Polemik Tugu Kartonyono: Desain Juara I Malah Tak Dipakai

1857

NGAWI – Sesuatu yang tidak beres terkait Tugu Kartonyono ternyata sudah terendus sedari penyelenggaraan sayembara. Elky Bangkit Sura Pradana, juara I Sayembara Pembuatan Desain Tugu Kartonyono 2017, akhirnya buka suara. Elky tidak tahu-menahu soal datangnya desain tugu gading –yang terpasang sekarang– bisa masuk sayembara. Dia juga tidak habis pikir bagaimana bisa desain tersebut terpilih untuk dibangun. ’’Saat presentasi sayembara dulu, yang buat desain itu tidak datang,’’ kata Elky ketika dihubungi Radar Ngawi kemarin (8/11).

Elky paham betul sepeti apa penilaian masyarakat Ngawi saat ini terkait tugu gading di perempatan Kartonyono itu. Dikatakan, wajar jika tugu tersebut menjadi pergunjingan khalayak serampung dibangun. Pasalnya, kata Elky, bentuk gading tidak sesuai ukuran desain alias kecil. Padahal, lokasi tugu di mana tugu itu berdiri lumayan luas. Berbagai tanggapan masyarakat pun mencuat, merespons tugu dengan total biaya pembangunan sebesar Rp 3,1 miliar tersebut. ’’Dulu, desain tugu itu (yang terpasang sekarang, Red) atas nama Triono,’’ sebutnya.

Warga Desa Beran yang sekarang kuliah jurusan arsitek di Universitas Mercubuana, Jakarta, itu membeberkan kejanggalan pelaksanaan sayembara yang dia rasakan. Sayembara desain yang digelar Pemkab Ngawi pada Juli 2017 tersebut awalnya memunculkan lima besar nama peserta yang lolos penilaian tahap pertama. Jumlah tersebut merupakan pengerucutan dari puluhan peserta yang mengajukan proposal sesuai aturan main sayembara. ’’Kelima peserta yang lolos penilaian tahap pertama itu dilombakan lagi. Diminta mempresentasikan desainnya masing-masing,’’ ujarnya.

Sebelum lima besar finalis itu mempresentasikan karyanya, tiba-tiba panitia sayembara menggelar pawai. Kelima desain itu dibuatkan miniaturnya lantas dipamerkan saat pawai rangkaian hari jadi Ngawi 2017. Elky mengatakan sama sekali tidak ada pemberitahuan kepada peserta sayembara lima besar terkait adanya polling tersebut. ’’Di KAK (kerangka acuan kerja, Red) tidak tertulis. Dan, saya juga tidak tahu bagaimana perincian atau persentase hasil polling itu,’’ ungkap mahasiswa yang juga menyambi bekerja di PT FusionArc Architect, Jakarta, tersebut.

Pada saat presentasi lima besar peserta sayembara inilah, aroma kejanggalan mulai terendus. Elky ingat benar seperti apa presentasi yang saat itu dilaksanakan di Hotel Sukowati. Dia mengungkapkan pada penjurian tahap kedua tersebut, Triono –si pembuat desain gading– tidak hadir. Elky tak habis pikir, bagaimana bisa desain itu dijelaskan atau dipresentasikan tanpa ada pembuatnya. ’’Saya sempat bertanya kepada panitia waktu itu, kenapa Pak Triyono tidak bisa datang. Kena macet katanya. Kemudian dipresentasikan oleh pantia sayembara desain gading itu,’’ ujar Elky.

Sampai penjurian tahap kedua tersebut habis, si pembuat desain tugu gading tak kunjung kelihatan batang hidungnya. Elky mengatakan, presentasi desain Triyono –tugu gading– saat itu diwakilkan kepada pihak panitia penyelenggara sayembara. Hal tersebut mengundang tanda tanya besar di kepalanya. Setelah penjurian tahap kedua itu selesai, Elky mengatakan bahwa desain buatannya menjadi juara II. Juara I adalah desain milik Triyono. ’’Karena Pak Triyono tidak datang, panitia memberikan juara I-nya kepada saya. Mestinya, desain yang tidak dipresentasikan atau pembuatnya tidak hadir itu didiskualifikasi,’’ bebernya.

Kasi Tata Ruang DPUPR Ngawi Teguh Suprayitna yang pada sayembara sekau Pejabat Pengadaan Sayembara, memberikan komentar lain. Teguh mengatakan bahwa sayembara tidak ada sangkut pautnya dengan desain yang akan dibangun. Artinya, yang menjadi juara I tidak menjamin dibangun menggantikan tugu Kartonyono lama. Pertanyaannya, lantas apa tujuan mengadakan sayembara tersebut? ’’Sayembara tidak memengaruhi desain mana yang nantinya dibangun,’’ ujar Teguh.

Teguh tidak menampik bahwa saat itu Triyono tidak hadir dalam presentasi. Lantas, bagaimana bisa desain gading menjuntai itu bisa terpilih dan dibangun? Teguh mengatakan, terpilihnya desain gading itu hasil dari polling SMS dan konsultasi publik. Polling SMS melibatkan masyarakat Ngawi. Sementara konsultasi publik, lanjutnya, sudah melibatkan seluruh kades dan camat di Ngawi. Pun, Teguh juga mengklaim terkait transparansi hasil polling masyarakat. ’’Sudah kami (pantia sayembara, Red) sampaikan kepada peserta hasil polling itu,’’ ujarnya.

Teguh mengatakan, sebelum diumumkannya hasil sayembara, tim juri sempat mengadakan rapat tertutup. Rapat tertutup itu akhirnya dikomparasikan dengan hasil polling dan konsultasi publik. Hasil akhirnya, kata Teguh, desain gading menjuntai yang saat itu masih komplet dengan manusia purba menjadi yang terpilih. ’’Sekali lagi, sistem sayembara tidak memengaruhi apa yang akan dibangun pada waktu itu,’’ pungkas Teguh. (mg8/c1/ota)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here