Opini

Pola Hidup Normal

KASUS Covid-19 terus naik. Hampir di semua daerah. Di kota kita juga terjadi penambahan. Penambahan signifikan sejak tiga bulan terakhir. Saya ingat betul hanya ada sebelas kasus sampai bulan Juni lalu. Namun, sudah mencapai 91 kasus pada Minggu kemarin (6/9). Artinya, ada 80 kasus pada Juli, Agustus, dan September ini. Penambahan didominasi kontak sebelumnya. Dalam satu hari pernah sampai delapan kasus sekaligus. Yang seperti itu terjadi dua kali. Makanya penambahan bisa secepat itu.

Karenanya, genderang perang melawan Covid-19 saya tabuh kembali. Penyemprotan disinfektan besar-besaran dilakukan. Ruang isolasi juga kembali diaktifkan. Pokoknya, protokol kesehatan kita galakkan. Perwal 39/2020 juga diterbitkan. Yang melanggar siap-siap kena sanksi kerja sosial. Berbagai langkah kebijakan itu saya perkuat dengan aturan jam malam. Tidak ada aktivitas di luar rumah di atas pukul 22.00. Kebijakan itu sudah berjalan sepekan terakhir.

Banyak yang bertanya mengapa itu saya lakukan lagi? Sebelumnya memang pernah saya lakukan. Waktu awal-awal Covid-19 itu datang. Semua aktivitas malam maksimal pukul 22.00. Itu saya lakukan lagi kini. Menangani Covid-19 memang harus dengan beragam cara. Protokol kesehatan wajib adanya. Tapi tidak cukup sampai di situ saja. Butuh imun yang kuat. Imun yang kuat kekebalan tubuh meningkat. Artinya, tidak mudah sakit. Sistem imun ini yang melawan virus dalam tubuh. Termasuk Covid-19.

Makanya tingkat kesembuhan Covid-19 juga tergantung sistem imun masing-masing individu. Ada yang sembuh dalam satu dua hari. Ada juga yang sampai berminggu-minggu. Karenanya, saya ingin meningkatkan sistem imun masyarakat di samping penerapan protokol kesehatan ketat. Seperti diketahui, pembagian sayur, telur, dan susu terus kita lakukan. Ini untuk meningkatkan imun masyarakat. Tetapi aturan jam malam juga untuk itu. Kok bisa? Ya, saya ingin masyarakat Kota Madiun memiliki waktu istirahat cukup.

Aktivitas di luar rumah hanya sampai pukul 22.00. Selebihnya, saya berharap digunakan untuk beristirahat. Atau setidaknya waktu bersama keluarga. Makanya, petugas saya minta turun setiap hari. Sebelum jam 22.00 saya minta keliling. Sosialisasi kebijakan ini sudah dilakukan sebelumnya. Pedagang saya minta berjualan lebih awal. Sebelum jam 22.00 sudah selesai. Petugas keliling mengingatkan mereka yang masih berjualan. Kalau terus melanggar akan ditertibkan. Begitu juga penerapan protokol kesehatan.

Ada yang bertanya lagi, mengapa pukul 22.00? Sebab, daerah lain ada yang menerapkan aturan malam mulai pukul 18.00. Ada juga yang mulai pukul 20.00. Kita mulai pukul 22.00. Menangani Covid-19 bukan hanya terkait penularannya. Tapi juga dampak lain yang ditimbulkan. Salah satunya, perekonomian. Saya ingin perekonomian tetap berjalan. Malam hari menjadi waktunya mencari rezeki bagi sebagian orang. Makanya, aktivitas malam masih kita perbolehkan. Tapi hanya sampai pukul 22.00 tadi. Juga tentunya dengan penerapan protokol kesehatan.

Secara pola kehidupan normal, pukul 22.00 juga waktunya untuk beristirahat. Setiap orang memang memiliki jam biologis masing-masing. Biasanya terbentuk karena kebiasaan. Ada yang terbiasa bergadang tapi bangun paginya sering terlambat. Ada juga yang memiliki jam biologis seperti kebanyakan. Dalam Islam, Nabi Muhammad juga mengajarkan untuk istirahat di awal malam dan bangun di akhir malam. Tidur di awal untuk bangun yang lebih awal pula. Saya ingin pola normal kehidupan itu kembali dilakukan masyarakat.

Tidur lebih awal, istirahat cukup. Istirahat cukup, baik untuk imun. Tidur lebih awal juga bangun lebih awal. Artinya, ada waktu luang sebelum jam bekerja. Saya ingin waktu pagi itu digunakan untuk berolahraga. Tentu setelah melaksanakan ibadah. Gerakan ringan juga tidak apa-apa. Yang penting tubuh bergerak dan terkena sinar matahari pagi. ini juga baik untuk imun tubuh. Karenanya ada aturan jam malam tadi.

Saya masih ingat pesan warga-warga sepuh yang saya temui saat Kunjungan Kerja Wali Kota dulu. Umur memang rahasia Tuhan. Tapi, setidaknya, dari beberapa warga sepuh itu punya kemiripan soal pola hidup yang diterapkan. Yakni, tidak menentang alam. Waktunya tidur ya tidur. Tidak usah dipaksakan bergadang. Waktunya makan ya makan. Jangan sering telat makan. Pola-pola hidup normal ini rutin dilakukan warga-warga sepuh tadi.

Saya ingin ini jadi pembelajaran kita bersama. Adanya Covid-19 mungkin sebuah peringatan. Peringatan karena kita sudah melenceng dari pola hidup normal. Karenanya, saya ingin masyarakat kembali pada pola kehidupan normal. Terapkan protokol kesehatan, konsumsi makanan bergizi seimbang, dan terapkan pola hidup normal. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
close