Petugas TPS 22 Krebet, Jambon Tutup Usia

91

PONOROGO – Tumirin patut dikenang sebagai pahlawan demokrasi. Jasanya mengawal proses pemungutan suara di TPS 22 Krebet, Jambon besar sekali. Sempat pulang tengah malam karena sakit, lalu menyempatkan kembali pagi harinya. Kini, dia telah pergi untuk selama-lamanya. Meninggalkan istri dan dua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah.

Rumah menghadap ke selatan itu ramai peziarah. Muhammad Jefri Saputro, putra sulung Tumirin terlihat tegar. Menyalami seluruh pelayat yang datang silih berganti. Dengan tatapan masih terpaku pada sebingkai foto almarhum ayahnya di teras rumah. Sunarmi. ibunya dan Nina Dwi Relanisa, adiknya masih menenangkan diri di kamar.

Tak terhitung berapa petugas penyelenggara pemilu yang melayat. Mereka juga sangat kehilangan rekan kerja yang dikenal supel, tanggung jawab, disiplin dan jujur. ‘’Bapak itu mengeluh sakit pas pulang dini hari setelah penghitungan suara,’’ kata Jefri mengenang hari pencoblosan lalu.

Petugas TPS 22 Desa Krebet, Jambon itu tutup usia 54 tahun. Tepat sembilan hari usai menjalankan tugas mulai mengawal pesta demokrasi. Almarhum meninggal di tengah perjalanan menuju puskesmas Jambon sekitar pukul 06.30 kemarin (26/4). Jenazah dimakamkan sekitar pukul 10.00 di pemakaman setempat. ‘’Semalam bapak mengeluh nggak bisa tidur,’’ lanjutnya.

Selain tak bisa bisa tidur, almarhum sempat mengeluhkan kondisi tubuhnya yang semakin lemas. Sejatinya, saat mengawal penghitungan suara sudah mengeluhkan sakit namun berangsur membaik. ‘’Bapak bertugas sampai dini hari,’’ tegasnya.

Di TPS yang berjarak sekitar 100 meter dari rumahnya, Tumirin berangkat sebelum pukul 06.00. Dia bersama petugas lainnya harus menyiapkan tempat dan segala keperluan pelaksanaan pemilu serentak 17 April lalu. Seusai pemilihan, Tumirin dan petugas lainnya lanjut menghitung lima jenis seluruh surat suara. ‘’Sekurangnya kami melayani 279 DPT (daftar pemilih tetap),’’ kata Sardi Siswoyo, Ketua KPPS TPS 22 Krebet, Jambon.

Dalam menghitung, seluruh petugas dituntut jeli dan teliti. Apalagi, diawasi oleh berbagai pihak. Tak sembarangan menentukan surat suara sah atau tidaknya. Pengitungan suara baru selesai sekitar pukul 02.30, kamis dini hari (18/4). Satu jam sebelumnya, Tumirin sudah merasa tidak kuat. Dia pamit kepada petugas lain untuk pulang. Sesampainya di rumah, dia pun lemas. Meski demikian, dia masih bertekat kembali ke TPS pada pagi harinya. Memastikan seluruh surat suara aman, dan tidak ada kekeliruan dalam penghitungan. ‘’Orangnya tanggung jawab sekali,’’ lanjutnya.

Sosok Tumirin dikenal sebagai pribadi yang baik di lingkungannya. Selain ketua RT, dia merupakan motor penggerak pemuda di lingkungannya. Entah berapa kali pemilu, Tumirin bertanggung jawab sebagai petugasnya. Pemilu tahun ini, tidak hanya Tumirin yang tumbang. Beban kerja berlebihan itu juga dirasa berat seluruh petugas di tingkat TPS. Mulai persiapan, pelaksanaan coblosan, penghitungan suara, agregator, hingga rekapitulasi formulir C1. ‘’Sepertinya punya riwayat penyakit maag,’’ ucapnya. *** (fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here