PILKADES: 8 Incumbent Lawan Istri

32

PONOROGO – Longgarnya regulasi calon kepala desa (cakades) berimbas pada banyaknya jumlah muka lama yang mendaftar di pilkades. Fenomena incumbent (bacakades petahana) melawan anggota keluarga sendiri seolah semakin umum di pilkades kali ini. Tengok saja Jetis. Dari sebelas desa yang menggelar pilkades, delapan di antaranya diisi oleh incumbent melawan pasangan hidup masing-masing. ’’Rata-rata calon yang non incumbent ini takut bersaing dengan yang incumbent,’’ beber Camat Jetis Heru Budi Santoso.

Heru menuturkan, kecamatannya menggelar sebelas pilkades pada 20 Mei mendatang. Di antaranya di Desa Ngasinan, Kutuwetan, Kutukulon, Coper, Mojomati, Kradenan, Tegalsari, Jetis, Wonoketro, Turi, dan Josari. 26 bacakades mendaftar. Dari sebelas desa tersebut, delapan diantaranya diikuti kades melawan istri mereka. Satu desa lainnya (Josari) diikuti sepasang kakak-adik. Hanya dua desa (Mojomati dan Tegalsari) yang calonnya tidak terkait hubungan keluarga. Pun, terdapat lebih dari dua calon.

Di mata Heru, pilkades melawan anggota keluarga merupakan fenomena yang tidak terelakkan. Sebab, kerap muncul kekhawatiran dari orang baru yang ingin maju sebagai bacakades. Mereka cemas tak mampu menyaingi incumbent. Kendati belum dapat diukur bagaimana perbandingan kinerja antara bacakades muka baru dan yang lama. ’’Selain takut bersaing, juga karena faktor kesiapan calon yang non incumbent ini untuk maju di pilkades,’’ kata dia.

Disamping itu, regulasi juga memberi peluang praktik tersebut dilakukan. ‘’Secara aturan memang diperbolehkan. Persyaratannya yang penting hanya WNI, jadi siapa saja boleh mendaftar,’’ sebut Heru.

Fenomena bacakades incumbent melawan anggota keluarganya sendiri merupakan imbas dari longgarnya sistem seleksi pilkades. Sepatutnya, sistem seleksi disusun dengan melibatkan banyak hal sebagai persyaratan. Tujuannya, kata dia, supaya pilkades dapat semakin berkualitas dan menelurkan output kades yang memang kompeten dalam memimpin pembangunan desa. Tak peduli apakah incumbent maupun bukan. Hal itu diungkapkan Rektor Universitas Muhammadiyah Ponorogo Sulton. Di mata Sulton, seleksi pilkades perlu diperketat. ’’Beberapa indikator perlu jadi acuan dalam menyeleksi bacakades. Seperti kecakapan dalam memimpin, kemampuan manajerial, dan kapabilitas yang lain,’’ urai Sulton.

Pasalnya, lanjut Sulton, desa saat ini telah menjelma menjadi motor pembangunan daerah. Dengan kewenangan (termasuk anggaran) besar yang didapat oleh desa, sepatutnya pembangunan desa dapat berjalan secara efektif serta memiliki arah yang jelas. Disini, kapabilitas seorang pemimpin di desa menjadi salah satu faktor penentu dalam mencapai tujuan tersebut. ’’Tapi sepanjang seleksi pilkades ini masih cukup longgar, fenomena-fenomena politik pragmatis akan tetap bermunculan,’’ tandasnya. (naz/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here