Pesan Pejuang

20

(Kisah sepatu Bung Hatta-Mahatma Gandhi)

SERANGKAIAN Peringatan HUT Kemerdekaan ke-74 RI telah usai dilaksanakan. Puncaknya ketika detik-detik pengibaran bendera Merah Putih pada 17 Agustus 2019. Hampir selama seminggu rangkaian peringatan telah dilaksanakan. Ada sebuah acara yang menurut saya memberi pesan yang dalam, yaitu ketika dilakukan acara silaturahmi dengan para pejuang, veteran kemerdekaan. Walaupun rata-rata sudah sepuh, tapi semangat juangnya demikian tinggi terpancar dari semangat untuk selalu hadir dalam rangkaian setiap kegiatan.

Demikian pula ketika salah seorang wakil para pejuang menyampaikan pesan kepada kita, waktu itu diwakili oleh Ketua Pepabri Kabupaten Magetan Bapak Ngalimun, menyampaikan pesan yang salah satu intinya, ”Kita semua, ketika masih aktif berdinas dalam mengemban tugas, selalu mengangkat sumpah. Tentu, sumpah itu selain disaksikan oleh mereka yang hadir yang lebih penting disaksikan Tuhan Yang Maha Esa. Bagi pejabat sekarang yang masih aktif hendaknya meresapi betul bahwa salah satu isi sumpah itu adalah tidak menggunakan jabatan itu untuk kepentingan diri sendiri, kelompok maupun golongan. Gunakan jabatan yang diemban itu untuk kepentingan masyarakat. Karena kemerdekaan dan negara ini berdiri atas pengorbanan darah dan air mata.”

Kemudian diuraikan, betapa para pejuang dahulu mengangkat senjata hanya bermodalkan bambu runcing. Tidak mengenal takut. Nyawa saja dipertaruhkan. Hanya satu yang dipikirkan, agar kemerdekaan yang telah diraih tidak jatuh kembali kepada penjajah Belanda. Sehingga anak cucu kelak tidak menderita seperti yang dialaminya. Bisa bermimpi menjadi apa saja yang menjadi cita-citanya.

Di Indonesia tidak berbeda dengan negara yang telah maju lainnya. Laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama. Bisa bermimpi menjadi apa saja. Bisa bermimpi menjadi bupati/walikota. Sudah biasa wanita di Indonesia menjadi bupati/walikota. Demikian juga menjadi gubernur, menteri bahkan presiden sekalipun. Hal demikian tidak mungkin terjadi di negara tertentu. Bermimpi saja tidak bisa. Contoh di negara Brunei, atau negara lainnya. Baru bermimpi saja tidak bisa. Misal bermimpi menjadi pimpinan negara. Pasti tidak mungkin, karena sistem kerajaan. Demikian bermimpi menjadi gubernur kalau tidak keluarga kerajaan atau mempunyai prestasi yang luar biasa tentu tidak mungkin kesampaian.

Yang diminta para pejuang dalam pesannya di acara silaturahmi tersebut salah satu adalah jaga rumah besar bangsa Indonesia ini. Bekerja dengan jujur, tanggung jawab kepada masyarakat dan tidak menyalahgunakan wewenang alias korupsi. Karena jujur bagi masyarakat Indonesia saat ini adalah sesuatu yang sangat langka. Demikian juga tidak korupsi sepertinya menjadi sesuatu yang lumrah. Malah bukan sebaliknya merupakan aib yang mesti dihindari. Karena begitu banyaknya pejabat baik eksekutif, legislatif, yudikatif bahkan masyarakat banyak ditangkap aparat penegak hukum termasuk KPK.

Kejujuran mestinya kita dalam mencari model, seperti apa tentunya tidak perlu jauh. Salah satunya adalah founding fathers. Kita tentu masih kisah Bung Hatta. Tentu kisah yang sangat fenomenal yaitu Bung Hatta dan sepatu Bally. Pada jamannya, sepatu Bally merupakan dambaan Bung Hatta untuk memilikinya. Sebagai seorang wakil presiden tentunya bukan sesuatu yang sulit mestinya untuk memilikinya.

Kalau mau menggunakan kekuasannya tentunya dengan mudah untuk minta tolong teman-temannya atau bawahnnya di berbagai kementerian. Utamanya kementerian luar negeri untuk membelikannya melalui KBRI di Swiss dimana sepatu itu diproduksi. Toh negara Swiss banyak lembaga dunia yang berada di sana dan tentunya banyak pertemuan internasional yang dilakukan di sana. Dan tentunya banyak pertemuan internasional yang diikuti oleh Indonesia pada pertemuan tersebut. Tinggal bilang saja kalau memang mau.

