Pipit Sandra Dewi, Prajurit Peraih Juara Karate Kata Beregu Putri

172

Serka (K) Pipit Sandra Dewi merupakan satu-satunya prajurit perempuan di Kodim 0802 Ponorogo. Terlahir sebagai wanita tak lantas membuatnya canggung mengokang senjata. Beberapa bulan lalu dia meraih Juara III Karate Kata Beregu Putri Pekan Olahraga Angkatan Darat di Magelang.

——————

DI sela wawancara, Serka (K) Pipit Sandra Dewi menyempatkan memperagakan beberapa gerakan karate. Mulai enpi, sochin, hingga gojo sisho sho. Untuk beralih dari satu gerakan ke gerakan lainnya, dia mengambil jeda. Mencoba mengingat gerakan yang sudah dia pelajari tahun lalu. ‘’Saya memang satu-satunya prajurit perempuan di sini. Gak nyangka juga bisa juara karate kata,’’ kata anggota Kowad Kodim 0802 Ponorogo ini.

Pipit ingat betul bagaimana perjuangannya untuk menorehkan prestasi dalam kejuaraan Karate Kata Beregu Putri Pekan Olahraga Angkatan Darat di Magelang, Juli 2018. Meski saat ini dia sudah mulai meninggalkan hobinya tersebut. Fokus mengurus anak-anak dan keluarga. Ketika itu, dia tidak menyangka bakal menjadi wakil dari kodim setempat. Dia bersama perwakilan dari dua daerah lain mengikuti kejuaraan tersebut. Rupanya latihan untuk menghadapi kejuaraan itu telah dipersiapkan sepuluh bulan sebelum kejuaraan berlangsung. ‘’Berlatihnya cukup lama, kurang lebih sepuluh bulan di Kodam V Brawijaya,’’ ujar prajurit kelahiran 1989 itu.

Padahal saat itu dia baru saja melahirkan anak bungsunya. Karena itulah, dia rela bolak-balik Surabaya-Madiun demi memenuhi kebutuhan ASI bagi buah hati. Sekali-dua kali seminggu dia harus menempuh perjalanan. Kendati demikian, dia menjalani dengan ikhlas dan tanpa beban. ‘’Belum latihannya yang menuntut fisik dan menghafal,’’ ungkap istri Achmad Farid itu.

Beban latihan semakin berat saat Pipit harus menghafal seluruh gerakan beserta istilah dengan bahasa Jepang. Mulai gerakan dasar enpi, sochin, hingga gojo shiho sho. Tidak jarang saat sudah bisa menguasai gerakan, namun lupa nama gerakan tersebut. Itu menjadi tantangan tersendiri. Pun, konsentrasi itu harus terpecah sebab jauh dari buah hati yang baru saja terlahir. Dia juga harus menjaga kondisi fisik agar tetap prima. Karena itu, dia lari selama kurang lebih lima belas menit setiap pagi. ‘’Sejak dulu, kita memang sudah dididik seperti itu. Jadi gak kaget,’’ ungkapnya.

Perjuangan dan pengorbanan waktu itu pun berbuah manis. Menoreh juara III dalam kejuaraan yang baru kali pertama dilakoninya tersebut. Pengalaman berharga itu tak kan pernah terlupakan. ‘’Semoga dapat menginspirasi terutama bagi adik-adik,’’ ucap ibu dua anak itu. *** (nur wachid/fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here