Perjuangan Bendit Bangun Bisnis Properti, Lewati Jalan Penuh Liku

84

SOSOK Bendit Nana Sambodo saat ini namanya cukup diperhitungkan di dunia properti Magetan. Bahkan, sayap bisnisnya telah merambah hingga Wonogiri dan Jogjakarta. Namun, tak mudah baginya untuk meraih kesuksesan itu. Jalan berliku mesti dilalui. Pun, dia sempat kena tipu penjual genting. ‘’Pengalaman buruk saya waktu membangun perumahan yang pertama,’’ ungkapnya.

Mulanya tak ada yang aneh dengan genting yang dipesannya. Sepuluh rumah pertama tidak ada masalah. Baru pada lima rumah berikutnya, persoalan muncul. Tak sampai setahun, genting sudah retak. Jelas saja, pemilik rumah marah dan kecewa. Bendit pun harus mengganti genting lima rumah tersebut dengan yang baru. ‘’Itu jadi pengalaman supaya lebih teliti dalam bekerja,’’ terang pria kelahiran 2 Oktober 1985 ini.

Bendit terjun ke dunia properti berawal dari ketidakkesengajaan. Pada 2009 lalu, dia diajak seorang temannya mendirikan CV di bidang konstruksi. Pekerjaan yang ditanganinya adalah jalan dan gedung sekolah.

Tahun pertama, CV itu seakan mati suri. Tidak ada pekerjaan sama sekali yang ditanganinya. Baru di tahun kedua usahanya mulai menggeliat, meski hanya mendapat satu proyek. ‘’Memang tidak mudah, harus ada link untuk bisa mendapatkan proyek,’’ ungkap ayah dua anak itu.

Nasib baik mulai menghampiri pada 2012. Banyak pekerjaan yang ditanganinya. Namun, bekerja dengan skema bisnis yang menggunakan duit negara membuatnya tidak nyaman. Prosesnya sangat ketat dan mendapatkan pengawasan. Belum lagi ada intenvensi politik yang diterimanya.

Bendit sempat berniat ingin berhenti dan ganti usaha. Namun, setelah dipertimbangkan masak-masak, dia mengurungkan niatnya dan tetap fokus pada usaha bidang konstruksi. ‘’Akhirnya saya beranikan nge-sub proyek perumahan,’’ kata warga Desa Tapen, Lembeyan, ini.

Namun, bukan berarti permasalahan usai. Setelah rumah yang dibuatnya jadi, dia tak kunjung mendapatkan bayaran. Dari situ, pada 2015 Bendit akhirnya berinisiatif mendirikan perusahaan properti sendiri. ‘’Tahun pertama hanya satu yang laku. Itupun yang beli teman sendiri,’’ kenangnya.

Tak patah semangat, Bendit lantas mengikuti berbagai seminar dan berguru ke ponpes properti di Jogjakarta. Sepulang dari sana, gudang yang sebelumnya ditempatkan di depan perumahan, akhirnya dipindah ke belakang. Jalan menuju perumahan juga diperbaiki dan gerbang depan dipaving agar terlihat megah. ‘’Setelah saya terapkan, sold out,’’ ungkapnya.

Saat ini Bendit tengah mengerjakan proyek perumahan di Ngariboyo. Ada 140 unit rumah yang dijualnya, baik subsidi maupun komersil. Dalam mengembangkan usahanya itu, dia menerapkan sistem kemitraan bersama teman-teman alumni ponpes properti. Alhasil, dengan modal hanya Rp 300 juta, Bendit bisa membangun perumahan. ‘’Karena tanahnya bisa tempo. Uang muka dulu, sisanya kemitraan investor,’’ katanya.

Memiliki usaha sendiri sudah disarankan orang tuanya sejak Bendit kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Ayahnya selalu memberi nasehat agar dia bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Bukan bekerja pada orang. Jika tidak bisa menciptakan pekerjaan, lebih baik ikut ayahnya bertanam tebu.

Pesan itu selalu diingatnya. Alhasil, usaha propertinya terus berkembang dan kini memiliki lebih dari 50 karyawan. ‘’Dulu nasehat itu seperti mlebu kuping kiwa, metu kuping tengen. Baru sekarang saya rasakan betul manfaatnya,’’ ucapnya. (bel/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here