Pacitan

Perjuangan Ema Dian Pratiwi Mewakili Jatim dalam MTQ Nasional

PACITAN – Keterbatasan fisik bukan penghalangi untuk mengejar cita-cita. Bersunguh-sungguh dan tak mudah mengeluh jadi resep ampuh menggapai mimpi. Ema Dian Pratiwi milsanya. Gadis tunanetra ini fasih membaca Alquran hingga mewakili Jawa Timur dalam MTQ nasional.

Lantunan ayat suci Alquran merdu terdengar dari sudut ruang kelas SDLB Yayasan Keluarga Kependidikan (YKK) Pacitan pagi itu. Surat An-Naba’ fasih dibaca. Di tengah ruangan, Ema Dian Pratiwi duduk sembari meraba Alquran braile dan terus melantunkan ayat-ayat suci. Sejak kecil gadis kelas VI tersebut tak dapat melihat lantaran saraf penglihatannya terganggu.

Keinginan kuat Ema belajar Alquran tertanam sejak belia. Kira-kira dua tahun lalu, saat masih duduk di bangku kelas IV. Dia tak mudah menyerah untuk bisa mengaji. Berbekal bimbingan pihak sekolah bersama seorang rekannya, liburan semester dihabiskan di Semarang untuk belajar membaca Alquran braile. ‘’Seminggu pertama saya habiskan untuk belajar iqra’-nya. Meinggu kedua langsung Alquran,’’ tutur gadis kelahiran 11 Mei 2000 itu.

Bagi Ema membaca Alquran braile tak ubannya buku braile umumnya. Kitab tersebut telah dialihhurufkan ke alfabet sebelum dicetak. Bedanya, penambahan tanda seperti fatkah, kasrah hingga dhomah, sempat membuatnya bingung pada awal belajar. Perlahan, dibantu guru mengajinya, kini dia fasih membaca Alquran braile.

Bahkan sempat menyabet juara II Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Provinsi Jawa Timur 2018. Selepas seleksi tambahan, warga dusun Selare, Bangunsari, Pacitan, itu terpilih mewakili Jatim tampil di MTQ Nasional Bangka Belitung. ‘’Dulu sebelum bisa baca Alquran braile saya belajarnya hafalan. Mendengarkan orang lain membaca lalu saya tirukan,’’ kenang putri pasangan Poniran dan Sutiyem itu.

Gadis yang bercita-cita menjadi guru itu pantang putus asa dengan keterbatasannya. Baginya hal jadi pelecut semangatnya dalam menggapai cita-cita. Pun wajah semringah selalu ditampilkan saat bertemu siapa saja. ‘’Pingin jadi guru, karena guru itu yang ngajari kita supaya pandai,’’ pungkas Ema.*** (sugeng dwi/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close