Pertegas Batas Wilayah sebelum Eksplorasi Panas Bumi Dimulai

72

MADIUN – Eksplorasi energi panas bumi di Kabupaten Madiun tinggal selangkah lagi. Selain karena peralatan berat mulai didatangkan di area Ponorogo yang merupakan tempat lain pengeboran.

PT Bakrie Darmakarya Energi (BDE) kian intens berkoordinasi dengan pemkab. Selain komunikasi terkait administrasi, rekanan pelaksana proyek geotermal itu diminta melakukan sosialisasi sebelum mengeksekusi. ‘’Karena ada tiga titik potensial di Mendak, Dagangan, yang bakal dieksplorasi,’’ kata Bupati Madiun Ahmad Dawami.

Sosialisasi yang diharapkan Kaji Mbing –sapaan Ahmad Dawami- adalah jaminan eksplorasi aman ke warga setempat. Tidak berdampak pada sosial dan lingkungan. PT BDE juga diminta melakukan reklamasi hutan lereng Gunung Wilis. Mengembalikan kelestarian lingkungan yang bersebelahan dengan wilayah pengeboran di Kecamatan Ngebel, Ponorogo. Juga bagaimana imbas selama aktivitas pengeborannya kelak. ‘’Akan kami tekankan ke perusahaan,’’ ujarnya.

Kaji Mbing meminta masyarakat tidak khawatir berlebihan atas proyek tersebut. Sebab, geotermal banyak manfaatnya. Meski kurang mengetahui nilai investasi yang bakal diperoleh, dia meyakini sangatlah besar. Selain itu, keberadaan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) itu kelak bisa menunjang perekonomian. ‘’Ada nilai manfaat bagi pemkab dan warga setempat,’’ tuturnya.

Diketahui, PT BDE telah membicarakan pembagian profit dengan tiga pemerintah daerah pemangku lokasi wilayah lereng Gunung Wilis pertengahan tahun lalu. Yakni, Pemkab Madiun, Ponorogo, dan Pemprov Jawa Timur. Yakni, 100 persen penghasilan PLTU dibagi menjadi dua. Yakni, 80 persen ke daerah dan 20 persen untuk operasional. Kemudian, profit yang disalurkan ke daerah itu terbelah menjadi tiga sasaran dengan akumulasi 100 persen. Ponorogo memperoleh jatah 51 persen, Kabupaten Madiun 33 persen, dan pemprov 16 persen.

Sementara, Kepala Desa Mendak Nur Cholifah bakal semakin responsif dan proaktif terkait eksplorasi panas bumi di desanya. Pihaknya akan mempertegas batas wilayah dengan Ponorogo. Mengingat lokasi pengeboran bersebelahan dengan Bumi Reyog. Di sisi lain, selama ini warganya diliputi pertanyaan tentang kejelasan proyek yang didanai APBN itu. Terutama berkaitan dampak sosial dan lingkungan. Mereka khawatir muncul kejadian yang tidak diinginkan. ‘’Kami harap dukungan pemkab selalu ada,’’ ucapnya. (cor/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here