Polda Jatim Tes DNA Orang Tua Pramugari Lion Air

167

MADIUN – Slamet dan Kartini, orang tua Alfiani Hidayatul Solikah, berharap langkah tim disaster victim identification (DVI) Polda Jawa Timur yang datang ke rumahnya kemarin (30/10) tidak memupuskan harapan.

Pasangan suami istri (pasutri) itu berharap sampel deoxyribonucleic acid (DNA) yang diambil tidak valid dengan jasad para korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat. ‘’Keluarga berharap Alfi (panggilan Alfiani, Red) selamat,’’ kata Kartini usai pengambilan DNA.

Hari kedua pasca kecelakaan, keluarga pramugari yang baru genap 20 tahun Desember mendatang itu mulai tegar. Kartini, misalnya, bersedia menjawab pertanyaan awak media. Dia tidak merasakan firasat musibah ketika berkomunikasi terakhir kali, Minggu malam (28/10).

Meski anak semata wayangnya itu menginformasikan ada penerbangan keesokan harinya. Tanda-tanda itu kemungkinan tidak dirasakannya lantaran hampir setiap hari berkomunikasi lewat telepon. ‘’Sampai sekarang (kemarin, Red) belum ada kabar perkembangan,’’ ujarnya sembari menyebut kali terakhir bertemu Agustus lalu.

Mobil DVI Polda Jatim tiba di rumah duka di Desa Mojorejo, Kebonsari, sekitar pukul 10.40. Tim bidang kedokteran dan kesehatan (biddokes) terdiri empat orang itu membawa dua buah tas P3K, tas laptop, dan mesin print.

Proses pengambilan DNA dilakukan di dalam rumah. Slamet dan Kartini yang duduk bersebelahan secara bergantian didata identitasnya. Tidak berselang lama, petugas pria mengambil sampel darah dari lengan kanan Kartini. Berlanjut dengan usapan mulut pada pipi bagian dalam. Kegiatan serupa dilakukan ke Slamet.

Tidak hanya ambil sampel, petugas juga mendokumentasikan dan memindai dokumen kependudukan serta pendidikan Alfi. Selama satu jam proses identifikasi DNA, pandangan Kartini dan Slamet terlihat kosong. Mata keduanya sembap dan memerah.

Kaur DVI Biddokes Polda Jatim drg Yurika Artanti mengatakan pengambilan sampel DNA keluarga korban merupakan perintah atasan. Sampel berupa darah dan usapan pipi bagian dalam itu bakal dikirimkan ke Pusdokes Polri. Untuk dicocokkan ketika proses identifikasi.

Selain DNA, tim juga mengumpulkan data antemortem. Yakni, data vital tubuh dan kelengkapan yang dipakai sebelum kejadian, salah satunya anting. ‘’Kami mencari data sekunder. Primernya ada di pusdokes,’’ paparnya. (cor/c1/fin)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here