Magetan

Petani Plaosan Geruduk Kecamatan Protes Penutupan Pintu Air Telaga Sarangan

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Sejumlah petani Kecamatan Plaosan menggeruduk kantor kecamatan setempat Senin (14/10). Mereka memprotes penghentian pasokan air dari Telaga Sarangan untuk irigasi pertanian hingga membuat tanaman mati perlahan. ‘’Air Telaga Sarangan itu juga hak kami sebagai warga Plaosan,’’ ujar Isradi, warga Desa Buluharjo, yang juga koordinator aksi.

Dia memerinci, ada delapan desa terdampak penghentian distribusi air dari Telaga Sarngan. Yakni, Buluharjo, Dadi, Bulugunung, Puntukdoro, Sidomukti, Palosan, Pacalan, dan Sendang Agung. Sementara, total lahan terdampak mencapai 511 hektare.

Isradi menyebut, separo dari luas lahan terdampak itu tanamannya yang mayoritas jenis sayuran kering dan mati. ‘’Karena pasokan air berkurang drastis,’’ katanya.

Menurut dia, sesuai aturan, jika debit air telaga sudah lebih dari 750 liter per detik, pintu air akan dibuka. Namun kenyataannya, meski volume air Sarangan telah mencapai 800 liter per detik, petani tak kunjung mendapat pasokan air dengan dalih untuk kepentingan pariwisata. ‘’Padahal petani juga butuh,’’ tuturnya.

Pihaknya sudah tiga kali mengajukan proposal permintaan air ke Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Magetan dan BBWS Bengawan Solo. Namun, hingga kini tak mendapat respons. ‘’Akhirnya kami meminta bantuan ke kecamatan,’’ ungkapnya.

Sayang, pertemuan dengan pihak Kecamatan Plaosan kemarin belum menemukan solusi nyata. ‘’Kami tidak akan merusak fasilitas negara. Kami akan mencari air ke sumber-sumber dulu untuk sementara,’’ terang Isradi.

Camat Plaosan Edy Suntoro menyatakan bahwa hari ini pihaknya bakal memfasilitasi para petani untuk melakukan mediasi dengan DPUPR dan BBWS Bengawan Solo. ‘’Semoga nanti bisa ketemu solusi terbaik,’’ harapnya. (fat/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close