Perjuangan Ustad Muda Agus Cahyono Memakmurkan Masjid

23

PACITAN – Suka dan duka sebagai pendakwah dirasakan Ustad Agus Cahyono. Pun  saat mengajak warga memakmurkan masjid atau musala di lingkungannya. Dengan ikhlas dan sabar, saban hari bersepeda mengunjungi warga dari rumah ke rumah untuk mengajak salat di masjid.

Pernah sekali dua Ustad Agus Cahyono mengetuk pintu kayu rumah tetangganya di Dusun Duduhan, Mentoro, Pacitan. Bukan jawaban salam atau sambutan mempersilakan masuk yang diterima. Tapi daun pintu yang dibanting. Mereka menolak mentah-mentah ajakan Agus untuk salat di masjid lingkungan setempat.

Pantang berkecil hati. Selama tiga tahun penolakan warga itu berulang diterimanya. Hingga 20 KK di lingkungan setempat sudi ke masjid untuk salat berjamaah. ‘’Itu pengalaman saya waktu pertama kali datang ke sini untuk mengajak warga salat berjamaah di masjid,’’ kenang Agus sembari ternsenyum.

Kegigihan Agus mengajak warga ke masjid layak diacungi jempol. Meski bukan minoritas, pada awal 2012 silam, hampir semua tetangga Agus enggan ke masjid. Pun di musala RT 05 RW 02 hanya digunakan setahun sekali saat Ramadan. Sibuk bekerja dan lebih senang salat di rumah jadi alasan mereka saat diajak ke masjid atau musala. ‘’Saya di sini juga pendatang, musala ini dulu hanya dipakai musiman.  Setahun sekali saat Ramadan. Prihatin melihatnya, bahkan ketua RT juga kesulitan,’’ ungkap pria kelahiran 13 Oktober 1981 ini.

Berbekal ilmu dari Ponpes Temboro, Magetan, setiap hari 10 menit jelang magrib, Agus berkunjung ke beberapa rumah di lingkungannya. Mulai dari ujung terjauh hingga paling dekat musala disambangi satu per satu. Melelahkan memang. Apalagi saat itu dia hanya dibantu tiga rekannya.

Awalnya tak mudah, Agus harus berkali-kali mengajak warga. Penolakan serta hujatan acap diterima saat singgah ke rumah tetangga. ‘’Namanya dakwah, memang banyak ujiannya. Rasulullah saja sampai dilempar batu dan kotoran. Kami Cuma mendapati pintu dibanting. Itu tergolong ringan,’’ sebut suami Wiwit Tri Rahayu ini.

Tak ingin jamaahnya protol, Agus mencoba memahami godaan yang mudah menjangkiti masyarakat saat ini. Jika tiga hari jamaahnya tak ke musala, ustad muda itu menengok ke rumahnya. Terkadang, dia membawa buah tangan saat berkunjung. ‘’Dengan bahasa alus seperti yang diajarkan para wali, mereka pun sungkan. Daripada di rumah hanya nonton televisi lebih baik ke salat di musala,’’ ujar alumnus STAINU Pacitan ini.

Tak hanya di lingkungannya, tiga hari sekali Agus bersama rekannya berkunjung ke wilayah lain untuk menengok kondisi musala yang ada. Tak jarang mereka menginap lantaran tempatnya jauh. Di daerah Jaten, Pacitan, misalnya. Ada musala bagus di sana. Namun juga sepi jamaah. Berbekal metode serupa, dalam tiga hari musala tersebut ramai dikunjungi.  ‘’Orang jawa itu enak, lembut. Saya pernah hidup di Jakarta, di sana antartetangga gak peduli,’’ pungkas Ustad Agus.*** (sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here