Perjuangan Sudarto, Bapaknya Anak-Anak Berkebutuhan Khusus

28
BENGKEL KETERAMPILAN: Sudarto menunjukkan hasil kreasi siswa ABK di sekolahnya.

SUDARTO tahu betul rasanya kehilangan. Bapak tiga anak ini pernah ditinggal pergi anak pertamanya yang juga berkebutuhan khusus. Yang kemudian pergi untuk selamanya 20 September 2015, di usia 18 tahun. Pengalaman pribadi itu membuatnya semakin tergerak mengajar ABK dengan setulus hati. Perjuangan pertamanya, merintis pendidikan inklusif di SMPN 1 Atap Jambon. Sebelum ke SMPN 2 Balong, dia menakhodai sekolah itu sejak 29 April 2014. Ketelatenannya sempat diganjar penghargaan nasional, 2016 silam. ‘’Pengalaman inilah yang saya terapkan di sini,’’ kata kepala SMPN 2 Balong itu.

Mengubah dan memperjuangkan sesuatu memang tak bisa instan. Semua harus melewati proses panjang. Terutama dalam menyamakan visi-misi dengan para pendidik di sekolah terkait. ‘’(Guru-guru) masih pro-kontra. Semua butuh proses,’’ ujarnya.

SMPN 2 Balong mantap merintis pendidikan khusus non-sekolah luar biasa (SLB) itu sejak tahun lalu. Faktor geografis yang melatarbelakangi lahirnya kebijakan daerah. Sekolah di Jalan Dusun Jugo, Sumberejo, itu dekat Karangpatihan, wilayah sekecamatan yang selama ini dikenal sebagai kampung idiot. ‘’Sejak turun SK (surat keputusan, Red) bupati tahun lalu, kami mulai menerima siswa ABK secara bertahap,’’ terangnya.

Sampai Juli kemarin, sekolah ini telah menerima 11 siswa ABK. Rata-rata teridentifikasi sebagai siswa yang mengalami kelambanan belajar (slow learner). ‘’Itu hanya gambaran umumnya. Kami belum bisa menjustifikasi. Perlu biaya untuk mendatangkan ahli yang bisa mendeteksi kekhususan mereka secara lebih spesifik,’’ imbuhnya.

Di luar jam kelas, 11 siswa ABK mendapatkan les tambahan. Untuk mengejar ketertinggalan pelajaran dari siswa lainnya. Juga, diajarkan keterampilan. Diajari membuat keset dan cikrak di bengkel keterampilan sekolah setempat. Pendalaman bakat dan minat itu dimaksudkan agar kelak selepas lulus sekolah bisa hidup mandiri. Karena siswa yang dicap lambat belajar, terkadang pintar di bidang non-akademik. ‘’Ada satu siswa (slow learner) yang senang bermain drum,’’ jelasnya.

Begitu menerima SK Juli 2018, Sudarto langsung berupaya mengajak anak-anak lamban belajar untuk kembali bersekolah. Perjuangannya tidak mudah. Terkendala sarana-prasarana yang belum sepenuhnya memadai di sekolah. ‘’Ada siswa tunadaksa yang sekolahnya putus di tengah jalan. Karena kedua tangannya selalu mengepal, sulit memegang pulpen. Juga kesulitan belajar, datang ke sekolah dipapah ibunya,’’ ungkap Sudarto mengisahkan kenangan tiga tahun lalu semasa dirinya belum menakhodai SMPN 2 Balong. ‘’Dia nggak naik dari kelas VII ke kelas VIII. Terus putus sekolah,’’ imbuhnya.  (dil/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here