PN Kota Madiun Eksekusi Rumah, Utang Piutang Berakhir Tegang

57
PERDATA: PN Kota Madiun dikawal petugas dari polisi dan satpol PP dalam eksekusi rumah di Jalan Salak.

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Eksekusi sebidang tanah dan rumah di Jalan Salak, Kelurahan Mojorejo, Taman, Kota Madiun, diwarnai ketegangan. Slamet dan Sumiarsih –penghuni rumah warisan orang tuanya– itu tidak rela huniannya diambil alih. Keduanya menghadang petugas saat hendak melakukan eksekusi pengosongan yang dimulai pukul 09.00 Rabu (18/9).

Pasangan suami istri (pasutri) itu kompak membentangkan tangan di depan pagar rumah. Sedikitnya empat peleton polisi dan satu peleton satpol PP diterjunkan dalam

pengamanan eksekusi. Petugas sempat melakukan pendekatan persuasif agar situasi kondusif. Setelah tiga jam, petugas akhirnya mengosongkan rumah tersebut. Lima truk perabotan diangkut menuju rumah kontrakan yang telah disediakan.

Eksekusi pengosongan itu dilaksanakan Pengadilan Negeri (PN) Kota Madiun. Berdasarkan surat penetapan Nomor 3/Pen.Pdt.Eks/2018/PN Mad juncto Nomor 27/Pdt.G/2012/PN.Kd.Mn juncto Nomor 76/PDT/2014/PT.Sby juncto Nomor 2887K/PDT/2014. ‘’Mengabulkan permohonan penggugat,’’ kata Murtoyo, panitera PN Kota Madiun.

Pengadilan mengabulkan permohonan eksekusi yang dilayangkan Bambang Hadi Mulyo, penggugat, pada 20 April 2018 dan 27 September 2018. Dia pun menegaskan permasalahan sengketa itu didasari masalah utang piutang. ‘’Awalnya utang piutang,’’ ujar Murtoyo.

Dia membeberkan, Slamet dan Sumiarsih meminjam uang kepada Bambang sebesar Rp 50 juta sekitar 2009 lalu. Kemudian dibawa ke notaris dan telah disetujui kedua belah pihak. Ketika tidak sanggup melunasi, sertifikat tanah dan rumah bakal dijual untuk melunasi utang. ‘’Sudah dibuatkan surat kuasa. Nanti sewaktu tidak dapat melunasi utang bakal dibalik nama dan dijual oleh Bambang,’’ lanjutnya.

Sampai tenggat waktu yang diberikan, utang tidak kunjung terlunasi. Hingga akhirnya Bambang memutuskan untuk menjual tanah sebidang dan rumah milik Slamet. Namun, tidak kunjung laku. ‘’Akhirnya Bambang membeli tanah tersebut,’’ ungkap Murtoyo.

Slamet bermaksud hendak melunasi utang sekitar 2012. Namun, ditolak Bambang lantaran telah jatuh tempo. Bambang mempersilakan Slamet mengajukan gugatan. ‘’Digelar persidangan di PN Kota Madiun dan dimenangkan pihak Bambang,’’ sambungnya.

Tidak puas terhadap hasil pengadilan, Slamet melakukan upaya banding. Namun, keputusan Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya tetap memutuskan Bambang sebagai pemenang. ‘’Singkat kata, Slamet melakukan upaya hukum kasasi. Tapi, keputusannya tetap Bambang sebagai pemenang,’’ terangnya.

Bambang selaku penggugat mengaku telah memberikan kesempatan kepada Slamet agar mengosongkan rumah tersebut. Namun, tidak dihiraukan. Sehingga mengajukan permohonan eksekusi ke PN setempat. ‘’Kesempatan yang sudah diberikan disia-siakan,’’ kata Bambang.

Menyikapi itu, Sumiarsih bakal kembali melakukan upaya hukum. Dia menuntut uang tambahan senilai harga jual tanah dan rumah tersebut. Dia merasa dibohongi pihak penggugat. ‘’Utang sama nilai harga jual tanah dan rumah tidak sebanding. Setelah ini kami mau tinggal di mana,’’ ucap Sumiarsih pasca-eksekusi. (kid/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here