agama mulai dari bawah yang setara SD,’’ ungkapnya.

Setelah lulus MGS, Rafiiq kuliah jurusan ilmu Alquran dan tafsir di perguruan tinggi di kompleks Ponpes Ma’hadul Ilmi Asy Syarie. Dia diwisuda 2017 dan sekembalinya ke Ngawi dan ditunujuk ketua ponpes leluhurnya. Selama menimba ilmu di Rembang, Rofiiq muda yang jauh dari orang tua belajar tentang tiga hal. Ilmu agama, keorganisasian, serta perjuangan hidup dan kemandirian. Berdomisili di daerah pesisir pantai, air tawar menjadi barang langka. Air kelewat asin ketika musim hujan. Sedangkan kemarau, air berubah menjadi keruh. Pesan bijak dari gurunya yang membuat dirinya mampu bertahan di tengah kesulitan tersebut. ‘’Cari air untuk mencuci cuci baju sejauh dua kilometer ,’’ kenangnya. ***(deni kurniawan/cor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here