Poltekes Cabang Surabaya Sepakat Pengembangan

144

MAGETAN – Keinginan Bupati Magetan Suprawoto untuk ’’memerdekakan’’ Politeknik Kesehatan (Poltekes) Cabang Surabaya di Magetan bakal berjalan mulus. Pihak program studi (prodi) kebidanan menyambut baik keinginan tersebut. Bahkan, usut punya usut, antara direktur Poltekes Surabaya dan bupati Magetan sudah segendang sepenarian mewujudkan konsep baru itu. ’’Sudah ada komitmen antara direktur dan bupati,’’ kata sub unit PPM prodi D-3 Kebidanan Magetan Hery Sumasto.

Rencana pengembangan pun sudah dibuat. Yakni, dengan pengusulan dua prodi D-3 baru. Mengingat salah satu syarat agar bisa mandiri adalah minimal terdapat tiga prodi. Yakni, prodi D-3 Care Giver dan prodi Kesehatan Bencana. Dua prodi anyar itu akan menambah dua prodi yang kini eksis, yakni Kebidanan dan Kesehatan Lingkungan. Salah satu syarat untuk merdeka bakal segera terpenuhi. ’’Itu salah satu syarat, masih banyak yang harus dipenuhi,’’ ujarnya.

Syarat lain yakni penambahan tenaga dosen dan kependidikan. Paling tidak membutuhkan 10 orang dosen lagi. Minimal harus berpendidikan minimal S-2 sesuai bidang keahlian. Namun, untuk mata kuliah profesi harus sesuai bidang ilmu. Sedangkan saat ini jumlah dosen yang dimiliki sebanyak 14. Terdiri 4 doktor dan 10 magister keperawatan. ’’Untuk saat ini sangat memadai. Tapi, kalau ada penambahan prodi lebih baik juga ditambah tenaganya,’’ tutur Hery.

Bukan hanya soal SDM yang harus dicukupi, yakni ketersediaan lahan praktik dan pembimbing klinik untuk prodi Care Giver dan Kesehatan Bencana. Seperti mendapat durian runtuh, pihak prodi saat ini tidak kebingungan lagi untuk mencari fasilitas tersebut. Pasalnya, Kang Woto –sapaan bupati Magetan– bakal menyediakan lahan yang cukup bagi prodi baru nanti. Sehingga pihak prodi tidak perlu pusing. ’’Bupati sudah berkomitmen,’’ ungkapnya.

Menurut Hery, bukan tanpa alasan pihak direktur Poltekes Cabang Surabaya mendukung keinginan bupati Magetan tersebut. Terutama dengan penambahan prodi Care Giver. Itu bakal meningkatkan sumber daya manusia (SDM) yang dikirim ke luar negeri. Pasalnya, selama ini yang diekspor keluar negeri hanya menjadi tenaga buruh. Jika merupakan lulusan D-3 Care Giver, maka mereka menjadi tenaga profesional. ’’Magetan ini kan menjadi salah satu kantong TKI dan TKW dengan skill rendah,’’ ucapnya.

Lantas, bagaimana dengan moratorium pendirian perguruan tinggi (PT) oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti)? Dikatakan Hery, pihaknya tidak akan mendirikan PT baru. Melainkan pengembangan sesuai tuntutan kebutuhan SDM dan kondisi geografis. Dan itu terjadi di beberapa tempat di Indonesia. Sehingga, sudah semestinya ditambahkan prodi baru agar update. ’’Pemkab mendorong untuk didirikannya jurusan Care Giver dan Kesehatan Bencana ini,’’ pungkasnya. (bel/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here