Petugas Kewalahan Tertibkan Pedagang Pasar eks Stasiun

251

PONOROGO – Penertiban yang digencarkan Satpol PP terbukti tidak sanggup menyeterilkan kawasan pasar eks stasiun. Setiap dini hari, pedagang obrokan terus berdatangan melakukan bongkar muat dan sederet aktivitas perdagangan di bahu Jalan Soekarno Hatta. Meski, 25 personil disiagakan Satpol PP sedari pukul 00.00 hingga pagi. ‘’Setelah ditertibkan, mereka kembali lagi. Begitu seterusnya,’’ urai Kasatpol PP Supriyadi.

Justru, lanjut Supriyadi, denyut transaksi semakin meluas setelah relokasi. Supriyadi menganalogikan fenomena itu bak gula dan semut. Pedagang tidak mungkin datang kembali ke eks stasiun jika tidak banyak warga atau calon pembeli yang mendatangi. Senyatanya, masyarakat pun masih berat hati untuk tidak berbelanja di pasar eks stasiun. ‘’Seperti gula dan semut-lah. Pedagang merasa lebih banyak pembeli di eks stasiun,’’ kata dia.

Fakta ini semakin mengecilkan hati Satpol PP. Selain terus kucing-kucingan, areal berjualan kian meluas hingga Jalan Wilis dan perempatan Semeru. Petugas terus bekerja ekstra keras. Tetapi, jam dinas korps penegak perda ini pun acak-acakan. Lantaran sebagian besar personil disiagakan malam hari, siangnya jadi kelelahan. ‘’Kalau bicara kewalahan, personil kami mau disebut kurang ya memang kurang. Apalagi melihat areal berjualan para pedagang ini (di eks stasiun) semakin meluas,’’ terang Supriyadi.

Pekan lalu, sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) dikumpulkan Sekda Agus Pramono. Pemkab tengah menggodok rencana untuk mengambil sikap terkait masih berdenyutnya transaksi ekonomi di pasar eks stasiun. Satpol PP ikut dilibatkan dalam rapat. Salah satu opsinya memberi ruang baru bagi pedagang eks stasiun, khususnya obrokan, selain di pasar sementara. Selain, dimungkinkan akan ada langkah yang lebih tegas. ‘’Opsi penertiban masih dikaji, dasarnya RTRW itu,’’ tukasnya.

Akademisi melihat fenomena kembali berjualannya pedagang di eks stasiun merupakan buntut dari relokasi. Apalagi, kondisi pasar sementara yang terlampau berjejal dan serba terbatas. ‘’Karena ada yang nyaman dan keberatan saat direlokasi, kuncinya tetap di komunikasi. Penertiban itu opsi terakhir,’’ tutur Imam Fauzi, pakar ekonomi Unmer Ponorogo.

Sepekan relokasi, denyut transaksi di pasar sementara berangsur membaik. Imam mewanti agar problem di eks stasiun cepat dicarikan solusi. Agar, fenonema pedagang tumpah di sana tidak merembet di pasar sementara. ‘’Relokasi pedagang di manapun akan selalu sulit. Tidak bisa instan,’’ tuturnya. (naz/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here