Perjuangan Fuad Dkk Membuat Film The Journey to Negeri Ngawi Ramah

58
SINEAS: Fuad bersama tim produksi The Journey to Negeri Ngawi Ramah menunjukkan penghargaan Apkasi Film Festival 2019.

Fuad M. Fahmi dkk sejatinya bukanlah sineas. Namun, The Journey to Negeri Ngawi Ramah yang pembuatannya melibatkan 11 orang ini mampu berbicara banyak di tingkat nasional. Film pendek itu meraih penghargaan Apkasi Film Festival 2019.

——————— 

DENI KURNIAWAN, Ngawi

SEORANG pria meng-klik-kan helm di atas motor kustom. Kacamata hitam dari saku kemeja lantas dipakainya. Kemudian meluncur melewati gapura perbatasan Jawa Timur dengan Jawa Tengah. Sebelum akhirnya berhenti di Benteng Van den Bosch, Ngawi.

Perjalanan tersebut adalah bagian awal The Journey to Negeri Ngawi Ramah. Sebuah film pendek dengan sineas sejumlah pejabat Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Ngawi. Film berdurasi 15 menit itu meraih penghargaan dari Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) Film Festival 2019. ‘’Sebagai video favorit pilihan penonton,’’ kata Fuad M. Fahmi, sutradara film.

The Journey to Negeri Ngawi Ramah yang diunggah ke akun YouTube menarik antusiasme masyarakat. Selama sepekan sejak diunggah 31 Juni lalu, film itu disukai 1.400 warganet. Ada 11 orang yang terlibat penggarapan dengan sembilan orang di balik layar dan dua aktornya. Meski berdurasi singkat, proses produksi film untuk kegiatan Apkasi Otonomi Expo 2019 itu butuh proses panjang dan tidak gampang. Sebab, tema kekinian yang diusung harus mengangkat potensi lokal Bumi Orek-Orek. ‘’Tema dari panitia Jago Kandang Taklukkan Dunia,’’ sebutnya.  

Proses panjang itu meliputi banyaknya lokasi pengambilan gambar. Mulai Benteng Pendem –nama lain Benteng Van den Bosch–, Waduk Pondok, Museum Trinil, Monumen Suryo, hingga rumah peninggalan dr KRT Radjiman Wediadiningrat di kebun teh Jamus. ‘’Total ada tujuh lokasi yang pembuatannya memakan waktu sekitar satu setengah bulan,’’ ujar kabid Pengelolaan Komunikasi Publik Diskominfo Ngawi itu.

Waktu 90 hari diawali Fuad dkk untuk berdiskusi benang merah film. Berbagai ide berkelebatan di dalam kepala para anggota tim produksi. Misalnya, adegan turun dari pesawat yang harus dicoret dari daftar ide menimbang durasi waktu yang terbatas. ‘’Di awal kami sangat tidak siap, apalagi ketika ada tambahan ide menambah aktor perempuan sebagai bumbu,’’ katanya seraya menyebut dua pemeran film diambil dari aparatur sipil negara (ASN) Ngawi.

Ide dan take-shoot beres, namun Fuad dkk masih dibuat berkeringat di proses editing. Sebab, pada tahapan itu baru ketahuan ada adegan yang kurang. Alhasil, tim harus mengambil ulang gambar sebanyak tiga kali. ‘’Melelahkan tapi seru. Senang kalau karya kami disukai sampai dapat penghargaan,’’ ungkapnya.

Fuad dkk patut bangga dengan prestasi itu. Sebab, membuat film pendek adalah sesuatu yang baru, kendati keseharian tak lepas dari urusan penyebaran informasi lewat video. ‘’Prosesnya singkat tapi hasilnya maksimal,’’ ucapnya. ***(cor/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here