Polisi Bongkar Praktik Prostitusi Online di Ponorogo

183

PONOROGO – Prostitusi online di Ponorogo terbongkar. Itu setelah JH, 29, mucikari asal Madiun, dibekuk kepolisian setempat. JH terbukti menghubungkan perempuan panggilan dari luar kota ke daerah setempat melalui media sosial (medsos). ‘’Tersangka JH menggunakan Twitter untuk memperdagangkan perempuan,’’ kata Kapolres Ponorogo AKBP Radiant kemarin (24/1).

Terkuaknya bisnis esek-esek online itu berawal dari penggerebekan salah satu hotel di Jalan Juanda Ponorogo. Dalam operasi yang dilakukan Unit Resmob dan Unit Tipidter Polres Ponorogo sekitar pukul 16.30 Rabu (23/1), dua pasangan bukan suami istri berhasil diamankan. Keduanya kocar-kacir saat petugas mendobrak pintu. ‘’Sebelumnya, kami mendapati telah berlangsung transaksi prostitusi,’’ ujarnya.

Mischa (nama samaran) terlihat sedang melayani T, warga setempat. Saat sedang panas-panasnya, tiba-tiba petugas datang. Keduanya berjibaku menutupi tubuh yang telanjang bulat dengan selimut. Keduanya lantas diamankan untuk dimintai keterangan. ‘’Dari situlah mulai kami kembangkan untuk memburu si mucikari,’’ terang kapolres.

Sementara pakaian, kontrasepsi, pakaian dalam, dan kartu ATM diamankan sebagai barang bukti (BB). Di hadapan petugas, Mischa mengaku sebagai perempuan panggilan dari luar kota. Saat menjalankan bisnis, dia menggunakan jasa JH sebagai mucikari. JH memasarkan dengan cara mengunggah foto-foto hot di Twitter. Laki-laki hidung belang yang hendak memesan langsung bisa mengirim direct message (DM) ke akun tersebut.

Transaksi antara laki-laki hidung belang dengan mucikari dilakukan via online. Mulai bertanya tentang tempat hohohihe, waktu, servis yang diberikan, hingga kesepakatan harga. Setelah sepakat, biasanya laki-laki hidung belang mentransferkan down payment (DP) sebagai tanda jadi. Barulah mucikari menghubungi perempuan dagangannya untuk melayani laki-laki hidung belang tersebut. Keduanya bertemu di waktu dan tempat yang disepakati. Termasuk pelanggan melunasi kekurangan pembayaran setelah mendapatkan servis.

Tarif satu kali main berkisar Rp 5 juta dengan full servis 12 jam. JH mendapatkan keuntungan Rp 2 juta dari setiap transaksi. Sisanya untuk si perempuan panggilan. JH mengaku menjalankan bisnis haram itu sejak tiga bulan terakhir. Sebagai pemula, dia memiliki dua perempuan dari luar kota yang siap melayani pelanggannya. Dia menjalankan transaksi di sekitaran eks Madiun. ‘’Salah satunya Mischa yang kami tangkap tersebut,’’ bebernya.

Atas perbuatannya, JH terbukti memperdagangkan perempuan. JH melanggar UU RI 16/2016 dan pasal 296 KUHP junto pasal 506 KUHP. Dengan ancaman hukuman maksimal enam tahun penjara. (mg7/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here