Madiun

Polisi Bongkar Prostitusi Online Anak di Bawah Umur

Salah Satu PSK Berusia 15 Tahun

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Praktik prostitusi online merambah Kabupaten Madiun. Polisi membekuk Indrid Serli Mardiana, 34, warga Desa Sumberejo, Geger, terduga mucikari yang menawarkan jasa pekerja seks komersial (PSK) via media sosial (medsos). ‘’PSK-nya kebanyakan pekerja, tapi ada yang di bawah umur 18 tahun,’’ kata Kasatreskrim Polres Madiun AKP Aldo Febrianto Selasa (11/8).

Aldo mengungkapkan, Indrid menjadi induk semang pria hidung belang dalam enam bulan terakhir. Pelaku menawarkan PSK-nya via MiChat dan WhatsApp. Setelah kesepakatan terjadi, dilanjutkan penentuan lokasi bertemu. Pembayaran model cash on delivery (COD). ‘’Transaksi biasa dilakukan di penginapan atau hotel wilayah Kota/Kabupaten Madiun,’’ ujarnya.

Kepada penyidik, Indrid memasang tarif Rp 800 ribu untuk satu PSK sekali transaksi. Duit tersebut lantas dibagi. Perinciannya, Rp 600 ribu PSK dan sisanya jatah mucikari. Bisnis esek-esek itu telah dilakoni enam bulan terakhir. Dalam tempo tersebut, 20 perempuan telah dijajakan. ‘’Pelaku nekat dengan alasan desakan ekonomi. Pekerjaan sehari-harinya berjualan mainan,’’ beber Aldo.

Aldo menerangkan, sepak terjang Indrid terbongkar Sabtu (1/8). Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) awalnya mengamankan dua PSK di salah satu penginapan di Kabupaten Madiun. Yakni, AN, 15, asal Kota Madiun, dan SW, 20, ber-KTP Magetan. Keduanya sedang menunggu pelanggan. ‘’Hasil interogasi dan pengembangan, kami lanjutkan menangkap tersangka yang tinggal satu kos dengan PSK,’’ terangnya, sembari menyebut berdasarkan informasi masyarakat, penginapan ditengarai sering jadi tempat transaksi prostitusi.

Polisi mengamankan uang tunai Rp 1,4 juta dari Indrid yang diduga hasil transaksi pada hari itu. Selain itu, tiga buah smartphone dan kondom. Hasil pemeriksaan lebih lanjut, pelaku tidak merekrut secara khusus, namun sekadar memberikan penawaran kepada dua pemandu lagu tersebut. ‘’Ditawari ada pria hidung belang yang berniat mamakainya,’’ ujar mantan kasatreskrim Polres Pacitan tersebut.

Aldo menyatakan, Indrid diancam pasal berlapis. Yakni, pasal 296 KUHP, pasal 506 KUHP, pasal 45 Undang-Undang 19/2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), serta UU 35/2014 tentang Perlindungan Anak. ‘’Sementara untuk dua PSK masih saksi,’’ pungkasnya. (den/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close