Plastik Dilarang, Beli BBM di SPBU dengan Teko

938

PACITAN – Larangan pembelian bahan bakar minyak (BBM) menggunakan jeriken plastik membuat konsumen harus putar otak. Khususnya para pengecer dan petani. Berbagai cara mereka tempuh untuk mendapatkannya. Salah satunya menggunakan teko air untuk wadah bensin. ‘’Sudah tidak boleh pakai jeriken plastik. Jadi pakai ini (teko, Red),’’ kata Samingun, salah seorang pembeli warga Sedayu, Arjosari, kemarin (12/2).

Dia terpaksa menggunakan teko lantaran lebih mudah ketimbang wadah lainnya. Pun harganya jauh lebih murah ketimbang jeriken logam. Apalagi BBM yang dibelinya hanya beberapa liter. ‘’Cuma buat bahan bakar alat pemotong kayu, gak banyak,’’ ujarnya.

Dua hingga tiga hari sekali Samingun ke stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Arjosari, tak jauh dari rumahnya, itu untuk beli bensin. Membawa sebuah teko dan jeriken plastik untuk wadah. Saat beli dia menyodorkan tekonya. Setelah terisi penuh dipindahkan ke jeriken plastik. Sebab, amat bahaya jika teko ditenteng sembari mengendarai sepeda motor. ‘’Kalau jeriken kan aman, tidak tumpah,’’ tuturnya.

Sempat tebersit membeli jeriken logam berukuran besar sebagai wadah saat beli solar. Namun, harganya ratusan ribu rupiah dan tak ada yang berukuran kecil. Meski merepotkan, namun lebih mudah ketimbang mengambil dari sepeda motor atau membeli dari pengecer. Pasalnya, jarak rumah dengan SPBU dekat. ‘’Harganya di pengecer beda, kalau ke sini (SPBU, Red) paling gak sampai lima menit,’’ terangnya.

Sementara Gunawan, pemilik SPBU mini di Arjosari, terpaksa beralih ke jeriken seng. Sempat bolak-balik dengan kendaraan roda dua untuk beli bensin. Namun, lambat laun boros di ongkos dan waktu. Hingga dia memilih beli jeriken seng berukuran 35 liter. ‘’Beli dua. Satu harganya sekitar 130 ribuan, lumayan mahal,’’ katanya. (mg6/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here