Plakat Nama Mejayan Diganti sebelum Turun Regulasi

410

MADIUN – Langkah penggantian plakat nama ikonik dari Mejayan menjadi Caruban terkesan gegabah. Tiga dari enam tempat ikonik sudah diganti tanpa menanti turunnya Peraturan Pemerintah (PP) 52/2010 tentang Pemindahan Ibu Kota Kabupaten Madiun dari Wilayah Kota Madiun ke Kecamatan Mejayan. ‘’Tidak masalah meski revisi regulasi masih di pusat,‘’ kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Madiun Arnowo Widjaja kemarin (11/12).

Arnowo mengklaim langkah mengganti nama ikonik sebelum turun regulasi tidak menyalahi aturan. Sebab, isi pokok regulasi anyar itu mencantumkan bahwa Caruban sebagai nama ibu kota Kabupaten Madiun, bukan Mejayan. Informasinya, regulasi yang masih di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) itu turun tidak lama lagi. ‘’Ya, kami mengawalinya dulu,’’ ujarnya.

Keputusan juga berdasar masukan masyarakat yang menghendaki adanya pergantian nama. Sebab, penamaan Mejayan berdasar PP 52/2010 dipandang tidak tepat. Regulasi itu hanya mengatur perpindahan pusat pemerintahan, tidak sampai mengarah ke perubahan nama. Meski di Kecamatan Mejayan, nama ibu kotanya tidak harus sama. Di sisi lain, pihaknya mempertimbangkan ulang aspek sejarah dan popularitas nama Caruban. ‘’Punya potensi dijual ke investor,’’ tuturnya kepada Radar Mejayan.

Arnowo menambahkan, ada enam tempat ikonik di Kecamatan Mejayan yang diganti. Tiga di antaranya sudah diubah akhir pekan lalu. Yakni, dua gerbang selamat datang sebelah barat masuk Desa Klitik, Wonoasri, dan timur masuk Desa Ngepeh, Saradan. Pihaknya bakal mengganti sisanya, yakni alun-alun di puspem, Taman Kota di Jalan Panglima Sudirman, dan rest area di wilayah eks pasar burung. Setelah plakat yang menyertainya dicopot. ‘’Dipastikan penggantiannya bulan ini semua,’’ terangnya. (cor/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here