PKL Selatan Masjid Quba Caruban dalam Posisi Dilematis

173

MEJAYAN – Keputusan relokasi berdagang mengagetkan sejumlah pedagang kaki lima (PKL) di selatan Masjid Quba Caruban. Bukan karena tenggat pemindahan aktif pekan depan, melainkan adanya kebijakan bongkar-pasang lapak. Syarat menempati lokasi baru di sepanjang alun-alun sisi barat dan utara Alun-Alun Reksogati Caruban. ‘’Banyak yang kaget mendengar kebijakan pemkab,’’ kata koordinator Paguyuban Sembilan Muda Suro Subagyo kemarin (18/1).

Suro menjelaskan, pedagang dalam posisi dilematis. Satu sisi nyaman berjualan di kompleks masjid sejak dipindah awal 2018. Sebab, tenda dan gerobak bisa ditinggal di tempat. Meskipun menyadari tempatnya kumuh. Sisi lainnya menyambut baik relokasi. Pasalnya, lokasi berjualan saat ini dipandang tidak strategis. Dagangan sering tidak laku karena minim pengunjung. Sementara di kawasan alun-alun ramai karena banyak warga hilir mudik. ‘’Harapan kami dipindah tanpa perlu bongkar pasang,’’ ujar warga Kelurahan Krajan, Mejayan, ini.

Disperdakop-UM Kabupaten Madiun sudah menyampaikan wacana relokasi kepadanya sejak sebulan lalu. Dia mengikuti perkembangan pembahasan sampai finalisasinya Kamis lalu (17/1). Bahkan, sempat diajak studi banding ke Taman Pancasila, Karanganyar, Jawa Tengah, terkait jam berjualan dan bongkar pasang. Hal tersebut sebetulnya telah diteruskan ke anggota paguyuban. Namun, belum bisa menyeluruh lantaran masing-masing punya kesibukan. ‘’Agar semua paham terkait relokasi, disperdakop-UM mengagendakan pertemuan dengan seluruh pedagang, besok (hari ini, Red),’’ tuturnya.

Suro telah memberikan pemahaman bahwa kebijakan pemkab demi kebaikan bersama. Selain ketertiban dan keindahan, pusat pemerintahan (puspem) tetap terjaga. Pedagang pun lebih prospektif dalam berdagang. Di sisi lain, dia sempat menceritakan situasi dan kondisi (sikon) PKL Taman Pancasila. Mereka berhasil melaksanakan kebijakan berjualan pukul 16.00 hingga 24.00 yang diikuti kewajiban bongkar lapak. ‘’Kalau mereka bisa, mengapa kami tidak?’’ ucapnya kepada Radar Mejayan.

Dia mengungkapkan, anggota paguyuban sedang membuat komitmen saling kerja sama untuk meringankan beban berat itu. Misalnya, bongkar pasang lapak. Antara satu pedagang dan lainnya saling membantu untuk memasang atau melepas. Termasuk menunjuk beberapa rumah untuk dijadikan tempat penitipan tenda atau gerobak.

Pemiliknya akan diberikan kompensasi uang sewa. Sebab, sejumlah pedagang berasal dari luar Kecamatan Mejayan. Mengantisipasi harus bolak-balik setiap hari membawa peralatan dagang. Sedangkan lainnya asal Kelurahan Krajan dan Bangunsari tidak terlalu mempermasalahkan. ‘’Sekarang pilihannya ada di pedagang. Mau rekasa tapi dapat omzet, atau tidak rekasa tapi tidak punya omzet,’’ tegasnya.

Suro menilai bagus ketika disinggung desain penempatan PKL dari disperdakop-UM. Jumlah kavling jualan lebih banyak ketimbang jumlah pedagang paguyuban. Apalagi dari total seratusan banyak tidak aktif. Anggota paguyuban yang belakangan ini berjualan di alun-alun sisi barat tetap dibiarkan menempati lokasi itu. ‘’Jadi, yang pindah hanya pedagang di dalam kompleks masjid di utara alun-alun,’’ ungkapnya.

Terkait pembagian titiknya, tidak lewat pengundian melainkan musyawarah mufakat. Selain karena kavlingnya cukup banyak, pembagian lewat lotre itu dipandang merumitkan. Paguyuban juga nurut pemkab dengan menempatkan wahana bermain seperti odong-odong di pojok antara masjid dengan Pendapa Ronggo Djoemeno. Sementara yang berjualan mainan kecil-kecilan di depan pendapa. Jumlah pemilik usaha mainan itu sekitar 20-an. Hari ini dijadwalkan uji coba relokasi dan berjualan malamnya. ‘’Final diberlakukan Senin nanti (21/1),’’ ujarnya. (cor/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here