Perjuangan Warga Desa Kalipelus, Kebonagung, Menghadapi Kemarau

29
DAMPAK KEMARAU: Seorang warga mengambil air bersih dari belik di Desa Kalipelus, Kebonagung, Pacitan.

Empat bulan kemarau, kelangsungan hidup sejumlah warga Desa Kalipelus, Kebonagung, Pacitan, bergantung pada sebuah belik. Sumber mata air yang jauh dari permukiman setempat.

——————- 

DENI KURNIAWAN, Pacitan, Jawa Pos Radar Pacitan

SEORANG pengendara motor melintasi jalan setapak sambil menenteng jeriken. Pemotor pria itu lantas menembus pepohonan hutan. Sebelum akhirnya berhenti dan melanjutkan perjalanannya menuju sumber air di Dusun Bibit, Kalipelus, Kebonagung, Pacitan, dengan berjalan kaki. ‘’Belik (sumber mata air di tengah ladang, Red) ini jadi jujukan warga saat kemarau,’’ kata Kabul, pemotor itu.

Debit air sumber itu tidak lagi melimpah. Dalam sebulan terakhir, volumenya terus menyusut lantaran banyak warga yang mengambilnya. Kabul harus membungkuk untuk menjangkau dasar belik ketika hendak mengisi jerikennya. ‘’Kalau datangnya pagi, debit air masih lumayan banyak karena yang datang masih sedikit,’’ ujarnya.

Selain menempuh jarak satu kilometer, warga harus rela antre berjam-jam untuk mendapatkan air bersih dari sumber. Kabul harus menunggu semalaman agar jeriken ukuran 30 liter miliknya bisa terisi. Pasalnya, belik seluas enam meter itu tidak hanya menjadi jujukan warga Dusun Bibit, tapi juga Dusun Dadapan, desa setempat. ‘’Tapi, bencana kekeringan ini memunculkan rasa kepedulian antarwarga,’’ ucapnya.

Warga Bibit mesti pandai mengatur penggunaan air bersih lantaran datangnya musim penghujan belum bisa dipastikan. Air dari belik hanya untuk masak dan minum. Sedangkan untuk mandi dan mencuci baju, mengambil air dari kolam yang kondisinya sedikit keruh. ***(cor/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here