Bupati Menulis

Perlunya Pengembangan Stasiun Magetan

BAGI siapa saja, khususnya yang tinggal di Jawa, tentu tidak asing lagi bila bepergian dengan kereta api. Saya sendiri sudah sejak kecil sudah dikenalkan naik transportasi publik ini oleh kakek dan nenek saya. Ketika saya kelas dua SD, sudah sering diajak kakek dan nenek saya pergi ke Paron sebuah kota kecamatan di Kabupaten Ngawi.

Kalau kita naik kereta api dari stasiun Barat (ketika itu) ke stasiun Paron hanya melewati satu stasiun satu kecil, yaitu stasiun Geneng. Habis stasiun Geneng baru kemudian stasiun Paron. Keretanya masih uap. Dan gerbongnya masih terbuat dari kayu. Waktu itu, kereta api betul-betul menjadi pilihan masyarakat untuk bepergian jarak jauh maupun pendek.

Malahan kelas tiga SD, sekitar tahun 1967 saya pernah diajak pergi naik kereta api paling jauh ke Banyuwangi. Bepergian ke Banyuwangi sungguh perjalanan yang sangat jauh. Yang tak terbayangkan waktu itu. Perjalanan harus ditempuh selama dua hari. Dan harus tidur dulu di Surabaya, sebelum melanjutkan kereta ke Banyuwangi. Karena perjalanan jauh, waktu itu kereta sudah memakai lokomotif disel dan gerbongnya besi.

Karena seringnya saya naik kereta api, kalau saya perhatikan setiap kota besar sepertinya mempunyai stasiun utama dan stasiun bayangan atau penyangga. Ambil contoh, kalau di Surabaya ada stasiun Gubeng, sedang stasiun penyangga stasiun Wonokromo. Kalau di Yogyakarta, stasiun utama ada di stasiun Tugu sedang stasiun bayangannya stasiun Lempuyangan. Malahan di Solo stasiun bayangan atau penyangga ada dua, Jebres dan Purwosari. Dan stasiun utamanya Solo-Balapan.

Tentu dalam perkembangan kota nantinya, stasiun-stasiun penyangga tidak berbeda fungsinya dengan stasiun utama mengingat perkembangan kota yang demikian cepat. Dan mobilitas manusia yang demikian juga cepat. Sebagaimana perkembangan kota di dunia, alat transportasi utama bagi masyarakat dan warga kota adalah kereta api.

Kita bisa lihat di kota-kota besar seperti Tokyo, London, Amsterdam, New York dan kota besar lainnya. Juga bisa kita lihat seperti Jakarta, bagaimana masyarakat sangat tergantung sekali dengan yang namanya kereta api seperti kereta komuter. Selain cepat, murah, aman juga relatif tepat waktu. Berbeda sekali dengan kendaraan bermotor roda empat yang sangat tergantung sekali pada lalu lintas jalan raya.

Tentu kalau kita melihat perkembangan transportasi publik, seperti kereta api di negara maju, suka tidak suka akan juga sampai di Indonesia. Bukti sudah ada di Jakarta. Bagaimana kereta komuter sangat menjadi andalan mobiltas masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Tentunya kota lain seperti Surabaya harusnya juga sudah ada kereta semacam komuter seperti Jakarta. Apalagi jalan kereta api di Surabaya juga membelah kota Surabaya. Baik dari arah Malang-Sidoarjo. Juga Jombang-Mojokerto-Surabaya. Maupun Bojonegoro-Lamongan-Surabaya Pasarturi. Namun sayangnya transportasi semacam komuter di Jakarta belum dikembangkan di Surabaya. Kita bisa lihat akibatnya, hampir semua masyarakat yang berkepentingan ke Surabaya, baik bekerja, kuliah, belanja dan sebagainya semuanya menggunakan kendaraan pribadi. Kecil sekali prosentasenya yang menggunakan kendaraan umum.

Belajar dari situ, untuk pengembangan transportasi publik seperti kereta api maka kita harus mulai memikirkannya sebelum terlambat. Untuk Magetan PT KAI sudah mengembangkan stasiun yang dulunya dinamakan stasiun Barat, sejak 1 Desember 2019 telah diubah menjadi stasiun Magetan. Perubahan itu juga diikuti dengan perbaikan fasilitas stasiun. Dulu stasiun masih kecil sekali. Sekarang sudah dibangun cukup megah dan memiliki halaman yang luas.

Hanya sayangnya masih beberapa saja kereta api yang singgah di stasiun Magetan. Diantara kereta yang berhenti di Stasiun Magetan adalah Singasari, Brantas, Jayakarta, Matarmaja, Kahuripan dan Sri Tanjung. Jadi masih sangat sedikit yang berhenti di Stasiun Magetan. Namun bagi saya itu sudah merupakan perkembangan yang sangat bagus untuk pengembangan ekonomi, pariwisata dan mobilitas manusia di Magetan.

