Perjuangan Sumiati Menyelamatkan Nyawa Bayi Cantik DW

991

MADIUN – Mata Sumiati terbelalak mengetahui bayi mungil berkulit putih tergeletak begitu saja dekat pintu kamar mandi. Darah banyak tercecer di ruangan itu. Bergerak sigap, Sumiati langsung mengangkat bayi tersebut dan membungkusnya dengan handuk.

Dibantu Sri Sugiarti, kader kesehatan setempat, bayi berjenis kelamin perempuan tersebut dibawa ke bidan Jalan Ki Ageng Selo. ‘’Tapi sampai bidan dibawa lagi ke pustu (Kanigoro, Red), sebab panik karena tidak ada peralatan yang memadai untuk menangani bayi yang masih ada tali pusarnya,’’ ujar Sumiati, warga Gang Cempaka, yang rumahnya bersebelahan dengan kos-kosan DW.

Dari Jalan Ki Ageng Selo, Sumiati dan Sri Sugiarti bergegas memacu sepeda motor menuju Pustu Kanigoro di Jalan Bhirawa Bakti. Sumiati kian panik lantaran tubuh bayi dengan panjang 46 sentimeter, berat 2,5 kilogram itu semakin pucat dan dingin. Diusapnya cairan di wajah bayi mungil itu. Dia pun sempat mendengar suara bayi tersebut mengorok. ‘’Bayinya ngorok, saya kira mungkin di tenggorokannya itu ada cairan saya usap-usap wajahnya itu. Sampai di pustu, petugas pustunya menghubungi Puskesmas Oro-Oro Ombo, setelah itu ambulans datang. Saya berdua ikut ambulans ke RSUD Kota Madiun,’’ jelasnya.

Hati Sumiati seolah hancur begitu mendengar tim medis rumah sakit pelat merah itu yang menyatakan bayi tersebut sudah meninggal dunia. Situasi berubah menjadi haru. Dikecupnya wajah bayi tersebut dan dipeluk sebagai ungkapan belasungkawa. ’’Diusap-usap nggak ada tanda-tanda hidup. Kasihan, padahal bayinya itu ayu. Irunge mbangir, lambene nyuplik wes ayu tenan, kulitnya putih sampai orang rumah sakit yang ngelihat itu pengen bawa pulang, saking ayune,’’ ungkapnya.

Sumiati mengisahkan, sudah empat tahun yang lalu mengenal DW, mahasiswi 22 tahun di salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) ternama di Kota Madiun. Persisnya sejak menjadi mahasiswa baru sampai sekarang. Rumah Sumiato berjarak dua rumah dan masuk gang kecil tidak jauh dari kos bercat merah muda dan hijau. ’’Dia lama kok ngekos disitu (Jalan Setia Budi Gang Cempaka,Red). Ada mungkin empat tahun, lawong dari masih mahasiswa baru sampai sekarang nyusun skripsi lho,’’ ujar ibu rumah tangga yang juga seorang penjahit ini.

Kebetulan, DW adalah salah satu pelanggan setianya yang kerap mempermak busana. Dia sempat bertemu DW sekitar dua bulan yang lalu sebelum DW berangkat kuliah kerja nyata (KKN). Membawa gamis yang minta untuk diperbesar ukurannya dengan dibuka jahitannya di beberapa bagian. DW sempat merasa heran, saat DW beberapa kali minta memperbesar ukuran gamis. ’’Karena sebelumnya seringnya malah ngecilin baju, kemarin minta diperbesar lagi ukuranya. Saya bilang, apa nggak  kedodoran soalnya tubuhnya itu kan kecil,’’ bebernya.

Bukan hanya itu, dia mengamati, DW mengubah penampilan busananya. Sebelumnya, dia terbiasa memakai celana jeans atau rok dengan jilbab yang dipermak seperti pada umumnya.  Namun, dua bulan terakhir menggunakan gamis panjang dengan ukuran besar dan jilbab yang menutup sebagian tubuhnya. ’’Saya gini kan, sekarang jadi ustazah mbak? pakaiannya sudah syar’i. Saya senang melihatnya terus saya bilang, kalau bisa dipertahankan ya mbak,’’ ungkapnya.

Sumiati tidak menaruh curiga jika ternyata DW hamil. Hanya saja, dia tidak menampik terakhir bertemu beberapa minggu yang lalu tubuh DW lebih berisi dan pipinya gemuk. Saat ditanya, DW bercanda dan mengatakan jika dirinya gemuk lantaran selama KKN makannya banyak. ’’Makan terus bu, makanya gemuk,’’ kata Sumiati menirukan pernyataan DW.

Sumiati sempat bertemu dengan empat orang anggota keluarga DW dari Ponorogo. Seorang darinya adalah ayah dari DW.  Setibanya di kosan, ayah DW lemas dan shock. Sumiati bersama penghuni kos lainnya pun menyarankan agar keluarga segera menyusul keberadaan DW yang sudah dilarikan ke RS Griya Husada sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Sogaten. ’’Pastinya orangtuanya ya kaget. Teman-teman kosnya itu juga nggak nyangka kalau dia (DW,Red) hamil. Malah mbak R (menyebut nama teman sekamar DW,Red) aja juga nggak tahu. Cuman katanya (mbak R, Red) pernah tahu dia (DW, Red) minum sprite di kamarnya,’’ jelasnya.

Radar Madiun sempat menelusuri ke pustu Kanigoro. Setibanya di pustu pukul 13.09 layanan sudah tutup. Wartawan koran ini lantas bertemu dengan ibu-ibu mengenakan batik korps pegawai warna biru mengendarai sepeda motor keluar dari halaman parkir pustu, hendak pulang kerja. Pegawai tersebut membenarkan kejadian di pagi Jumat (17/5). ’’Ya ada mbak, bayinya itu dibawa kesini (Pustu Kanigoro,Red) kalau nggak salah sekitar jam 09.30 – 10.00. Langsung ditangani dan hubungi puskesmas induk. Selebihnya saya nggak berani komentar mending sama petugasnya langsung,’’ terang Chandra.

Sementara itu, Kusnu pemilik kos saat ditemui wartawan koran ini enggan berkomentar banyak. ‘’Maaf sudah saya serahkan langsung ke polisi. Yang penting jam 21.00 pagar rumah sudah saya tutup,’’ ujarnya singkat.

Radar Madiun berupaya menggali informasi dari penghuni kos tersebut. Namun, beberapa jam setelah kejadian rumah kos tersebut tertutup rapat. Ada beberapa mahasiswi yang terlihat keluar kos. Namun, mereka terkesan tertutup dan memilih segera menggeber motornya, berupaya menghindar. (dil/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here