Ponorogo Bergelombang, Pacitan Rawan Longsor

191

PEMUDIK tidak perlu khawatir saat melintas di Ponorogo. Baik dari pintu utara (Mlilir) maupun pintu barat (Wonogiri), jalan terpantau nyaman dilewati. Jalur dari pintu utara merupakan jalur nasional yang belakangan diketahui rajin mengadakan pemeliharaan. Pemeliharaan dilakukan dengan menambal seluruh lubang yang berada di jalur tersebut. ’’Menghadapi Lebaran, seluruh proyek di wilayah kami, Jatim dan Bali, proyek dialihkan ke fungsional dengan menambal lubang jalan nasional,’’ kata Kepala BBPJN VIII Surabaya I Ketut Darmawahana, Sabtu (9/6).

Dia menambahkan, prioritas Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) VIII Surabaya memprioritaskan fungsional selesai H-10 Lebaran. ’’Itu sebagai langkah strategis untuk kenyamanan pemudik,’’ ujarnya.

Pantauan tim ekspedisi Radar Madiun, jalur nasional di Ponorogo membentang sepanjang 42 kilometer. Mulai Jalan Soekarno Hatta (pintu masuk dari Kabupaten Madiun, Mlilir, hingga pabrik es), Jalan Letjend S. Parman, Jalan MT Haryono, Jalan Diponegoro, Jalan Raya Pacitan-Ponorogo, hingga perlimaan Dengok, serta Jalan Nasional III (proliman Dengok hingga pintu masuk Kabupaten Trenggalek).

Sementara, jalur dari pintu barat merupakan jalur provinsi. Jalur yang terbentang 20-an kilometer dari perbatasan provinsi Jawa Timur-Jawa Tengah hingga perempatan Tambakbayan. Atau, dikenal dengan Jalan Ponorogo-Wonogiri. Jalur provinsi juga terbentang dari proliman Dengok hingga perbatasan Pacitan.

Meskipun jalan sudah terpantau baik, namun disarankan bagi para pemudik dari arah utara (Madiun sekitarnya) berhati-hati. Terutama saat melintas di jalur Mlilir-Terminal Seloaji. Di jalur tersebut setidaknya ada enam titik lubang kecil yang wajib diwaspadai pemudik terutama yang mengendarai sepeda motor. Untuk mengisi bahan bakar kendaraan, pemudik dapat mengisi di SPBU Babadan. Pun di situ pemudik dapat beribadah, istirahat sejenak, ataupun belanja makanan ringan.

Sampai di Terminal Seloaji, pemudik tetap perlu waspada. Itu karena jalan  sepanjang 2 km mulai bergelombang hingga perempatan pabrik es. Sementara penerangan lampu terpantau relatif baik. Pemudik dengan tujuan Trenggalek dan sekitarnya dapat  melalui jalur nasional. Di jalur tersebut pemudik bersiap melalui tiga titik trouble spot. Yakni, di Perempatan Jalan Letjend S. Parman (perempatan Keniten), Perempatan Tambakbayan, dan perempatan alun-alun.

Namun demikian, untuk menghindari trouble spot pemudik dapat melalui jalur menuju kota.  Pun di jalur tersebut pemudik dapat mampir ke pusat oleh-oleh yang ada di kota. Baik dari jalur nasional maupun kota terpantau baik, bebas dari lubang. Pemudik wajib berhati-hati 250-an meter menjelang proliman Dengok dari arah utara. Di jalur tersebut terpantu ada tujuh lubang kecil yang cukup membuat pemudik tidak nyaman terutama bagi pengemudi sepeda motor.

Melewati proliman Dengok hingga perbatasan Trenggalek, pemudik disarankan ekstrahati-hati. Di jalur tersebut ada jalan bergelombang sepanjang 10 kilometer. Dengan perincian 4 kilometer jalan bergelombang di titik proliman Dengok hingga Desa Ampel. Lalu 6 kilometer jalan bergelombang di titik Taman Sari hingga Sawoo. Kewaspadaan pemudik harus ditingkatkan lagi saat melintas di titik Desa Pangkah, Sawoo. Ruas jalan di jalur tersebut terpantau tergerus longsor.

Sementara pemudik dari pintu barat tidak perlu khawatir karena jalan terpantau baik. Tidak ada lubang di jalur tersebut sampai memasuki kota. Hanya saja, jalan bergelombang sepanjang 1 kilometer dari titik SMAN Badegan ke timur. Pemudik dengan tujuan Pacitan tidak perlu khawatir karena jalan sudah terpantau baik seluruhnya. Tidak ada lubang di sepanjang jalur tersebut. Pun penerangan dalam kondisi baik.

Sementara, jalur mudik di Pacitan menjadi atensi berbagai pihak. Seperti pemkab, kepolisian, dishub, dinas PU, hingga berbagai aspek pendukung lainnya. Hal itu tak lepas dari rawannya jalur mudik di Pacitan dari berbagai potensi yang membahayakan. Tak terkecuali bencana alam tanah longsor. ’’Kami sudah siapkan empat alat berat yang tersebar di lokasi jalur yang rawan longsor. Tapi semoga semua berjalan lancar,’’ kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Pacitan Budiyanto.

Budi mengungkapkan, ada dua jalur mudik yang rawan longsor di Pacitan.  Pertama jalur Pacitan-Ponorogo. Di sana terdapat dua titik lokasi yang kerap terjadi gunturan, yakni Kelipego di Km 233 serta di Desa Dondong Km 228. Di musim penghujan keduanya menjadi lokasi yang kerap terjadi tanah longsor hingga menutup arus jalan. Pun selain jalur Pacitan-Ponorogo, jalur Arjosari–Nawangan di kawasan Desa Temon hingga Gondang disebut menjadi area yang kerap terjadi gunturan. ’’Karena itu, bersama sudah disiapkan dua alat berat di tiap jalur,” tuturnya. (mg7/mg6/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here