Ngawi

Agustusan, Baju Karnaval Buatan Sajad Laris Manis

Kemeriahan peringatan HUT kemerdekaan RI setiap Agustus jadi berkah bagi petani ini. Pernak-pernik Agustusan terus mengalir berkat keterampilan dan kreativitasnya di bidang seni. Salah satunya, membuat baju karnaval berbahan plastik.

—————

SUGENG DWI, Ngawi, Jawa Pos Radar Ngawi

DUDUK termenung di kursi kayu. Pria itu fokus mengamati baju anak-anak di depannya. Digantung di bambu yang tertancap tanah ruang tengahnya. Baju warna putih itu ditarik dan diluruskan berulang. Bagian bawah kain dijahit melingkar pada bambu. Agar rok terus mekar. ‘’Kalau gak diberi bambu hasilnya jelek,’’ kata Sajad.

Membuat baju karnaval jadi kesibukan Sajad beberapa pekan terakhir. Mengandalkan kantong plastik belanjaan, warga Dusun Pungon, Ringinanom, Karangjati, Ngawi, itu menyulap pakaian polos anak-anak jadi baju fashion. ‘’Kalau momen Agustusan lumayan. Kadang ada juga yang pesan mobil hias,’’ ujarnya.

Membuat baju karnaval ala Sajad tak begitu rumit. Baju yang telah dibentuk dengan bambu dihias bunga tas kresek. Caranya, kantong plastik itu dipotong bundar. Diameter sekitar 10 sentimeter. Titik tengah lingkaran ditarik ke bawah sembari diputar. Membentuk pola bunga mawar aneka warna. ‘’Kalau gak telaten memang sulit. Karena butuh banyak bunga untuk satu baju,’’ jelasnya.

Bunga plastik tersebut disatukan dengan lem tembak. Disusun berimpitan agar kain tertutup penuh bunga. Sepotong pakaian anak TK butuh 50 hingga ratusan mawar. Tas kresek yang digunakan pun berwarna-warni. Hijau, merah, biru, dan putih. Dibantu istrinya, sepotong baju diselesaikan dua hari. ‘’Bisa pakai yang bekas, tapi kadang warnanya gak terlalu cerah, jadi harus pilih-pilih,’’ bebernya.

Meski jadi pekerjaan sambilan, saban tahun Sajad tak pernah absen memeriahkan karnaval HUT kemerdekaan RI. Pria kelahiran 1974 ini juga kerap diminta menghias mobil karnaval. Pun permintaan karya seni lainnya. Seperti melukis mural di dinding lembaga taman kanak-kanak hingga permintaan melukis wajah. ‘’Tarifnya gak tentu. Karena hanya pekerjaan sambilan,’’ kata petani ini.*** (sat/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close