Pilpres Dongkrak Partisipasi Pemilih

25

MADIUN – KPU Kabupetan Madiun dan tim desk pemkab kompak mengklaim tingkat partisipasi dalam Pemilu 2019 sekitar 81 persen. Ketokohan dalam pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg) disebut sebagai salah satu faktor terlampauinya partisipasi yang ditarget 77,5 persen. ’’Tidak dipungkiri sosok capres-cawapres (calon presiden dan wakil presiden, Red) turut memengaruhi,’’ kata Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik Dalam Negeri (Bakesbangpoldagri) Kabupaten Madiun Agus Budi Wahyono (ABW) kemarin (19/4).

Menurut ABW, sosok pasangan calon (paslon) nomor 01 Joko Widodo-Ma’aruf Amin dan nomor 02 Prabowo-Sandiaga Uno membuat masyarakat menjadi penasaran. Peran media massa yang setiap hari memberitakan kegiatan kampanye dan aktivitas mereka ikut memengaruhi. Setidaknya, masyarakat yang awalnya acuh akhirnya menjadi tertarik dan bersedia menggunakan hak politiknya. ’’Termasuk para pemilih pemula,‘’ ujarnya.

Ketokohan calon legislatif (caleg) DPRD Kabupaten Madiun juga dipandang menjadi alasan tingkat partisipasi naik. Baik keberadaan peserta wajah lama atau baru. Masyarakat bisa mengetahuinya dengan mudah karena adanya ribuan alat peraga kampanye (APK) di banyak ruas titik jalan kecamatan dan kabupaten. Jenis pemilihannya juga lebih banyak dibandingkan Pilkada 2018 yang hanya memilih bupati dan gubernur. ’’Tidak heran kalau berdasar pemantauan tim desk di tingkat kecamatan tingkat partisipasi bisa sekitar 80-81 persen,’’ ucapnya kepada Radar Caruban.

Ketua KPU Kabupaten Madiun Anwar Soleh Azarkoni menyatakan, warga yang menggunakan hak pilihnya Rabu (17/4) lalu sekitar 463 ribu dari total 572 ribu. Bila dipersentasekan berkisar 80-81 persen. Angka tersebut didapatkan dari hasil pemantauan kolektif di seluruh tempat pemungutan suara (TPS) di 15 kecamatan. Kendati penghitungan resminya belum final. ’’Mereka adalah pemilih aktif selama ini ditambah dengan yang pemula,’’ ujarnya.

Menurut Anwar, tingkat partisipasi kali ini sangat bagus. Selain melampaui target nasional 77,5 persen, angkanya juga lebih baik ketimbang Pemilu 2014 atau Pilkada 2018 yang sama-sama 75 persen. Sedangkan kalangan yang tidak menyalurkan hak politiknya ditengarai karena faktor non-teknis. ‘’Mungkin tidak sempat karena bekerja di luar daerah. Kabupaten Madiun kan juga daerah agraris,’’ paparnya.

Antusiasnya warga mencoblos karena banyak faktor. Anwar tidak memungkiri kalau ketokohan paslon dan caleg lokal ikut andil mengerek partisipasi. Terlepas itu, dia menilai yang nomor satu adalah masyarakat menyadari memiliki kepentingan terhadap pesta demokrasi. ‘’Mencoblos adalah hak, bukan kewajiban,’’ ujarnya sambil menyebut peningkatan karena sosialiasi lembaganya maksimal. (cor/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here