Anehnya, itu semua tidak dilakukan oleh Bung Hatta. Justru yang dilakukannya adalah tindakan yang tidak biasa dilakukan pejabat tinggi seperti Bung Hatta. Yang dilakukannya malahan menabung untuk guna membeli sendiri, sepatu impiannya itu. Namun setiap tabungannya cukup untuk membeli sepatu Bally, ada saja kemudian saudara atau temannya yang sangat membutuhkan uluran tangan Bung Hata. Karena anaknya sakit untuk berobat. Atau temannya sangat membutuhkan. Sehingga tabungan Bung Hatta akhirnya tidak pernah cukup untuk membeli sepatu impiannya. Malahan kemudian yang sungguh mengharukan, alamat toko sepatu impiannya tersebut tersimpan rapi di buku agenda Bung Hatta berupa iklan yang sengaja digunting. Harapannya sewaktu-waktu tabungannya cukup untuk membeli sepatu impiannya tidak sulit untuk mecari alamatnya. Akhirnya sampai dengan akhir hayatnya Bung Hatta tidak pernah bisa membeli sepatu impiannya.

Namun impian yang lain Bung Hatta sebagaimana sumpah yang pernah diucapkan “tidak akan menikah sebelum Indonesia Merdeka” terwujud. Sebagai Dwi Tunggal Sukano-Hatta, akhirnya mampu menghantarkan bangsanya mencapai cita-citanya untuk meraih kemerdekaan. Dan impian itu tidak bisa dicapai oleh Mahatma Gandhi. Tokoh spiritual dan gerakan politik India yang terkenal gerakan damai dengan filosofi Satyagraha dan Ahimsa atau gerakan anti kekerasan.

Walaupun Gandhi beragama Hindu, namun juga sangat menyukai pemikiran agama Islam, Kristen dan agama lainnya. Oleh sebab itu salah satu cita-cita dan impiannya adalah menyatukan diantaranya umat Muslim, Hindu dan agama lainnya dalam rumah besar India lepas dari penjajahan Inggris yang menjajah India lebih dari dua ratus tahun lamanya.

Namun malangnya, ketika India merdeka, Mahatma Gandhi harus melihat sebuah kenyataan bangsanya harus terpisah menjadi dua negara. Yang Muslim kemudian banyak berpindah ke wilayah sekarang Pakistan. Sedang yang beragama Hindu berpindah ke wilayah India sekarang. India yang dulunya satu ketika dalam jajahan Inggris Raya harus terpisah menjadi dua karena perbedaan agama.

Akhirnya menjadi catatan sejarah yang kelam, jutaan manusia baik Muslim maupun Hindu harus menjadi korban saling bunuh. Kemerdekaan bisa dicapai, namun saudara sebangsa harus berpisah karena perbedaan agama yang menyebabkan India menjadi negara Pakistan dan India yang sekarang. Dan Mahatma Gandhi sendiri harus meninggal ditangan Nathuram Godse warga Hindu garis keras karena tidak setuju atas pemikiran Gandhi yang selalu memperjuangkan Ahimsa atau anti kekerasan.

Kalau Bung Hatta terkenal dengan cerita sepatu Bally yang tidak pernah terbeli sampai akhir hayatnya tersebut. Sedang Mahatma Gandhi juga mempunyai cerita tentang sepatu. Suatu ketika ada seorang laki-laki melihat ada seorang laki-laki tergopoh-gopoh melonact naik kereta yang sedang berjalan. Malangnya salah satu sepatunya terjatuh. Yang dilakukan kemudian laki-laki tersebut melakukan tindakan yang tidak lazim, yaitu mencopot sepatu yang masih dikenakannya kemudian melemparkannya ke arah sepatu yang terjatuh tadi. Dengan harapan agar sepatu yang terjatuh tadi dekat dengan sepatu satunya yang dilemparkan tadi.

Akhirnya seorang laki-laki yang sejak awal memperhatikannya kemudia bertanya,”Bapak mengapa sepatunya malah dilemparkan. Bukankah dengan demikian Bapak tidak beralas kaki lagi?” Kemudian laki-laki itu menjawab,”Sepatuku yang terjatuh tadi seandainya ditemukan oleh orang saya yakin tidak akan ada manfaatnya. Oleh sebab itu mengapa kemudian saya melemparkan sepatu pasangannya yang masih saya kenakan. Agar supaya seandainya diketemukan oleh orang yang membutuhkan akan berguna. Toh seandainya sepatu yang hanya satu ini tetap saya pakai juga tidak ada gunanya karena tidak ada pasangannya. Dan kisah orang yang kehilangan sepatu tersebut adalah Mahatma Gandhi.

Dua bapak bangsa tersebut sama-sama memperjuangkan bangsanya lepas dari penjajahan. Dan keduanya sama-sama berhasil dengan kesedehanannya dan kejujurannya. Keduanya sama berhasil memerdekakan bangsanya. Keduanya sama-sama mempunyai cerita sepatu. Hanya sedikit berbeda ending-nya. Namun keduanya mempunyai kedalaman makna. Yang sungguh berbeda adalah, Mahatma Gandhi gagal mempersatukan bangsanya hidup berdampingan hidup rukun dari berbagai suku, agama. Sedang Bung Hatta berhasil mempersatukan bangsanya yang Bhinneka Tunggal Ika. Hidup damai sampai dengan usia kemerdekaan yang ke-74. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here