Pileg 2019: Tak Ada Jaminan Esistensi Petahana

60

MADIUN – Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 memasuki babak final. Rabu Pahing (17/4) besok, 325 calon legislatif (caleg) DPRD Kota Madiun mengharap dukungan dari 147.541 pemilik suara untuk memperebutkan 30 kursi. Rasio jumlah kursi dan caleg 1:10.

Pemilih tersebar di empat daerah pemilihan (dapil). Terdiri dari Dapil I Kartoharjo dengan 41.906 pemilih untuk 8 kursi. Lalu, Dapil II Taman A 32.912 pemilih (7 kursi). Serta dapil III Taman B sebanyak 31.133 pemilih (6 kursi) dan dapil IV Manguharjo 41.950 pemilih (9 kursi).

Pada Pemilu Legislatif (Pileg) 2014 lalu di Kota Karismatik, Demokrat mendulang dukungan terbanyak dengan perolehan 24.587 suara. Kemudian disusul PDIP 20.457 suara, Gerindra 13.705 suara, PKB 10.141 suara, Nasdem 6.617 suara, Golkar 5.871 suara, PAN 4.990 suara, PKS 4.273 suara, Hanura 6.694 suara dan PPP 2.960 suara.

Pengamat politik lokal Mudji Rahardjo memprediksi pada Pemilu 2019 ini berpotensi terjadi perubahan peta politik. Itu dipicu munculnya partai politik (parpol) baru. Seperti PSI, Perindo, Garuda dan Berkarya. Di sisi lain, mengorbitnya caleg-caleg baru bisa menggoyang petahana. ‘’Yang jelas, caleg petahana harus tetap kerja keras. Karena kelanggengan mereka belum terjamin, soalnya banyak caleg baru yang cukup potensial,’’ kata akademisi Unmer Madiun ini kemarin (15/4).

Pada Pemilu 2019 ini hampir seluruh anggota DPRD periode 2014-2019 macung kembali. Hanya Bondan Panji Saputro dari Demokrat dan Marsidi Rosyid dari PKB yang urung maju.

Mudji tak menampik sehari menjelang coblosan semua caleg makin gencar memikat konstituen demi meraup dukungan suara absolut. Sudah jadi rahasia umum, sebagian caleg tidak populer yang hanya bermodal uang, masih mempraktikkan beli suara. Salah satu modusnya, membentuk relawan terselubung untuk melancarkan praktiknya. Bahkan, ada yang menerapkan sistem multi level marketing (MLM).

Dia menyebut sebagian caleg menjadikan politik uang jadi kekuatan utama meraup suara. Itu lantaran motivasi yang keliru untuk jadi anggota DPRD. Ada yang bermotif ingin mendapat status sosial agar dihormati banyak orang. Ada yang bermotif ingin mendapat pengaruh atau kekuasan agar dipermudah mendapat fasilitas pemerintah atau kemudahan lain yang melekat karena posisi strategis yang dimiliki. ‘’Padahal, menjadi caleg itu bentuk pengabdian,’’ ungkapnya. (her/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here