Apalagi, saat ini sudah diaktifkan double track. Tentu akan memperlancar pergerakan kereta api dibandingkan sebelumnya yang masih single track. Diharapkan ketepatan, kenyamanan, keselamatan, harga tiket yang lebih unggul dari transportasi umum lainnya akan menjadikan kareta api menjadi salah satu pilihan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan akan mobilitasnya.

Unuk mengantispasi perkembangan dan kebutuhan masyarakat ke depan, maka suka tidak suka stasiun Magetan harus terus dikembangkan. Salah satu caranya adalah lingkungan stasiun Magetan harus dipermudah akses dan pengembangan lingkungannya. Sehingga keberadaan stasiun Magetan betul-betul nantinya akan sangat mendorong perkembangan ekonomi, pariwisata, dan memperlancar pergerakan manusia dan barang.

Kondisi eksisting stasiun Magetan saat ini, masih belum ideal. Jalan masuk stasiun umumnya dari depan dengan jalan yang lebar. Tidak demikian dengan stasiun Magetan. Justru jalan masuk ke stasiun dari arah samping stasiun sejajar denga rel kereta api. Sehingga stasiun kereta api tidak terlihat sama sekali dari jalan raya.

Di lingkungan stasiun, di pintu masuk saat ini ada kantor pengairan yang tanahnya miliknya Pemrov Jawa Timur. Demikian juga lingkungan stasiun sudah dipenuhi dengan rumah penduduk. Sebenarnya pintu masuk stasiun akan ideal apabila lurus dengan jalan raya antara Barat-Jiwan. Jalan raya yang menyusuri kanal atau sungai.

Banyak hal yang mesti dilakukan untuk membenahi. Oleh sebab itu perlu pembenahan-pembenahan guna mendukung keberadaan stasiun Magetan. Beberapa langkah yang akan saya lakukan adalah, pertama akan mengusahakan pembuatan jalan masuk ke arah stsiun dari arah depan. Bukan seperti sekarang ini jalan masuk dari samping. Sedang saat ini kalau jalan dibuat dari arah depan akan melewati tanah penduduk.

Langkah yang dalam waktu dekat akan saya lakukan adalah membebaskan tanah penduduk sebagian untuk jalan masuk ke arah stasiun. Dan kebetulan juga tidak terlalu panjang karena sangat dekat. Kalau saya lihat hanya sekitar lima puluh meter ke arah jalan raya Barat-Jiwan. Oleh sebab itu upaya-upaya persiapan pembebasan sudah mulai dilakukan. Baik pendekatan kepeda pemilik dan persiapan anggarannya. Mudah-mudahan semua pihak dapat mendukungnya.

Kedua, pengembangan wilayah sekitar stasiun. Yang paling mungkin adalah memaksimalkan kantor pengairan yang secara yuridis milik Pemrov Jatim. Oleh sebab itu perlu komunikasi dan koordinasi dengan pemilik lahan. Oleh sebab itu pada suatu kesempatan saya bertemu dengan Ibu Gubernur Jawa Timur. Kesempatan itu saya gunakan untuk menyampaikan gagasan saya untuk mengembangkan kawasan stasiun Magetan.

Nampaknya gayung bersambut. Setelah saya menyampaikan gagasan tersebut, Ibu Gubernur menyambut baik. Secara verbal beliau menyampaikan, sebaiknya tanah milik Pemrov yang akan digunakan pengembangan tersebut jangan diminta atau minta dihibahkan kepada Pemda Magetan. Akan tetapi dipinjam pakai saja. Salah satu pertimbangannya, kalau pinjam pakai, akan lebih mudah penyelesaian admintrasinya.

Upaya terus akan saya intensifkan untuk merealisasikan. Agar ke depan keberadaan stasiun Magetan betul-betul memberi makna bagi kemajuan Magetan. Hanya sebelum upaya-upaya tersebut direalisasikan alangkah bagusnya mulai sekarang kita meramaikan stasiun Magetan. Salah satu caranya, mari naik dan turun bila bepergian naik kereta api di stasiun Magetan.

Tanggal 13 Juli 2020 kemarin, untuk kesekian kalinya saya naik kereta api dari stasiun Magetan. Karena ada tugas ke Surabaya. Sengaja saya naik kereta api, karena kalau naik kereta api selain tepat waktu saya bisa produktif. Sebagai contoh tanggal 5 Juli 2020 saya naik kereta api ekonomi Sri Tanjung dari stasiun Magetan. Kereta berangkat jam 09.43 dan sampai di Surabaya Gubeng jam 13.13. Sedang saya belum nulis naskah untuk kolom ini. Maka dalam perjalanan saya nulis naskah. Sampai di Mojokerto naskah selesai. Segera saya kirim via email ke radaktur Jawa Pos Radar Madiun. Betapa produktifnya kita, kalau naik kereta. Dan tidak mungkin ini bisa saya lakukan kalau naik mobil. Oleh sebab itu mari naik kereta api tut….tut.

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close