Perjuangan KH Taufiq Nur Aziz Meneruskan Ponpes Amnaniyah Warisan Bapaknya

72

Sepeninggal Sulaiman Toha, KH Taufiq Nur Aziz punya tanggung jawab berat melanjutkan mengurus Ponpes Amnaniyah yang dibangun bapaknya pada 1964 silam. Status anak sulung sempat membuatnya ragu meninggalkan keluarga demi menuntut ilmu agama di kota perantauan.

——————————————

DENI KURNIAWAN, Ngawi

SOSOK yang mengenakan kopiah dan kemeja putih itu duduk di tengah sekumpulan santri. Mereka serius menyimak materi keagamaan yang disampaikan KH Taufiq Nur Aziz. Tidak berselang lama, giliran pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Amnaniyah II itu mendengarkan para santri melafalkan ayat-ayat Alquran. ‘’Setiap selesai salat selama Ramadan jadwalnya ngaji weton,’’ kata Taufiq.

Ponpes Amnaniyah II berada di Dusun Bangon, Desa/Kecamatan Karangjati, didirikan Juni 2007 silam. Pesantren yang dihuni 400 santri mukim putra dan putri ini adalah pengembangan Ponpes Amnaniyah I di Dusun Talok, Desa Puhti, Karangjati. Bangunan pondoks yang pertama itu sudah tidak cukup menampung para santri. ‘’Perjuangan dalam mengembangkannya sangat panjang,’’ klaim pria 51 tahun tersebut.

Start waktu Taufiq menimba ilmu agama mungkin berbeda dengan para pengasuh pondok umumnya. Bila yang lain merantau setelah menamatkan SD atau SMP sembari mengisi hari-harinya dengan kegiatan ponpes. Dia baru melakukannya lulus SMA pada 1986. Pun meski tumbuh di keluarga yang relijius, Taufiq memilih konsen dengan pelajaran kurikulum. Ikhtiarnya mendalami ilmu agama muncul setelah Sulaiman Toha, bapaknya meninggal dunia di tahun yang sama dengan kelulusan SMA-nya. Dia diberi amanat agar meneruskan mengurus pondok yang didirikan 1964 silam. ‘’Karena bapak yang merintis,’’ ungkapnya.

Tujuan pertama Taufiq adalah Ponpes KH Hasyim Asy’ari di Ponorogo. Namun, hanya setahun di sana, dia memutuskan kembali ke Karangjati. Berstatus sebagai anak sulung membuatnya tidak bisa tidur nyenyak.  Kepikiran kondisi keluarga di rumah. Namun, Taufiq kembali memutuskan untuk mondok setelah diingatkan ibunya tentang amanat bapaknya. ‘’Saya mondok ke Ponpes Fathul Huda Demak. Diasuh KH Ma’shum Mahfudzi selama tujuh tahun,’’ beber bapak dua anak tersebut.

Suami Nurhayati ini berterus terang kepada Ma’shum tentang kondisi hidupnya. Perjalanannya ke Demak dengan modal uang secukupnya. Keinginannya menimba ilmu yang sangat kuat, terbentur kondisi ekonomi keluarga pas-pasan. Kejujuran tersebut membuat pemilik pondok luluh. ‘’Saya mondok sambil nderek dalem mengurusi segala urusannya pondok,’’ kenangnya sembari menyebut rutinitas khusus selama mondok adalah mengecek jebakan udang di tambak pukul 03.00.

Pada 1994, Taufiq kembali ke kampung halaman dengan semangat juang melanjutkan mengurus pondok. Akan tetapi, kondisi pesantren warisan bapaknya itu sangat mengenaskan. Hanya satu dari beberapa ruangan masih bisa difungsikan mengaji. Sedangkan lainnya bisa membahayakan keselamatan. ‘’Pelan-pelan sesuai kemampuan menghidupkan lagi pondok,’’ ujarnya.

Dari sekian banyak ilmu dan pengalaman yang diperoleh dari mondok di Demak, Taufiq memegang teguh prinsip tidak melawan arus kebudayaan dengan agama dalam menghidupkan pondoknya. Misalnya, tradisi selamatan dan nyadran yang dinilai selaras antara budaya dan ajaran Islam. ‘’Selama tidak bertentangan dengan syariat, budaya itu harus dirangkul,’’ tuturnya.

Prinsip tersebut membuat syiar Islam yang diusung Taufiq berkembang dari waktu ke waktu. Tiga pilar utama pendidikan diterapkan. Yakni, aqidah, fiqih syariat, dan akhlak tasawuf. Juga kajian khusus seperti ngaji weton dan ngaji balahan. ‘’Dalam ngaji balahan ustad akan memberikan referensi kitab tertentu kepada santri dalam satu periode,’’ terangnya. ***(cor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here