Petugas Lapangan PLN Salahi SOP, Listrik Kembali Dialirkan, Denda Tetap Rp 1,3 Juta

231
SALAH PROSEDUR: Sumadi (kanan) setelah menyelesaikan masalah pemutusan aliran listrik karena tuduhan perusakan di kantor ULP PLN Caruban.

MEJAYAN – Kasus tuduhan pencurian aliran listrik rumah Sumadi tak berlarut-larut. Warga Desa Bener, Saradan, itu terbebas dari denda yang dilayangkan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebesar Rp 1,3 juta. Perusahaan negara itu menyadari ada kesalahan prosedur petugas penertiban kala memeriksa instalasi listrik dan menyampaikan informasi pelanggaran ke pelanggan. ’’SOP (standard operating procedure, Red) sudah dijalankan, tapi ada sedikit yang tidak pas,’’ kata Manajer Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Caruban Supriadi Prispandoko Selasa (2/7).

Supriadi mengungkapkan, kesalahan petugas telah menyampaikan besaran denda kala masih berada di lokasi. Urusan itu sebetulnya menjadi urusan kantor pelayanan. Sebab, perlu dihitung lewat sistem dengan menyesuaikan tarif dasar listrik (TDL)-nya. Kala pemeriksaan Kamis lalu (27/6), Sumadi diberi informasi biaya denda sebesar Rp 100 ribu. Akan tetapi, hasil penghitungan sistem nilainya Rp 1,3 juta. ’’Petugas lapangan tidak punya wewenang memberitahukan denda. Akhirnya, timbul persepsi berbeda dari pelanggan,’’ paparnya.

Kemarin pagi, Sumadi bersama anaknya Muhammad Muhsin bertemu dengan petugas yang memonitor instalasi listrik. Mereka membahas ulang kronologis pemeriksaan dan temuan pelanggaran sesuai dalam berita acara. Adu argumen yang disaksikan Supriadi tidak berlangsung alot. Kedua kubu sepakat menyudahi masalah. Listrik rumah Sumadi dialirkan kembali tanpa menghapus temuan pelanggaran. ’’Denda tetap ada. Tapi karena kesalahan di petugas, mereka yang tanggung jawab membayar,’’ ucap Supriadi seraya menyebut para petugas itu juga sudah ditegur.

Bagaimana dengan temuan pelanggaran? Supriadi menyebut petugas menemukan pelanggaran fisik berupa dua titik lubang pada kabel di atas boks meteran. Namun, Sumadi tidak mengakui pernah merusaknya. Pihaknya pun enggan mencari-cari masalah dengan memilih untuk percaya. Asumsi yang dipakai ada orang lain atau oknum mengatasnamakan PLN yang sengaja memanfaatkan jaringan listrik rumah Sumadi. ‘’Intinya, kami tidak ingin ada pihak yang dirugikan. Apalagi listrik di rumah pelanggan padam selama lima hari,’’ bebernya.

Terpisah, Muhsin berharap kasus serupa tidak terulang di kemudian hari. Petugas penertiban bisa bekerja sesuai SOP-nya. Di sisi lain, masyarakat bisa lebih antisipasi kala menerima petugas PLN yang hendak melakukan pemeriksaan instalasi. ‘’Meski dirugikan listrik padam beberapa hari, kami apresiasi PLN tanggung jawab untuk mengaktifkannya kembali,’’ katanya. (cor/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here