PKL Taman Asti Nekat Terobos Batas Toleransi Penggunaan Trotoar

238

MEJAYAN – Sudah tertata apik. Ternyata, pedagang kaki lima (PKL) di Taman Kota Caruban Asti masih menyisakan polemik yang cukup pelik. Sebagian besar dari mereka nekat menerobos batas toleransi penggunaan trotoar. Ironisnya, satuan polisi pamong praja (satpol PP) belum tahu cara memahamkan mereka agar taat aturan. ‘’Masih jadi masalah,’’ kata Kabid Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat Satpol PP Kabupaten Madiun Krisna Setiawan.

Krisna tak membantah, meski sudah tertata, PKL di bekas Pasar Caruban itu belum sepenuhnya tertib. Mereka masih menggunakan tenda dari dinas perdagangan koperasi dan usaha mikro (disperdakop-UM). Tenda besi tersebut cukup berat. Sehingga sulit dibongkar pasang. ‘’Ke depan, kami ingin harus bongkar pasang total seperti yang ada di Alun-Alun Reksogati sekarang ini,’’ ujarnya.

Tujuan perlakuan sama untuk menegakkan peraturan tentang ketertiban di sekitar fasilitas umum. Saat ini, PKL di Alun-Alun Reksogati harus bongkar pasang lapak. Pun jam berjulan terbatas mulai pukul 15.00 hingga 24.00. Hal sama akan diberlakukan pada PKL di Taman Kota Asti yang diresmikan 2016 itu. ‘’Mereka bongkar pasangnya tidak total, hanya gerobaknya kadang dipindah kalau tidak jualan,’’ ungkapnya.

Saat ini, para PKL di timur dan selatan taman menempati tenda semipermanen. Namun, Krisna menyayangkan para PKL yang menggunakan trotoar. Menurut dia, itu sudah melebihi toleransi. Karena itu, pihaknya bakal segera menertibkan. ‘’Cepat atau lambat harus dibuatkan regulasi seperti PKL di Alun-Alun Reksogati,’’ jelasnya.

Dia menyebut tendanya pun akan diganti. Yakni, tenda seperti yang digunakan PKL di alun-alun Caruban itu. Yakni, berkerangka besi ringan. Sehingga, tak terlalu menyulitkan pedagang untuk bongkar pasang. ‘’Jadi diganti juga nanti,’’ pungkasnya. (mg4/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here